BUNG KARNO : JANGAN DENGARKAN ASING !!
Saya tertegun ketika
membaca catatan sejarah tentang Bung Karno yang dalam Pidatonya pada
tahun 1957 saat ia melakukan aksi atas politik kedaulatan modal.
Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan
Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati,
sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah
dunia co-operasi,
"Elu ada, gue ada" kata Bung Karno saat
berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sepulangnya dari
Amerika Serikat.
Dalam Pidatonya lagi Bung Karno berkata :
"Jangan Dengarkan Asing !!", Kalimat inilah yang membuat saya menjadi
tertarik membahasnya. Ini adalah sebuah kalimat yang cukup menarik dan
sangat berbobot dari seorang Proklamator. Kalimat ini cukup berharga
bagi generasi-genera
si penerus bangsa ini sebagai modal untuk menguatkan NKRI.
Pada tahun 1960, Sukarno membuat kebijakan yang menggemparkan
perusahaan minyak asing, terutama kaum kapitalis yang didalangi Amerika
dan sekutunya.
Saat itu Bung Karno memanggil Ir Djoeanda.
Ir. Juanda diperintahkan untuk menyusun soal konsesi minyak. Soekarno
berkata kepada Ir Juanda. "Kamu tau?, sejak 1932 aku berpidato di depan
Landraad soal modal asing ini? soal bagaimana perkebunan-perkebunan
itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan
kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa
Indonesia, saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken
dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa
maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba
kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan
minyak" jelas Sukarno di depan Ir. Djuanda.
Tak lama kemudian Ir.Djuanda menyusun surat yang kemudian ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun
1960. isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National
Corporation). "Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau
perusahaan negara". Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal kebencian
kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno pun menjadi sasaran pembunuhan
karakter dari kelompok mafia dan cukung-cukong yang paling diincar
nomor satu di Asia. Tapi Sukarno tak takut, di sebuah pertemuan para
Jenderal-Jenderalnya Sukarno berkata :
"Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya tetap jadi budak
bagi asing, JANGAN DENGARKEN ASING, JANGAN MAU DICEKOKI KEYNES,
INDONESIA UNTUK BANGSA INDONESIA..!!".
Ketika laporan intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU
No. 44 tahun 1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk
membawa paksa seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut
pada ancaman Sukarno. Dan diam ketakutan.
Pada hari
Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang lagi ke
Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell. Mereka meminta
Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama sebelum tahun 1960
disebut sebagai "Let Alone Agreement" yang memustahilkan Indonesia
menasionalisasi
perusahaan asing, ditangan Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah
bila asing macam-macam dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa
Indonesia atas investasinya di Indonesia maka perusahaannya
dinasionalisasikan.
Para boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah
keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno "Undang-Undang itu aku buat
untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply
atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan
perusahaan asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka
bekerja di negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku,
bangsa Indonesia" mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno
namanya ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan
mengetuk-ngetukkan tongkat
komando-nya lalu mengarahkan telunjuk kepada bule-bule itu Sukarno
berkata dengan suara keras :"Aku kasih waktu pada kalian beberapa hari
untuk berpikir, kalau tidak mau aku berikan konsesi ini pada pihak lain
negara..!" waktu itu ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina
(sekarang Pertamina) menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia,
Sukarno butuh investasi yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex
disuruh menyerahkan 53% hasil minyaknya ke Permina untuk disuling,
Caltex diperintahkan memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi
kepada pemerintah, dan menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk
menyuplai kebutuhan investasi jangka panjang pada Permina.
Bung
Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di Irian
Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila Irian Barat
lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar di Asia
Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang baru tumbuh.
Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas kedaulatan modal
terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung minyak yang berada
di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian Barat ada gas dan
emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat di Asia.
Hitung-hitungan
Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming minyak dunia, di tahun
itulah Indonesia akan menjadi negara yang paling maju di Asia , maka
obesesi terbesar Sukarno adalah membangun Permina sebagai perusahaan
konglomerasi yang mengatalisator perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional.
Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk
mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur modal
itu diberi kode namanya sebagai 'Dana Revolusi Sukarno". Kelak empat
puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai, Arab
Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan
membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah struktur
modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak perusahaan di
negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek dengan menguasai
saham Indosat.
Berangkat dari fakta sejarah ini ada beberapa poin yang bisa kita petik menjelang Pilpres mendatang. Apa kaitannya?.
Seandainya Bu Mega meresapi pesan Bung Karno ini, dan pesan "Jangan
Dengarkan Asing" tadi mungkin Bu Mega akan berfikir seribu kali untuk
mencalonkan Jokowi sebagai presiden Indonesia periode 2014-2019.
Kok gitu?? Karena saat Jokowi jadi walikota Solo, dia dipuji setinggi
langit oleh sebuah lembaga di London sebagai walikota terbaik diseluruh
dunia. Pujian yang sangat luar biasa tingginya. Disaat angka kemiskinan
di Solo yang terus meningkat selama dipimpin Jokowi. Justru sang
walikota dinobatkan sebagai walikota terbaik di dunia.
Tak
hanya lembaga di London yang memuji-muji Jokowi, tetapi banyak lagi
pihak asing lainnya yang turut memuji Jokowi. Diantaranya bebeapa duta
besar dari Benua Amerika yang juga memuji sosok Jokowi dalam acara
diplomatic corps gathering.
"Sangat populer, sangat
berkarisma," ujar Duta Besar Cile untuk Indonesia Eduardo Ruiz Amusen di
sela sesi foto pada akhir acara tersebut di Oasis Restaurant, Jakarta
Pusat.
Sejumlah dubes lain tertawa mendengar ucapan
Amusen soal Jokowi itu. Ada dubes yang bertepuk tangan. Jokowi hanya
senyum-senyum mendapat komentar tersebut, dengan sesekali
menggeleng-gelengkan kepala.
Lalu, ketika Jokowi serta sejumlah duta besar berjalan keluar restoran,
Duta Besar Paraguay untuk Indonesia Cesar Esteban Grillon tiba-tiba
berbalik badan menghadap para wartawan. Dia mengangkat kedua jempol
tangan ke arah Jokowi yang berdiri di depannya.
"Dia baik,
sangat baik. Pasti menang dia," ujar Grillon merujuk pada pengusungan
Jokowi sebagai bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan.
Inilah salah satu faktor mengapa Megawati memajukan
Jokowi sebagai capres dari PDIP, bukan dirinya sendiri, atau anaknya
atau yang lainnya. Inilah strategi politik yang di mainkan Megawati yang
lebih 'menjual' figur Jokowi ketimbang program dan visi-misi.
Dimana-mana PDIP hanya menjual slogan 'Jokowi merakyat', Jokowi
blusukan, Jokowi pakaiannya murah, Jokowi ini, Jokowi itu, dst, dst.....
bukan menawarkan Program. Itu sebabnya saat baru diusung, Jokowi belum
punya program dan visi-misi apapun dan baru disusun kemudian.
Namun ada yang aneh dari perkataan megawati saat menyampaikan kepada
Jokowi saat memutuskannya untuk maju sebagai capres dari PDIP.
Megawati berkata kepada Jokowi "Saya pesan ke Pak Jokowi, sampeyan tak
jadikan capres. Tapi jangan lupa ingat capresnya saja, Anda adalah
petugas partai yang harus melaksanakan apa yang ditugaskan partai," ucap
Mega dalam pidatonya saat deklarasi koalisi PDIP, Partai Nasdem, dan
PKB di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta.
Ini adalah
pernyataan aneh. Silakan garis bawahi kalimat "Tapi jangan lupa ingat
capresnya saja, Anda adalah petugas partai yang harus melaksanakan apa
yang ditugaskan partai"
Mengamati pidato Mega ini Taslim
Chaniago politisi PAN menilai, justru pernyataan tersebut menunjukkan
kalau Jokowi merupakan presiden boneka Megawati.
"Kalau
terpilih sebagai presiden Jokowi hanya jadi boneka Megawati dan PDIP
saja. Itu artinya apa pun kebijakan Jokowi harus sesuai perintah
Megawati. Jokowi tidak punya kewenangan saat memimpin negeri," kata
Taslim.
Taslim juga menilai pernyataan Megawati tersebut
menunjukkannya belum legowo menunjuk Jokowi sebagai capres PDIP.
"Sepertinya Megawati tidak pede elektabilitasnya lebih rendah dibandingkan Jokowi. Megawati masih menganggap dirinya jadi presiden. Cuma badan saja yang tidak jadi presiden.
Saya menangkap, apa yang disampaikan Megawati itu membuktikan bahwa Megawati ingin menjadi presiden," ujarnya.
Padahal, lanjut Taslim, siapa pun presiden terpilih tidak boleh
disetir. Kalau terpilih jadi presiden, Jokowi tidak boleh disetir oleh
siapa pun. Temasuk partai yang mengusungnya.
Demi ambisinya Bu
Mega tak peduli lagi dengan apa yang disampaikan Bung Karno sang
Proklamator yang tak lain adalah Bapaknya sendiri. ia bersikap masa
bodoh demi ambisi pribadinya. Dan akhirnya ia mencapreskan Jokowi demi
kemenangan semu.
Dan anehnya para Relawan Jokowi-JK pun ikut menjadikan pujian-pujian Asing tadi sebagai bahan 'jualnya' dalam berkampanye.
Benar-benar bertolak belakang dari apa yang mereka lakukan dengan apa
yang soekarno katakan. Jika Bung Karno mengatakan : "Jangan Dengarkan
Asing !!", Kubu PDIP, Mega dan Jokowi justru berbangga-bangga dengan ucapan Asing.
Disisi lainnya untuk menyudutkan Prabowo lagi-lagi kubu Jokowi dan PDIP
tak segan-segan mengambil rujukan dari asing, misalnya tentang isu
pelanggaran HAM Prabowo, Prabowo yang di pandang miring oleh Amerika,
salah satunya adalah berita bahwa Prabowo Subianto sebagai capres tak
mendapat restu dari pihak Amerika Serikat sebagaimana yang diberitakan
New York Times pada 26 Maret 2014.
Direktur Eksekutif Political
Communication Institute (Polcomm), Heri Budianto menilai sikap AS yang
tidak merestui Prabowo sebagai capres membuktikan campur tangan pihak
asing khususnya AS, sangat kuat terhadap hasil Pilpres 2014.
Dengan adanya penolakan pihak AS tersebut, Heri yakin memberi berpengaruh terhadap langkah Prabowo di Pilpres 2014 ini.
"Tak direstui Prabowo jadi capres buktikan pengaruh AS di Indonesia
kuat. Saya melihat apa yang diberitakan New York Times tersebut sebagai
bentuk pengaruh yang kuat dari AS," jelas pengajar di Fisip Universias
Mercu Buana ini.
Heri mengatakan, alasan AS tidak merestui Prabowo sebagai capres dikarenakan sikap dan karakteristiknya yang keras, tanpa kompromi. Ini jelas bertentangan dengan kepentingan AS di Indonesia.
"Itu bisa jadi sebagai alasan asing untuk menghambat, sebab Prabowo memiliki sikap tegas soal asing," katanya.
Mengikat ini semua, ada pesan lainnya dari Bung Karno yang patut untuk
kita renungkan. Dalam suatu kesempatan Bung Karno berpesan sbb:
"Ingatlah... ingatlah... ingat pesanku lagi: Jika engkau mencari
pemimpin, carilah yang dibenci, ditakuti atau dicacimaki asing, karena
itu yang benar. Pemimpin tersebut akan membelamu di atas kepentingan
asing itu.
Dan janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuji-puji asing, karena ia akan memperdayaimu."