كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Kamis, 26 Juni 2014

Nusron Nuduh Prabowo menghina Kh. abdurahman wahid, berdasarkan sumber dari wartawan amerika, ternyata justru Nusron yg Su'ul Adab


¤ SU'UL ADAB [Kurang Ajar] TOKOH-TOKOH MUDA NU (Pendukung Jokowi-Kalla) TERHADAP KYAI-KIYAI SEPUH (KHOS) ¤ ~

* Akibat dari Su'ul Adab Nusron, Kyai NU menjawab mengapa kenapa mereka mendukung PRABOWO-HATTA.

¤ Rois Syuriah PWNU Jatim KH. Miftachul Akhyar menilai pernyataan Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid sangat provokatif memecah belah kalangan kaum Nahdhiyyin.

¤ Sebelumya, Nusron Wahid saat mengumpulkan kader GP Ansor se-Jatim bertemu cawapres Jusuf kallah di Gelora Pancasila Surabaya, '' KYAI-KYAI SEPUH PENDUKUNG PRABOWO-HATTA ADALAH PELUPA SEJARAH MASA LALU.''

‪#‎Menanggapi‬ Su'ul Adab Nusron Wahid, Kyai Mifthah sangat mengecam dan akhirnya menjelaskan bahwasannya DUKUNGAN 99 KYAI KHOS NU JATIM KEPADA PASANGAN NO. 1 PRABOWO-HATTA tidak bisa dinafikan begitu saja, SELAMA INI PARA KYAI SEPUH SUDAH MELAKUKAN TABAYYUN DAN ISTIKHARAH Memutuskan untuk mendukung pasangan no. 1 tersebut, diyakininya dukungan kpd PRABOWO-HATTA membawa bangsa Indonesia lebih baik.

¤ Di jelaskannya, bahwa pilihan para Kyai dan Ulama sepuh NU didasari dg Ijtihat Politik yang panjang, KYAI SEPUH SEJATINYA SUDAH BEREMBUK DAN MEMIKIRKAN MANEFISTASI POLITIK ITU karena pasangan ini dinilai bisa membawa Indonesia lebih baik dan bermartabat.
‪#‎Kepp‬ Istiqomah... 99 Kyai dan Ulama Sepuh dan Khos Jawa Timur sudah menentukan Ijtihad untuk mendukung PRABOWO-HATTA.

¤ Monggo... Warga Nahdhiyyin.... Kami serahkan pilihan 9 Juli nanti mau ikut siapa dan membawa Indonesia yg bagaimana ???? Terserah anda. *Refrensi. SuaraJatim. Islamofobio.com
Baca Selanjutnya

Selasa, 24 Juni 2014

Sungguh akan menyesal, jika anda masih mentertawakan kata “Bocor”


Ngopo.com
Pilpres tahun 2014 ini semakin hari semakin banyak mengundang komentar dari berbagai kalangan, baik itu di dunia maya maupun di dunia nyata, dari desa sampai ke kota-kota, dari dalam negeri sampai luar negeri. Setelah sebelumnya status Facebook yang ditulis oleh Prayudhi Azwar, seorang mahasiswa PhD yang sedang belajar Monetary Economics di The University of Western Australia (UWA). Kini muncul lagi sebuah tulisan warga Indonesia dari benua eropa, tepatnya adalah dari Belanda, oleh seorang wanita bernama Tasniem Fauzia. Berikut ulasannya :

10407000_513797057916_8108719900847534131_n

Jika anda masih tertawa mendengar kata bocor yang selalu didengung-dengungkan oleh capres nomer 1, maka sungguh, anda akan menyesal, karna anda berarti sedang menertawakan keadaan negara anda sendiri yang sedang menangis, anda berarti belum mengerti tentang keadaan pedih negara kita saat ini.

Saya memang cuman Ibu rumah tangga, tapi saya mau membaca.
Mari teman-teman kita perbanyak membaca supaya kita bisa mengerti duduk permasalahan bangsa kita saat ini yang sangat urgent.

Saat ini Indonesia memang sudah merdeka, tapi mengapa rakyatnya masih miskin? Mengapa bangsa kita kok selalu tertindas di negeri yang kaya raya ini ? Ini karna kita sedang dijajah, tapi memang bukan dalam bentuk penjajahan fisik seperti jaman dulu, penjajahan yang ada sekarang ini adalah dalam bentuk korporatokrasi internasional di negara-negara berkembang salah satunya Indonesia.

Negara kita sudah puluhan tahun dijajah oleh korporatokrasi asing, dan kita memang butuh pemimpin yang berani melawan korporatokrasi asing ini.

Apa itu Korporatokrasi asing? Korporatokrasi adalah sebuah sistem kekuasaan yang di kontrol oleh korporasi besar, bank internasional dan pemerintahan. (Noam Chomsky, Media Control, Second Edition: The Spectacular Achievements of Propaganda, 2002)

Korporatokrasi adalah pengendalian suatu negara adidaya di suatu negara berkembang, salah satunya dengan memberikan bantuan pinjaman uang dan menguasai kekayaan alamnya. Korporatokrasi besar tersebut akan dengan leluasa mengarahkan kebijakan suatu negara demi mendapatkan keuntungan maksimal. (Bisa di-google dengan memasukkan kata sandi “Corporatocracy in Indonesia”, ngenes banget kondisi kita saat ini)

Bayangkan, di foto ini kita bisa lihat kekayaan sumber daya alam di Indonesia yang telah dikuasai oleh korporatokrasi internasional.

Kalau dulu sebelum kita merdeka tanggal 17 Agustus 1945, kolonialisme adalah berbentuk penyiksaan fisik, sekarang ini di jaman globalisasi, penjajahan kepada negara-negara berkembang adalah bentuk dominasi negara asing dan negara adidaya di negara-negara berkembang. Kekayaan kita dikuras dan digerus terus oleh pihak asing, uangnya mengalir ke asing, dan negara kita tidak dapat apa-apa.

Kalau jaman VOC dan jaman penjajahan Belanda dulu ada Amangkurat I dan Amangkurat II yang berkhianat kepada negara dengan menjadi antek Belanda, untuk memperkaya dirinya sendiri, sekarang pun tidak ada bedanya. Ada elite-elite politik yang memang berkhianat dan menjadi antek aseng.

Ditambah lagi ini terjadi karna pemimpin saat ini yang kurang tegas dengan kekuatan negara asing. Harus ada pemimpin yang berani untuk melawan korporatokrasi dunia yang berusaha mengacak-ngacak kesatuan negara kita.

Indonesia harus bisa belajar dari negara-negara bermartabat seperti Malaysia, Iran, Venezuela, Argentina, Bolivia, China, Ekuador dan India yang berani menolak untuk bergantung kepada asing, menolak tawaran pinjaman dari IMF dan World Bank yang sangat mengikat dan merugikan negara.

Indonesia merindukan pemimpin yang berani dan tegas, seperti Soekarno dulu, yang tidak tunduk kepada asing.Mari teman-teman kita berdoa, semoga Indonesia masih bisa diselamatkan.

Nasib bangsa ini ditentukan oleh pemimpinannya. Ke mana dia akan membawa kita 5 tahun ke depan. Jika Prabowo Subianto menjadi presiden kita 2014-2019 nanti, insya Allah Indonesia akan bisa keluar dari cengkraman dan kungkungan korporasi asing di negara kita, tidak ada lagi penjualan kekayaan alam, mulai dari hasil hutan, laut, pertambangan, dan energi ke pihak asing yang merugikan negara. Karna dia 100% bisa dibuktikan kesetiaannya kepada negara, tidak ada korporatrokrasi asing yang mem-back up dia saat ini. Dia hanya mengabdi untuk negara dan rakyat Indonesia. Bukan untuk negara asing.

20 Juni 2014
Nijmegen, Belanda

Baca Selanjutnya

Prabowo Pernah Hadir di Pertemuan Ulama Internasional

 REPUBLIKA.CO.ID, PAMEKASAN -- Pengasuh Pondok Pesantren Al Hamidy Banyuanyar Pamekasan KH Rofii Baidhowi menyambut hangat kedatangan capres Prabowo Subianto di pesantrennya, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Selasa (24/6). Prabowo hadir bersama Ketua Tim Pemenangan Nasional Mahfud MD untuk bersilaturahmi dengan para ulama, kyai, dan masyarakat di sana.

Rofii mengatakan bukan kali pertama bertemu dengan Prabowo. Ia menyebut sudah sekitar tujuh tahun mengenal mantan Danjen Kopassus itu. "Sudah sering ketemu di Surabaya, di Jakarta," ujar dia, saat memberikan sambutan di depan ribuan santri dan masyarakat yang hadir.

Sekitar dua tahun lalu, Rofii pun mengatakan pernah bertemu dengan Prabowo. Saat itu pertemuan tidak sengaja terjadi di luar negeri. "Ketemu di suatu tempat di Timur Tengah, di situ pertemuan ulama internasional," ujarnya.

Dalam pertemuan itu, Rofii mengatakan hadir beberapa ulama besar. Antara lain Syeikh Ali Jum'ah dari Mesir, Ramadhan Al-Buthi dari Suriah, dan Habib Umar bin Hafiz dari Yaman. Selepas isya di sela acara makan malam, Rofii tidak menyangka melihat sosok Prabowo. "Tahu-tahu di tengah pertemuan ulama internasional itu ada Haji Prabowo Subianto," kata dia.

Karena itu Rofii menegaskan silaturahimnya dengan Prabowo bukan yang pertama kali. Ia mengatakan, Prabowo tidak hanya datang sowan kepada kyai dan ulama ketika dalam momentum menghadapi Pemilu Presiden, 9 Juli mendatang. Rofil mengatakan, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu sudah jauh-jauh hari sering bersilaturahmi dengan alim ulama.

Dalam silaturahim itu, para kyai dan ulama menyatakan dukungannya kepada Prabowo-Hatta Rajasa. Mereka ingin membantu pasangan nomor urut 1 itu untuk menjadi pemimpin Indonesia dalam pemilu yang akan datang. "Semoga Bapak Haji Prabowo-Hatta diberi kemenangan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Menang yang barakah," kata Rofil.


Baca Selanjutnya

Sabtu, 21 Juni 2014

Pengamat: Ide Penghapusan Kolom Agama di KTP Ancam Elektabilitas Jokowi-JK


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Politik Konsep Indonesia (Konsepindo) Budiman Hidayat menilai ide penghapusan kolom agama di kartu tanda penduduk (KTP) yang dilontarkan pasangan capres dan cawapres nomor urut dua, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, bakal mengancam elektabilitas pasangan ini ke depan.

Bukan itu saja, sejumlah isu keagamaan yang dilemparkan tim sukses Jokowi-JK, dianggap banyak yang inkonsisten dan merupakan blunder dalam elektabilitas pasangan ini dalam Pilpres 2014 mendatang.
"Ide dan isu keagamaan yang dilemparkan timses Jokowi-JK, bisa membuat masyarakat antipati dan mengancam elektabilitas Jokowi-JK," kata Budiman kepada Warta Kota, Jumat (20/6/2014) malam.

Budiman memaparkan gagasan penghapusan kolom agama di KTP dengan alasan untuk kebebasan beragama, seperti yang dilontarkan Direktur Megawati Institute Siti Musdah Mulia adalah hal yang naif.
Ide ini, katanya, justru dikecam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Sekjen PBNU, KH Marsudi Syuhud. Padahal PBNU, katanya, merupakan lembaga Islam terbesar di Indonesia yang dikenal sangat tenggang rasa dan penuh toleransi dengan agama lain.

Menurut Budiman, kecaman PBNU atas ide itu sangat logis dan mewakili masyarakat luas dari semua agama. Alasannya: jika kolom agama dihapus di KTP, masyarakat bisa direpotkan. Contoh ketika kecelakaan di mana keluarga korban belum bisa dihubungi, sementara korbannya meninggal dan harus dikebumikan.

"Dasar tata cara pengurusan jenazahnya bagaimana, jika tidak berdasar agama di KTP," tanyanya. Belum lagi, tambahnya, penanganan jenazah pada setiap agama sangat berbeda.

Budiman menjelaskan hal lain soal isu keagamaan yang dianggap inkonsistensi dari timses dan pendukung Jokowi-JK di antaranya ide penghapusan Perda Syariat di seluruh wilayah di Indonesia terkecuali Aceh,
 Gallery of Rouges dari Wimar Witoelar yang memaparkan gambar teroris dan Prabowo, hingga penyebaran intel dari timses Jokowi JK di setiap masjid karena dikhawatirkan masjid dijadikan tempat kampanye, merupakan bentuk langkah yang mengundang antipati masyarakat.

"Nanti masyarakat akan terlanjur memahami bahwa capres nomor urut dua itu, justru sebagai ancaman bagi kehidupan keagamaan," katanya.

Ia menjelaskan tim suksesk Jokowi - JK seharusnya mengerti mereka wajib merangkul massa muslim dan massa non muslim dengan isu keagamaan yang plural dan tidak membenturkan antara Islam dan non-Islam.

"Tapi ini malah tidak dan membenturkan semua itu serta mengabaikan pluralisme itu semua," kata Budiman.
Ke depan, Budiman menyarankan agar Jokowi-JK serta timses dan pendukungnya lebih jeli lagi dalam menawarkan ide dan isu keagamaan yang tidak membuat masyarakat baik muslim maupun non muslim justru diundang untuk menjadi antipati kepada mereka.

Baca Selanjutnya

Senin, 10 Maret 2014

Diserang Gerombolan Bercadar, Warga Bantul Minta Pesantren Ditutup






VIVAnews - Warga di Kampung Nitipuran, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY, berencana akan menutup Pesantren, TK, SD, Darusunnah sebangai buntut penyerangan rumah warga oleh gerombolan bercadar, bercelana congklang, dan membawa senjata tajam berupa linggis dan samurai, Minggu. Warga menduga lebih kurang 50 penyerang itu adalah walimurid yang anaknya disekolahkan di pesantren itu.

Juru bicara warga sekaligus tokoh masyarakat kampung Nitipuran, Joko Budiyanto mengatakan di kampung itu terdapat sekitar 1.500 warga sudah dewasa dan siap memberikan persetujuan jika TK-SD Darusunnah tersebut ditutup selamanya.

"Warga sudah terancam dan tidak lagi nyaman tinggal berdekatan dengan Darusunnah yang pimpinannya tidak bersedia bermusyawarah atas atas penyerangan rumah warga," katanya, Senin 3 Maret 2014

Menurut dia, jika berpatokan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maka ada toleransi dan ada aturan yang harus ditaati bersama. Apalagi ini melanggar dengan mengerahkan gerombolan masa bercadar dan bersajam.

"Selama 3 tahun lebih pesantren itu berdiri sama sekali tidak pernah ada pelajaran Pancasila, menyanyikan lagu Indonesia Raya, apalagi menggelar upacara bendera. Ajaran yang diberikan adalah ajaran garis keras," katanya.

Selain perusakan rumah milik Agus Windarto dan Sri Rejeki, beberapa orang juga diancam oleh tiga pelaku yang menggunakan senjata tajam. Mereka mengalungkan senjata ke leher korban dan ditanya apa agamanya. Setelah menjawab, korban diminta bersyahadat. "Ini jelas ancaman pembunuhan," ujar Joko.

Meski nantinya ada mediasi antara warga dengan pimpinan pesantren, warga tetap akan menuntut penutupan kegiatan belajar mengajar. "Bagaimana mereka bersedia diajak bermusyawarah jika mereka menganggap warga Nitipuran ini semua kafir. Pasti tidak ada solusi yang terbaik," katanya.

Sri Rejeki, salah satu korban mengaku, perusakan rumah kemungkinan terjadi karena walimurid tak terima saat ditegur warga. "Mereka kalau mengantar anak lewat Gang Blorok Madu dan tak pernah mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rendah. Meski di kanan-kirinya banyak warga di teras. Mereka juga tidak pernah menegur warga," kata Sri.

Teguran kepada wali murid dari siswa TK-SD Darusunnah dilakukan sudah berkali-kali namun tetap nekat mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Bahkan ada wali murid yang justru menantang warga.

Kapolres Bantul AKBP Surawan mengatakan, kepolisian telah melakukan mediasi dengan pimpinan SD-TK Darusunnah. Mereka bersedia bermusyawarah dengan warga. "Saya sendiri yang langsung menemui pimpinan pesantren dan menyatakan bersedia untuk bermediasi dengan warga,"katanya

Meski demikian polisi juga minta kepada pengurus pesantren untuk terbuka dan membantu polisi dalam mengungkap kasus perusakan dua rumah warga. "Meski nantinya ada kesepakatan bersama namun proses hukum tetap berjalan." (umi)

Sumber
Baca Selanjutnya

Kamis, 12 Desember 2013

Tokoh Muslim dan Kristiani Jadi Target Teroris di Suriah

Kaum muslim dunia baru saja berduka. Ulama Sunni terkemuka Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buti ditemukan tewas pada 21 Maret lalu dalam serangan teroris di Masjid Al-Iman di Damaskus bersama dengan cucunya dan 47 orang lainnya.

Serangan mengerikan  itu terjadi ketika Syaikh al-Bouti sedang memberi pengajian di depan sekelompok mahasiswa Islam, termasuk cucunya.

Di Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya ulama besar Suriah tersebut. ”Kami sangat menyesalkan kekerasan di Suriah yang mengakibatkan tewasnya ulama besar yang luar biasa pengaruhnya di dunia Islam,” kata Rais Suriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin pada NU Online, belum lama ini.
 Pada 23 Maret, rakyat Suriah mengantar kepergian sarjana terkemuka dunia ini dengan hikmat. Grand Mufti Ahmad Badr Hassanuddin, yang putranya juga tewas di tangan para teroris beberapa bulan yang lalu, dan Menteri Informasi Suriah Umran al-Zubi ikut ambil bagian dalam  upacara pemakaman.

Al-Buti sendiri yang tahun ini berusia 84 tahun adalah seorang pensiunan dekan dan profesor Fakultas Hukum Islam di Universitas Damaskus. Ia dikenal keras menentang terorisme dan pengkritik pihak asing yang didukung kelompok-kelompok militan, yang ia gambarkan sebagai “para tentara bayaran”.

Seminggu sebelum pembunuhan itu, ia mengatakan dalam ceramahnya, “Kami diserang di setiap jengkal tanah kami, makanan kami, kesucian dan kehormatan perempuan dan anak-anak kami Hari ini kami menjalankan tugas yang sah... yakni kebutuhan mobilisasi untuk melindungi nilai-nilai, tanah air, dan tempat-tempat suci kami, dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara tentara nasional dan seluruh bangsa ini”.

Seminggu setelah pembunuhan Al-Buti, ulama Sunni lainnya Syaikh Hassan Saifuddin (80 tahun) secara brutal dipenggal kepalanya di bagian utara Kota Aleppo oleh sekelompok militan yang dibekingi pihak asing dan menyeret tubuhnya di jalanan. Kepalanya ditanam di menara sebuah masjid yang biasa digunakan untuk berkhotbah. Syaikh Saifuddin juga dikenal sebagai seorang anti-milisi, dan penentang perang yang sedang berkecamuk melawan pemerintah Suriah.

Menyusul insiden berdarah tersebut, Presiden Suriah Bashar al-Assad mengecam tindakan kekerasan itu. Ia berjanji, kejahatan itu tidak akan dibiarkan tanpa hukuman. “Ini janji rakyat Suriah - dan saya salah satu dari mereka - bahwa darah Anda, cucu Anda, dan para syuhada di tanah air ini tidak akan sia-sia, karena kita akan tetap mengikuti pemikiran Anda untuk menghilangkan kejahatan mereka,“ katanya.

Dalam halaman Facebook milik kaum militan, Syaikh Saifuddin disebut sebagai “kolaborator dari teman baik penguasa di Suriah”. Mereka juga mengancam, “Kami akan datang kepada Anda, dan Anda tidak akan bisa melarikan diri.”

Syaikh Hassan Saifuddin sebenarnya adalah ulama terakhir dari daftar ulama-ulama yang dibunuh yang mencakup kelompok Sunni dan ulama Syiah serta pendeta Kristen. Semua pembunuhan ini dilakukan oleh para teroris yang secara manipulatif dinarasikan dalam media-media Barat mainstream sebagai “kaum demokrat” itu.

Korban pertama adalah Romo Basilius Nassar, seorang Imam dari Kapel Mar Elias di kota Kfar-Baham, dekat kota Hama. Dia ditembak pada tanggal 25 Januari 2012 oleh seorang penembak jitu milisi di daerah Citadel saat ia sedang mengevakuasi korban perang.

Yang kedua adalah seorang ulama Sunni, Syaikh Mohammad Ahmad Aufus Shadiq, yang kerap berkhotbah di Masjid Malik Bin Anas di Damaskus. Ia adalah salah seorang ulama pertama yang memperingatkan ancaman kekerasan di Suriah. Dia juga penentang keras kelompok Takfiri dengan mengatakan Takfiri tak punya tempat di kalangan umat Islam. Syaikh Aufus Shadiq ditembak mati pada 25 Februari 2012.

Korban ketiga dalam daftar ulama ini adalah Syaikh Sayyid Nasser, seorang ulama Alawi dan imam Alawite hawze (sekolah agama) Zaynabiyya di Damaskus. Dia meninggal ditembak di dekat situs suci makam Sayyidah Zaynab, cucu Nabi Muhammad SAW.

Yang keempat adalah seorang ulama Syiah Suriah, Syaikh Abbas Lahham. Ia tewas bulan Mei di luar Masjid Ruqayyah (putri Imam Hussein) di mana ia biasa berkhotbah. Dia diikuti oleh tewasnya Syaikh Abdul-Kuddus Jabbarah, seorang ulama Syiah pada bulan berikutnya. Yang terakhir ini ditembak mati di sebuah pasar dekat situs suci Sayyidah Zainab.

Pada Juli 2012, pada awal bulan Ramadhan, Syekh Abdul Latif Ash-Shami juga dibunuh dengan cara yang mengerikan: saat sedang shalat dalam masjid bersama jamaah lain, ia ditembak matanya. Sebulan kemudian, imam Masjid al-Nawawi di Damaskus, Syaikh Hassan Bartaui, juga dibunuh.

Pada bulan Oktober 2012, beberapa orang menemukan mayat yang dimutilasi. Mayat itu adalah seorang imam dari Gereja Ortodoks Yunani, Romo Fadi Hadadat di Katana, Provinsi Damaskus. Dia diculik oleh milisi yang menuntut pertukaran untuk pembebasannya dengan uang tebusan sebesar 15 juta Pound Suriah. Romo Abdullah Saleh, pimpinan Gereja Ortodoks Yunani Antiokhia dan Orient menegaskan bahwa ia telah dibunuh oleh teroris. Lalu pada hari terakhir tahun 2012, Imam Sunni yang lain Syaikh Abdullah Saleh juga dibunuh di Raqa.

Pada bulan Februari 2012, Syaikh Abdul Latif al-Jamili, seorang ulama dari Masjid Ahrafiyyah terbunuh oleh pecahan peluru yang diluncurkan oleh milisi di halaman masjid itu. Pada bulan Maret, giliran Sheikh Abid Sa’ab, yang kerap memimpin doa di Masjid al-Mohammadi yang terletak di distrik Mazze di Damaskus, terbunuh oleh ledakan bom yang ditempatkan di bawah mobilnya.

Duka mendalam dirasakan kaum muslim dan Kristiani di Suriah, bahkan muslim dunia. Namun siapakah sebenarnya para pembunuh berdarah dingin yang menghabisi para ulama dan tokoh panutan umat ini?

Ketika seorang ulama Sunni terkemuka Syeikh al-Buti itu tewas, beberapa ulama ekstremis Wahhabi dari Arab Saudi sama sekali tak menunjukkan penyesalan terhadap kematiannya. Salah satunya adalah Syaikh Abu Basir al-Tartousi. Ia mengatakan, bahwa dirinya tidak menyesali kematian al-Bouti, karena “Dia adalah pembohong, yang sepanjang hidupnya mendukung penguasa,” katanya sebagaimana dikutip UmmaNews. Dia menambahkan bahwa Syeikh al-Bouti adalah seorang munafik yang pura-pura menyesali terbunuhnya kaum Muslim maupun yang terluka.

Begitu juga Imam Masjidil Haram di Mekkah Abdul Rahman al-Sudais. Ia secara terbuka merayakan pembunuhan itu dengan mengatakan bahwa “Dia (al-Buti) adalah salah seorang imam besar penipu. Dia adalah Mujahid  di jalan Setan. Dan ini (pembunuhan al-Buti) adalah sukacita yang besar bagi umat Islam,” katanya. 

Wajar kemudian bila Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi mengungkapkan, pihak Barat dan dari pihak Salafi-Wahabi memunculkan propaganda negatif untuk Syekh Buthi melalui sejumlah media cetak maupun elektronik internasional. Sejumlah ulama termasuk Syekh Yusuf Qaradhawi juga ikut memojokkan Syekh Buthi dan membangun gerakan politik untuk meredam dukungan dan simpati kepada Syekh Buthi, demikian pernyataan Rais Syuriah PBNU itu kepada NU Online (Ahad, 31/3).

Pada kenyataannya, semua ulama yang dibunuh di Suriah adalah mereka yang secara terbuka menentang pemberontakan atau setidaknya tidak mendukungnya. Pembunuhan mereka dimaksudkan untuk meneror penduduk Suriah yang menolak untuk mendukung kelompok-kelompok bersenjata. Hal ini jelas ketika kita membaca pernyataan para teroris itu sendiri.

Sesaat sebelum serangan terhadap Fakultas Arsitektur Universitas Damaskus, yang menewaskan 15 siswa, pemimpin kelompok Wahhabi, Liwa al-Islam, Al Haytham Malih, menerbitkan sebuah pernyataan di halaman Facebook-nya, dimana ia memperingatkan bahwa “ wajib untuk mahasiswa dari Universitas Damaskus untuk meluncurkan kampanye pembangkangan sipil. Jika mereka tidak melakukannya, Universitas mereka akan memiliki nasib yang sama seperti yang terjadi dari Aleppo”. Perlu diingat bahwa pada bulan Januari 2013, 82 mahasiswa dari Universitas Aleppo tewas dan 160 lainnya luka-luka akibat terjangan roket yang diluncurkan oleh para milisi. 

Seluruh kelompok agama (Kristen, Syiah, Alawi) telah dinyatakan sebagai “musuh" oleh teroris Takfiri Wahhabi di Suriah. Beberapa kelompok Syiah, misalnya, harus meninggalkan rumah mereka untuk menyelamatkan nyawa. Diantara orang Syiah ini dalam surat kabar LA Times mengatakan, bahwa kelompok Takfiri ini “semula dikirim untuk menjadi tetangga kami, namun kemudian ingin menculik dan membunuh kami”.

Ketegangan antaragama, yang semula tidak pernah dijumpai sebelum konflik, kini meningkat di desa-desa di sepanjang perbatasan antara Lebanon dan Suriah bagian timur laut. Masyarakat yang tinggal di daerah-daerah membincangkan satu sama lain tentang kampanye pembersihan etnis yang dilakukan oleh pemberontak yang mencoba mendirikan negara ala Taliban. Beberapa orang Syiah, yang punya ikatan keluarga di Lebanon pun lalu ikut menjadi pejuang untuk membela desa mereka dari serangan para teroris.

Seperti dilaporkan Human Rights Watch (HRW) yang berbasis di New York, pemberontak dan teroris Wahhabis di Suriah juga membakar dan menjarah situs-situs agama minoritas. HRW mengungkapkan bahwa pejuang oposisi telah menghancurkan Husseiniyah - sebuah situs agama yang ditujukan untuk menghormati Imam Hussein, seorang martir besar dalam sejarah Islam. Sebuah video dipublikasikan secara online menunjukkan pemberontak mengangkat senapan serbu di udara dan bersorak-sorai di depan kobaran api karena telah menguasai situs itu di desa Zarzour pada bulan Desember.

Dalam video tersebut, seorang pria mengumumkan “penghancuran sarang kaum Syiah dan Rafida”, sebuah istilah penghinaan yang digunakan oleh fanatik Wahhabi terhadap kaum Syiah.
Di bagian barat Provinsi Latakia, Human Rights Watch mengutip pernyataan warga setempat bahwa orang-orang bersenjata yang bertindak atas nama oposisi telah merusak dan mencuri barang-barang dari gereja-gereja Kristen yang berada di dua desa, Ghasaniyah dan Jdeidah (di wilayah Lattakia). Seorang warga Jdeideh melaporkan bahwa pria bersenjata itu telah menghancurkan gereja lokal, mencuri dan melepaskan tembakan di dalam.

Seperti dilaporkan Yusuf Fernandez, seorang jurnalis dan sekretaris Federasi Muslim Spanyol, ia mengatakan Suriah belakangan ini menjadi arena teror. Pembunuhan dan teror dilakukan di semua tempat yang diduduki kelompok bersenjata yang dikontrol pihak asing di Suriah. Karena tak mampu memicu revolusi rakyat untuk melawan pemerintah, kelompok-kelompok ini lalu melakukan pembantaian dan pembunuhan.

Itulah sebabnya mengapa penduduk setempat meninggalkan rumah-rumah mereka ketika desa-desa atau jalan-jalan sekitarnya berhasil direbut oleh pemberontak. Sebagian besar warga kampong ini lalu bergabung dengan Pasukan Pertahanan Nasional untuk memerangi para teroris di seluruh negeri. (Mh. Nurul Huda)

SUMBER
Baca Selanjutnya

Selasa, 17 September 2013

Download Ebook bukti TAHRIF KITAB ALA WAHABI/SALAFI format PDF


Beredarnya kitab-kitab klasik hasil tahrifan atau perubahan yang dilakukan Wahabi sudah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, bahkan ke seluruh dunia. Hal itu dapat merugikan umat Islam sendiri, karena tanpa disadarinya umat Islam akan kehilangan khazanah keilmuannya yang asli, sehingga bagi kebanyakan orang yang masih awam, mereka tidak bisa lagi membedakan mana ajaran Islam yang sebenarnya. Dengan demikian, keresahan dan ancaman perpecahan bagi persatuan umat Islampun tidak bisa dihindari lagi, seperti banyak yang terjadi fakta-fakta di lapangan, bahkan dapat mengancam stabilitas negara Indonesia sebagai negara yang berbangsa dan berbudaya. Bukan hanya itu saja, umat Islam Indonesia yang mayoritas bermadzhab Imam Syafi’i akan merasa terhambat untuk menggali dan mengkaji khazanah keilmuan Islam yang sudah terpelihara selama beratus-ratus tahun lewat kitab-kitab klasik karya para ulama yang sudah tidak diragukan lagi kredibilitas keilmuan mereka. Karena, para ulama tersebut adalah “As-Sawad al-A’zham”, yaitu ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjadi panutan umat Islam se- dunia.

Tradisi tahrif yang dilakukan Wahabi Salafi, kaum Mujassimah, terhadap kitab-kitab Ahlussunnah wal-Jama’ah yang mereka warisi dari para pendahulunya itu berlangsung hingga dewasa ini dalam skala yang cukup signifikan. Selain tahrif, mereka juga mentahqiq (memberi foot note atas tulisan pengarang) kitab “Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari”    dan “Syarah Shahih Muslim” seperti apa yang dilakukan oleh ulama Wahabi Salafi bernama “Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, seorang mufti Mekkah - Saudi Arabia. Hingga saat ini berbagai percetakan kitab Islam di seluruh dunia, khususnya cetakan Darul Fikr, Beirut – Libanon, syarah kedua kitab hadits tersebut sudah ditahqiq oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baz. Memang
khusus untuk kedua kitab tersebut naskahnya sudah dibeli oleh Wahabi Salafi
dari    pihak penerbit Darul Fikr, Beirut – Libanon.

Dengan demikian, umat Islam di seluruh dunia yang beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah sangat kesulitan untuk mendapatkan dan membeli kedua kitab tersebut dari toko-toko kitab.

Menurut sebagian ulama, ada sekitar 300 kitab yang isinya telah mengalami tahrif atau perubahan dari tangan- tangan jahil Wahabi Salafi. Di antaranya, kitab al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah karya al-Imam Abu al-Hasan al- Asy’ari. Kitab al-Ibanah yang diterbitkan di Saudi Arabia, Beirut dan India disepakati telah mengalami tahrif dari kaum Wahhabi Salfi. Hal ini bisa dilihat dengan cara membandingkan isi kitab al-Ibanah tersebut dengan al- Ibanah edisi terbitan Mesir yang di-tahqiq oleh Fauqiyah Husain Nashr.

Tafsir Ruh al-Ma’ani karya al-Imam Mahmud al-Alusi juga mengalami nasib yang sama dengan al-Ibanah. Kitab tafsir setebal tiga puluh dua jilid ini telah ditahrif oleh putera pengarangnya, Syaikh Nu’man al-Alusi yang terpengaruh ajaran Wahabi. Menurut Syaikh Muhammad Nuri al-Daitsuri, seandainya tafsir Ruh al-Ma’ani ini tidak mengalami tahrif, tentu akan menjadi tafsir terbaik di zaman ini.

Tafsir al-Kasysyaf, karya al-Imam al-Zamakhsyari juga mengalami nasib yang sama. Dalam edisi terbitan Maktabah al-Ubaikan, Riyadh, Wahabi Salafi melakukan banyak tahrif terhadap kitab tersebut, antara lain ayat 22 dan 23
Surat al-Qiyamah, yang di-tahrif dan disesuaikan dengan ideologi Wahabi Salafi. Sehingga, tafsir ini bukan lagi
Tafsir al-Zamakhsyari, namun telah berubah menjadi tafsir Wahabi Salafi.

Hasyiyah al-Shawi 'ala Tafsir al-Jalalain yang populer dengan Tafsir al-Shawi, mengalami nasib serupa. Tafsir al- Shawi yang beredar dewasa ini, baik edisi terbitan dalam negeri maupun luar negeri, seperti Dar al-Fikr dan Dar al-Kutub al-’Ilmiyah Beirut Libanon juga mengalami tahrif dari tangan-tangan jahil Wahabi, yakni penafsiran al- Shawi terhadap surat al-Baqarah ayat 230 dan surat Fathir ayat 7.

Download ebooknya  disini

Baca Selanjutnya