Islam Institute – Dajjal – Pengantar Redaksi :
Soal Dajjal, banyak orang pada akhirnya akan sangat lalai memperhatikannya.
Manusia akan lupa siapa Dajjal, yang mana sosok ini dulu umat Islam
pernah sangat mengenalnya lewat ciri-ci-cirinya. Ya benar, kita sudah
mengenal Dajjal, karena Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam
jauh-jauh hari, bahkan sejak 1.400 tahun yang lalu sudah memperkenalkan
Dajjal kepada ummatnya.
Bahwa Dajjal adalah sebagai sosok buta sebelah matanya, dan penyebar fitnah yang paling dahsyat di muka bumi yang akan muncul di
akhir zaman.
Fitnah Dajjal sebenarnya merupakan rangkaian fitnah yang
sejak lama ada, disebarkan melalui fitnah yang terjadi di antara manusia
yang telah diperdaya oleh hawa nafsunya sendiri. Bahkan Nabi saw
memperingatkan bahwa kelompok umat Nabi Muhammad yang tidak hanyut dalam
pusaran
fitnah sesama manusia akan selamat pula dari fitnah Dajjal di akhir zaman.
Rangkaian segala fitnah yang pernah ada di dunia saling berkaitan dari zaman ke zaman dan akan hadir mengkondisikan dunia semakin gonjang-ganjing menghadapi
fitnah Dajjal.
ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ
فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا
نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا
صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ
Suatu ketika ihwal Dajjal disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari
fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum
fitnah Dajjal
melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal), dan tiada fitnah yang
dibuat sejak adanya dunia ini – baik kecil ataupun besar – kecuali untuk
fitnah Dajjal.” (HR. Ahmad 22215)
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”مَا
أَهْبَطَ اللَّهُ إِلَى الأَرْضِ مُنْذُ خَلَقَ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ
السَّاعَةُ فِتْنَةً أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ
“Allah tidak menurunkan ke muka bumi fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal.”
(HR. Thabrani 1672)
Justeru
ketika kebanyakan manusia telah lalai dan tidak peduli akan Dajjal, kemunculan Dajjal sebagai “sosok jasmani” yang mengaku Tuhan sungguh mengagumkan bagi kebanyakan manusia. Terlebih
Dajjal memiliki kemampuan yang luar biasa, sanggup menciptakan, mematikan dan menghidupkan,
bahkan di tangan kanannya mempertontonkan kenikmatan surga dan tangan
kirinya ada intimidasi dan horror sangat menakutkan bagi manusia yaitu
neraka. Semuanya untuk menebar fitnah dan kekacauan akhir zaman.
Pada saat itu manusia lupa akan pengetahuan tentang sosok Dajjal yang pernah dikenalnya, sedemikian rupa sehingga bila ada yang memperingatkan
soal Dajjal, maka mereka mentertawakannya dan sinis cenderung menganggapnya sekedar mitos atau legenda.
Maka betapa manusia terlena dan terpedaya oleh Dajjal.
لَا يَخْرُجُ الدَّجَّالُ حَتَّى يَذْهَلَ النَّاسُ عَنْ ذِكْرِهِ وَحَتَّى تَتْرُكَ الْأَئِمَّةُ ذِكْرَهُ عَلَى الْمَنَابِرِ
“Dajjal tidak akan muncul sehingga sekalian manusia telah lupa untuk mengingatnya dan sehingga para Imam tidak lagi menyebut-nyebutnya di atas mimbar-mimbar.” (HR. Ahmad 16073)
Nah…. Siapakah sebenarnya Dajjal? Siapa kelak yang akan menjadi pengikut Dajjal sehingga terpedaya masuk ke surga Dajjal? Dan apakah Dajjal itu seorang manusia, ataukah dia termasuk makhluk setan atau jin, ataukah
raksasa sehingga di tangannya terdapat surga dan neraka? Untuk lebih jelasnya
marilah kita simak kajian ilmiyah soal Dajjal yang dipresentasikan oleh utadz Ibnu Abdillah Al Katiby
Data Mengejutkan : Wahabi adalah pengikut dajjal kelak
Kemunculan Dajjal merupakan puncak dari munculnya fitnah
paling besar dan mengerikan di muka bumi ini bagi umat manusia khususnya
umat Muslim. Kemunculannya di akhir zaman,
di masa imam Mahdi dan Nabi Isa ‘alaihis salam,
akan banyak mempengaruhi besar bagi umat muslim sehingga banyak yang
mengikutinya kecuali orang-orang yang Allah jaga dari fitnahnya.
Dalam hadits disebutkan :
قام رسول الله صلى الله عليه و سلم في الناس فأثنى على الله بما هو
أهله، ثم ذكر الدجال فقال: ” إني لأنذركموه، وما من نبي إلا وقد أنذر قومه
“ Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan manusia dan memuji keagungan Allah, kemudian
beliau menyebutkan Dajjal lalu mengatakan : “ Sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan dajjal, tidak ada satu pun seorang nabi, kecuali telah memperingatkan umatnya akan
dajjal “. (
HR. Bukhari : 6705)
Dalam hadits lain, Nabi bersabda :
ليس من بلد إلا سيطؤه الدجال
“ Tidak ada satu pun negeri, kecuali akan didatangi oleh dajjal “. (
HR. Bukhari : 1782)
Pada kesempatan ini,
saya tidak menjelaskan sepak terjang dajjal, namun saya akan sedikit membahas sebagian kaum yang menjadi pengikut dajjal.
Dan kali ini, saya tidak mengungkap semua kaum yang mengikuti dajjal,
namun saya akan menyinggung satu persoalan yang cukup menarik yang telah
diinformasikan oleh nabi bahwa ada kelompok umatnya yang akan menjadi pengikut setia dajjal, padahal sebelumnya mereka ahli ibadah bahkan ibadah mereka melebihi ibadah
umat Nabi Muhammad lainnya,
mereka rajin membaca al-Quran, sering membawakan hadits Nabi, bahkan mengajak kembali pada al-Quran.
Namun pada akhirnya mereka menjadi pengikut dajjal, apa yang
menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut setianya
? simak uraiannya berikut :
Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إنَّ مِن بعْدِي مِنْ أُمَّتِي قَوْمًا يَقْرَؤُنَ اْلقُرآنَ لاَ
يُجَاوِزُ حَلاَقِمَهُمْ يَقْتُلُوْنَ أَهْلَ اْلإسْلاَمِ وَيَدَعُوْنَ
أَهْلَ اْلأَوْثَانِ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ اْلإسْلاَمِ كمَا يَمْرُقُ
السَّهْمُ مَنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ
قَتْلَ عَادٍ
“ Sesungguhnya
setelah wafatku kelak akan ada kaum yang pandai membaca al-Quran tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka.
Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala,
mereka lepas dari Islam seperti panah yang lepas dari busurnya
seandainya (usiaku panjang dan) menjumpai mereka (kelak), maka aku akan
memerangi mereka seperti memerangi (Nabi Hud) kepada kaum ‘Aad “.(
HR. Abu Daud, kitab Al-Adab bab Qitaalul Khawaarij : 4738)
Nabi juga bersabda :
سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى اخْتِلاَفٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ
الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ
تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ
الرَّمِيَّةِ لاَ يَرْجِعُونَ حَتَّى يَرْتَدَّ عَلَى فُوقِهِ هُمْ شَرُّ
الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ
إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ
كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا
سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ
“ Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan,
mereka membaca Al-Quran
tetapi tidak melewati kerongkongan, mereka lepas dari Islam sebagaimana
anak panah lepas dari busurnya, mereka tidak akan kembali (pada Islam)
hingga panah itu kembali pada busurnya. Mereka seburuk-buruknya makhluk.
Beruntunglah orang yang membunuh mereka atau dibunuh mereka. Mereka
mengajak pada kitab Allah tetapi justru
mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran.
Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik
di sisi Allah dari mereka “, para sahabat bertanya “ Wahai Rasul Allah,
apa cirri khas mereka? Rasul menjawab “ Bercukur gundul “.
(Sunan Abu Daud : 4765)
Nabi juga bersabda :
سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ
سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ
يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ
الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا
لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ
قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَة
“ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda,
berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca
Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka
keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya,
maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena
memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.
(HR. Imam Bukhari 3342)
Dalam hadits lain Nabi bersabda :
يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ
تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ
آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ
“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka.
Tiap kali Qarn (kurun / generasi) mereka putus, maka muncul generasi
berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “
(Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim
di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)
Ketika sayyidina Ali dan para pengikutnya selesai berperang di Nahrawain, seseorang berkata :
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَبَادَهُمْ وَأَرَاحَنَا مِنْهُمْ
“ Alhamdulillah yang telah membinasakan mereka dan mengistirahatkan kita dari mereka “, maka sayyidina Ali menyautinya :
كَلاَّ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ مِنْهُمْ لَمَنْ هُوَ فِي
أَصْلاَبِ الرِّجَالِ لَمْ تَحْمِلْهُ النِّسَاءُ وَلِيَكُوْنَنَّ
آخِرَهُمْ مَعَ اْلمَسِيْحِ الدَّجَّال
“ Sungguh tidak demikian, demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya
akan ada keturunan dari mereka yang masih berada di sulbi-sulbi ayahnya dan kelak keturunan akhir mereka akan bersama dajjal “.
Penjelasan :
Dalam hadits di atas Nabi menginformasikan pada kita
bahwasanya akan ada sekelompok manusia dari umat Nabi yang lepas dari
agama Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya dengan
sifat dan ciri-ciri yang Nabi sebutkan dalam hadits-haditsnya di atas sebagai berikut :
1. Senantiasa membaca al-Quran, Namun kata Nabi bacaanya tidak sampai melewati tenggorokannya artinya tidak membawa bekas dalam hatinya.
2. Suka memerangi umat Islam.
3. Membiarkan orang-orang kafir.
4. Memperbagus ucapan, namun parkteknya buruk.
5. Selalu mengajak kembali pada al-Quran, namun sejatinya al-Quran berlepas darinya.
6. Bercukur gundul.
7. Berusia muda.
8. Lemahnya akal.
9. Kemunculannya di akhir zaman.
10. Generasi mereka akan terus berlanjut dan eksis hingga menajdi pengikut dajjal.
Jika kita mau mengkaji, meneliti dan merenungi data-data
hadits di atas dan melihat realita yang terjadi di tengah-tengah umat
akhir zaman ini, maka sungguh sifat dan cirri-ciri yang telah
Nabi sebutkan di atas, telah sesuai dengan kelompok yang selalu teriak
lantang kembali pada al-Quran dan hadits, kelompok yang senantiasa
mempermaslahkan urusan furu’iyyah ke tengah-tengah umat, kelompok yang
mengaku mengikut manhaj salaf, kelompok yang senantiasa membawakan
hadits-hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yaitu tidak ada lain
adalah wahhabi yang sekarang bermetomorfosis menjadi salafi.
Membaca al-Quran dan selalu membawakan hadist-hadits Nabi
adalah perbuatan baik dan mulia, namun kenapa Nabi menjadikan hal itu
sebagai tanda kaum yang telah keluar dari agama tersebut??
Tidak ada lain, agar umat ini tidak tertipu dengan slogan dan perilaku
mereka yang seakan-akan membawa maslahat bagi agama Islam.
Ciri
mereka yang suka memerangi umat Islam, tidak samar dan tidak diragukan
lagi, sejarah telah mencatat dan mengakui sejarah berdarah mereka di
awal kemuculannnya, ribuan umat Islam dari kalangan awam maupun
ulamanya telah menjadi korban berdarah mereka hanya karena melakukan
amaliah yang mereka anggap perbuatan syirik dan kufr dan dianggap telah
menentang dakwah mereka. Namun dengan musuh Islam yang sesungguhnya,
justru mereka biarkan bahkan hingga saat ini mereka akrab dengan kaum
kafir, adakah sejarahnya mereka memerangi kaum kafir??
Ciri berikutnya adalah memperbagus ucapan namun prakteknya buruk. Mereka
jika berbicara dengan lawannya selalu mengutarakan ayat-ayat al-Quran
dan hadits, namun ucapanya tersebut tidaklah dinyatakan dalam
prakteknya, kadang mereka membaca mushaf al-Quran pun sambil tiduran
tanpa ada adabnya sama sekali.
Ciri berikutnya adalah mereka senantiasa berkoar-koar kepada kaum muslimin lainnya agar kembali pada al-Quran. Tanda
mereka ini sangat nyata dan kentara kita ketahui pada realita saat ini,
kaum wahabi selalu teriak kepada kaum muslimin untuk kembali pada
Al-Quran.
Ahlus sunnah selalu mengajak pada Al-Quran karena ajaran mereka memang
bersumber dari Al-Quran, namun kenapa Allah menjadikan sifat ini sebagai
tanda pada kaum neo khawarij (wahabi) ini?? Sebab
merekalah
satu-satunya kelompok yang dikenali di kalangan awam yang selalu teriak
mengajak pada Al-Quran sedangkan Al-Quran sendiri berlepas diri dari
mereka. Sehingga hal ini (yad’uuna ilaa kitabillah; mengajak
kepada Al-Quran) menjadi tanda atas kelompok ini bukan pada kelompok
khawarij lainnya.
Tanda mereka adalah bercukur gundul. Hal ini menambah keyakinan kita bahwa
yang dimaksud oleh Nabi dalam tanda ini adalah tidak ada lain kelompok wahabi. Tidak ada satu pun kelompok ahli bid’ah yang melakukan kebiasaan dan melazimkan mencukur gundul selain
kelompok wahabi
ini, mereka kelompok sesat lainnya hanya bercukur gundul pada saat
ibadah haji dan umrah saja sama seperti kaum muslimin Ahlus sunnah.
Namun
kelompok wahabi ini menjadikan mencukur gundul ini suatu kelaziman bagi pengikut mereka kapan pun dan dimana pun. Bercukur gundul ini pun telah diakui oleh
Tokoh mereka; Abdul Aziz bin Hamd (cucu Muhammad bin Abdul Wahhab) dalam kitabnya Majmu’ah Ar-Rasaail wal masaail : 578.
Cirri berikutnya adalah berusia muda dan akalnya lemah.
Mereka pada umumnya masih berusia muda tetapi lemah akalnya, atau itu
adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang
berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As
Sunnah.
Subyektivitas dengan daya dukung pemaham yang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri.
Sebab-Sebab Manusia Jadi Pengikut Dajjal
Kemunculan kaum ( Wahabi ) ini ada di akhir zaman sebagaimana
hadits Nabi di atas, kemudian generasi mereka juga akan terus berlanjut
hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal menjadi pengikut setianya. Namun
apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut dajjal ?? Berikut kajian dan analisa ilmiyyahnya :
Sebab pertama : Wahabi beraqidahkan tajsim dan tsyabih.
Sudah maklum dalam kitab-kitab mereka bahwa mereka meyakini
Allah itu memiliki organ-organ tubuh seperti wajah, mata, mulut, hidung,
tangan, kaki, jari dan sebagainya, dan mereka mengatakan bahwa organ tubuh Allah tidak seperti organ tubuh makhluk-Nya.
Mereka juga meyakini bahwa Allah bertempat yaitu di Arsy, mereka juga
memaknai istiwa dengan bersemayam dan duduk dan menyatakan semayam dan duduknya Allah tidak seperti makhluk-Nya. Mereka meyakini
Allah turun ke langit dunia dari atas ke bawah di sepertiga malam terakhir, dan meyakini bahwa ketika Allah turun maka
Arsy kosong dari Allah
namun menurut pendapat kuat mereka Arsy tidak kosong dari Allah.
Sungguh mereka telah memasukkan Allah dalam permainan pikiran mereka
yang sakit itu. Dan lain sebagainya dari
pensifatan mereka bahwa Allah berjisim….
Nah, demikian juga
dajjal, renungkanlah kisah dajjal yang disebutkan oleh Nabi dalam hadts-hadits sahihnya,
bahwasanya dajjal itu berjisim, berorgan tubuh, memiliki batasan, dia berjalan secara hakikatnya, dia turun secara hakikatnya,
dia berlari kecil secara hakikatnya, dia memiliki kaki secara hakikat,
memiliki tangan secara hakikat, memiliki mata secara hakikat, memiliki
wajah secara hakikat dan lain sebagainya..dan tidak ada lain yang
menyebabkan mereka mengakui dajjal sebagai tuhannya kecuali karena
berlebihannya mereka di dalam menetapkan sifat-sifat Allah tersebut dan
memperdalam makna-maknanya hingga sampai pada derajat tajsim.
Perhatikan dan renungkan sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut :
إني حدثتكم عن الدجال، حتى خشيت أن لا تعقلوا ، إن المسيح الدجال قصير
أفحج ، جعد أعور ، مطموس العين ، ليست بناتئة ، ولا جحراء ، فإن التبس
عليكم ، فاعلموا أن ربكم ليس بأعور
“ Sesungguhnya aku ceritkan pada kalian tentang dajjal, karena aku khawatir kalian tidak bisa mengenalinya, sesungguhnya
dajjal itu pendek lagi congkak, ranbutnya keriting (kribo), matanya buta sebelah dan tidak menonjol dan cengkung,
jika kalian masih samar, maka ketahuilah sesungguhnya Tuhan kalian tidaklah buta sebelah matanya “.
(HR. Abu Dawud)
Nabi benar-benar khawatir umatnya tidak bisa mengenali
dajjal, dan Nabi menyebutkan cirri-ciri dajjal yang semuanya itu
bermuara pada jisim, dan menyebutkan aib-aib yang disepakati oleh kaum musyabbih dan sunni yang mutanazzih, namun
kaum musyabbihah (wahabi-salafi)
sangat mendominasi pada pemikiran tajsimnya sehingga bagi mereka Allah
Maha melakukan apapun, dan Allah maha Mampu atas segala sesuatu, bahkan
menurut mereka kemampuan Allah memungkinkan berkaitan dengan perkara
yang mustahil bagi-Nya yang seharusnya kita sucikan, sehingga berkatalah
sebagian mereka : Bahwa Allah jika berkehendak untuk bersemayam di
punggung nyamuk, maka Allah pun akan bersemayam di atasnya. Naudzu
billahi min dzaalik..
Sebab kedua : Tidak adanya pehamahan mereka tentang perkara-perkara di luar kebiasaan (khawariqul ‘aadah) atau disebut karomah.
Realita yang ada saat ini, kaum wahhabi-salafi tidak pernah
membicarakan tentang khawariqul ‘aadah atau karomah, bahkan mereka
mengingkari karomah-karomah para wali Allah yang disebutkan
oleh para ulama hafidz hadits seperti al-Hafidz Abu Nu’aim dalam kitab
hilyahnya, imam Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikhnya dan lainnya,
bahkan mereka memvonis kafir kepada sebagian para wali Allah yang
mayoritas ahli tasawwuf. Mereka tidak bisa mencerna karomah-karomah para
wali yang ada sehingga tidak mempercayai imdadaat ruhiyyah (perkara
luar biasa yang bersifat ruh) yang Allah berlakukan di tangan para
wali-Nya yang bertaqwa sebagai kemuliaan Allah atas mereka.
Sedangkan dajjal akan datang dengan kesaktian-kesaktian yang
lebih hebat dan luar biasa sebagai fitnah bagi orang yang Allah
kehendaki, menumbuhkan tanah yang kering, menurunkan hujan,
memunculkan harta duniawi, emas, permata, menghidupkan orang yang mati
dan lain sebagainya, sedangkan kaum wahhabi tidak perneh membicarakan
khawariqul ‘aadat semacam itu, sehingg akal mereka tidak mampu
membenarkannya, oleh sebab itu
ketika dajjal muncul dengan membawa khowariqul ‘aadat semacam itu disertai pengakuan rububiyyahnya, maka
bagi wahabi, dajjal itu adalah Allah karena wahabi tidak mengathui sama
sekali tentang khowariqul ‘aadat yang Allah jalankan atas seorang dari
golongan manusia.
Mereka pun tidak mampu membedakan antara pelaku secara
hakikatnya dan semata-semata sebab / perantaranya, maka bercampurlah
pemahaman mereka antara kekhususan sang pencipta dengan makhluk-Nya.
Seandainya mereka mengetahui bahwa apa yang terjadi dari khowariqul
‘aadat hanyalah semata-mata dari qudrah Allah, dan manusia hanyalah
perantara, maka wahabi tidak akan heran atas apa yang dilakukan dajjal.
Dan seandainya kaum wahabi bertafakkur atas khowariqul ‘aadat yang
terjadi dari para Nabi dan wali, maka wahabi tidak akan terkena
fitnah oleh khowariqul ‘aadat yang terjadi dari dajjal sebagai bentuk istidraajnya.
Yang membedakan khowariqul ‘aadat yang terjadi atas para Nabi dan dajjal adalah bahwa para nabi memperoleh hal itu sebagai penguat kebenaran yang mereka serukan, sedangkan
dajjal memperoleh hal itu sebagai fitnah atas seseorang yang mengaku rububiyyah, perkara hal itu sama-sama perkara khowariqul ‘aadat (perkara luar biasa).
Sebab ketiga : Bermanhaj khowarij yakni keluar dari jama’ah muslimin dan mengkafirkan kaum muslimin. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mensifati
pengikut dajjal bahwasanya mereka adalah kaum khowarij, sebagaimana sebagian telah dijelaskan di awal :
يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ
تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ
آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ
“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn ( kurun / generasi ) mereka putus,
maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya).
Arah Timur yang Nabi maksud tidak ada lain adalah arah Timur kota Madinah yaitu Najd sebab Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam telah menspesifikasikan letak posisinya yaitu tempat
dimana ciri-ciri khas penduduknya orang-orang yang memiliki banyak unta dan baduwi yang berwatak keras dan berhati kasar dan tempat di mana menetapnya s
uku Mudhar dan Rabi’ah, dan semua itu hanya ada di Najd Saudi Arabia, Nabi bersabda :
مِنْ هَا هُنَا جَاءَتِ اْلفِتَنُ ، نَحْوَ اْلمَشْرِقِ ، وَاْلجَفَاءُ
وَغِلَظُ اْلقُلوْبِ فيِ اْلفَدَّادِينَ أَهْلُ اْلوَبَرِ ، عِنْدَ
أُصُوْلِ أَذْنَابِ اْلإِبِلِ وَاْلَبقَرِ ،فِي رَبِيْعَةْ وَمُضَرً
“Dari sinilah fitnah-fitnah akan bermunculan, dari arah
Timur, dan sifat kasar juga kerasnya hati pada orang-orang yang sibuk
mengurus onta dan sapi, kaum Baduwi yaitu pada kaum Rabi’ah dan Mudhar “.
(HR. Bukhari)
Maka kaum wahhabi-salafi ini adalah regenerasi dari kaum khowarij pertama di masa Nabi dan sahabat, perbedaaanya kaum
khowarij pertama bermanhaj mu’aththilah (membatalkan sifat-sifat Allah), sedangkan
kaum neo khowarij (wahhabi) ini bermanhaj tajsim dan taysbih.
Walaupun berbeda, namun sama-sama menyimpang dari aqidah Islam, dan
Allah merubah manhaj mereka dari kejelekan menuju manhaj yang lebih
jelek lagi sebagai balasan atas kedhaliman dan kesombongan yang memenuhi
hati mereka. Atas
manhaj tajsim mereka inilah menjadi penyebab wahhabi mudah terpengaruh oleh dajjal, sedangkan
khowarij terdahulu jika masih ada yg mengikuti manhaj ta’thilnya tidak mungkin terpengaruh oleh dajjal,
sebab sangat anti terhadap sifat-sifat Allah, mereka mensucikan Allah
dari sifat gerak, pindah, bersemayam, diam, duduk, turun dan sebagainya
bahkan
mereka membatalkan sifat-sifat wajib Allah.
Maka dengan jelas wahabi kelak akan menjadi pengikut dajjal, naudzu billahi min syarril wahhabiyyah wa imaamihim dajjal….
Sumber