كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Minggu, 06 Juli 2014

Menolak Impor Beras, Ternyata Prabowo Pernah Disemprot JK


CAPRES nomor 1, Prabowo Subianto, mengingatkan kepada rivalnya, Jusuf Kalla (JK), bahwa dirinya pernah mendapat teguran keras akibat sikap menolak impor beras dalam kapasitasnya selaku Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). "Serangan" dari Prabowo itu terlontar untuk menjawab pertanyaan dari capres nomor urut 2, Joko Widodo, dalam ajang debat capres-cawapres di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu malam (5/7).
Awalnya, Capres nomor 2 bernama beken Jokowi itu mempertanyakan soal impor beras 2,7 juta ton pada 2012. Sementara pada 2008, bisa terjadi swasembada. Dia menanyakan itu kepada Hatta mengingat ia adalah Menko Perekonomian di era SBY-Boediono dan Prabowo sebagai Ketum HKTI.
Menanggapi pertanyaan itu, cawapres Hatta Rajasa, menjawab pertama. Dia tegaskan bahwa kalau melihat data dari tahun 2000 sampai sekarang, Indonesia tidak pernah mengimpor beras jika tidak terjadi krisis pangan atau gangguan yang genting. Meneruskan jawaban Hatta, Prabowo mengatakan, selama bertahun-tahun, ia selaku Ketua Umum HKTI tak bosan mengingatkan pemerintah untuk menghentikan impor beras jika keadaan tidak mendesak.
"Saya selalu ingatkan pemerintah (untuk tidak mengimpor). Tapi Pak JK ingat, waktu itu bapak selaku Ketua Umum Golkar dan saya sebagai anggota Golkar. Bapak pernah menegur saya karena statement saya menolak impor beras," tegasnya.
Merujuk pada pernyataan Prabowo itu, kejadian itu berarti terjadi ketika JK masih menjabat Wakil Presiden RI periode 2004-2009 sekaligus sebagai Ketua Umum Golkar pada periode yang sama. Mendengar pernyataan dari lawan debatnya itu, JK yang duduk di seberang bersama Joko Widodo, tampak hanya tersenyum.
Debat capres-cawapres putaran terakhir digelar di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, dan dimulai pukul 20.30 WIB. Tema debat adalah 'Pangan, Energi dan Lingkungan'. Komisi Pemilihan Umum (KPU) memilih Rektor Universitas Diponegoro, Prof Sudharto P Hadi, Phd, sebagai moderator. Menurut KPU, nama itu sudah disepakati kedua kubu calon. [ald/rmol.co]

Baca Selanjutnya

Jusuf Kala MONOPOLI ENERGI NASIONAL

 

Saat Prabowo di Debat Capres mengatakan ke JK "Jangan Pura2 Bersih"dan Jokowi bilang sebenarnya kita semua sudah tahu siapa saja kelompok yg menikmati masalah sumber energi. ( Menepuk air di dulang terpercik muka sendiri.Berlind

ung dibalik topeng kemunafikan ). Subhanallaaaaah

Monopoli energy Proyek PLTA/PLTU/PLTG Kalla Group Sulawesi Selatan :
1. PLTA Karama, Mamuju Rp 6 T
2. PLTA Ussu, Lutim (Bukaka Group)
3. PLTA Pinrang Rp 1,44 T (Bukaka Group)
4. PLTA Jeneponto (Bosowa)Sulawesi Tengah :
5. PLTA Poso I, II, III Rp 3 T (Kalla Group) … namun masyarakat sekitar tidak mendapat pasokan listrik krn dialihkan ke Sulsel dan SulbarSumatera Utara :
6. PLTA Pintu Pohan, Sumut (PT Bukaka Barelang Energy-Achmad Kalla)
7. PLTA Asahan, Sumut (PT Bukaka Barelang Energy-Achmad Kalla)
8. PLTG Sarulla, Tarutung, Sumut (PT Bukaka Barelang Energy-Achmad Kalla)
9. PLTG Pulau Sembilang, Batam US$92jt (PT Bukaka Barelang Energy-Achmad Kalla)
10. PLTA Merangin, Kerinci, Jambi US$700jt (Kalla Group)Pulau Jawa :
11. PLTU Cilacap, Jateng (Intim Group-Halim Kalla).

Seperti lagunya SLANK: Maling teriak Maling.Selamat Hari Tenang.Salam Indonesia Damai.

(Sebarkan Biar Adil.Jangan sok suci.Ini bukan fitnah tapi nyata, fakta dan hanya reaksi pembalasan dari pelecehan Jkw-JK ke kubu Prabowo-Hatta)
Baca Selanjutnya

Memilih di Tengah Kampanye Separatisme


Rintik hujan di musim winter, pukul satu siang itu. Usai memarkir mobil, saya melangkah menuju KJRI Perth, menunaikan tugas sebagai warga negara hari ini, mencoblos. Alangkah kagetnya saya, ada beberapa orang bule melakukan kampanye mendukung separatisme Papua di depan gedung KJRI, diawasi dua orang polisi Australia.


Mereka membawa bendera bintang kejora, menuntut referendum dan membawa poster bertulis NO PRABOWO. Mereka memanggil saya dan meminta saya memilih pasangan no. urut 2 dan mengatakan Prabowo adalah kriminal, brutal, penjahat dan orang berbahaya. Jangan dipilih.

Tersentak, dalam hati saya berkata, “Apa urusan kalian mengurus urusan domestik negara saya? Bukankah hanya kampanye sosmed satu-satunya yang dibolehkan saat ini?” Sambil membatin saya melangkah menuju tempat pencoblosan di halaman parkir KJRI. Menunaikan tugas saya, mencoblos. Usai mencoblos dan bercengkrama dengan home staffs KJRI, saya pamit kepada Pak Konjen dan berniat pulang.



Di luar pagar, pihak pendemo memanggil dan memberikan saya brosur-brosur separatisme. Maka saat itu spontan saya bertanya, “Kenapa kalian berkampanye menyuruh kami memilih Jok**i dan melakukan kampanyi hitam terhadap Prabowo? Kalian tahu tidak, 1 minggu sebelum pemilihan, pemerintah Indonesia menetapkan ini sebagai minggu tenang. Kalian mestinya tidak melakukan hal ini, karena ini sangat tidak etis.”



Seorang wanita, berkulit putih, membantah, “kami berhak berkampanye karena kami adalah negara demokratis yang bebas, dan kami tidak terikat sama sekali dengan peraturan Indonesia”, arogan wanita itu menjawab.

Jawab saya, “Okay, berarti kalian warga negara Australia tidak bisa menghargai negara kami. Kalau kalian mau demo, itu bukan urusan saya. Tapi kalau kalian melakukan kampanye hitam terhadap salah satu calon presiden RI yang sah (legitimate), apalagi di minggu tenang, maka itu artinya anda melanggar urusan domestik negara kami.”

“Tapi kami tidak mau negara dipimpin oleh seorang pembunuh dan pelanggar HAM yang jahat”, timpal temannya, masih ngotot. “

"Apa kalian yang lebih tahu tentang pemimpin kami dibandingkan rakyat Indonesia sendiri? Kalian lihat, di Mahkamah Internasional, yang dijatuhi vonis sebagai pelanggar HAM bukan Prabowo tapi mantan Panglima TNI. Dan orangnya juga tidak berada di kubu Prabowo. Justru Prabowo itu jenderal yang sangat memperhatikan kemanusiaan. Dalam operasi pembebasan sandera asing dari UK dan Belanda, yang ditawan di Mapenduma, anda lihat di youtube. Lihat betapa Prabowo sangat peduli dengan keselamatan nyawa setiap manusia. Tidak hanya nyawa sandera, tapi juga nyawa para penyandera. Karena bagi Prabowo, setiap manusia punya ibu dan keluarga yang membutuhkan dan menyayangi mereka, seperti juga kalian”, saya masih mencoba bersabar menjelaskan kepada mereka.

“Tapi hingga kini di Papua tetap terjadi pembunuhan oleh tentara terhadap rakyat Papua. Dan, mereka tetap hidup dalam kemiskinan yang parah”, seolah tak mau kalah, wanita berlogat Australia yang kental itu terus mempertahankan argumentasinya.

“Kalian dengar ya baik-baik. Sekitar tanggal 7 Juni lalu, tentara Indonesia dibunuh saat patroli di Papua oleh pasukan separatisme. Lalu, TNI melakukan penangkapan, dan dalam proses baku tembak menelan korban pimpinan separatisme. Yang terjadi tidak hanya kriminal tapi juga melanggar kedaulatan negara. Apa membunuh tentara yang bertugas bukan aksi pelanggaran Ham?", gugat saya.

“Dan kenapa kalian orang Australia mengurusi urusan domestik Indonesia, sedang kalian sendiri menyimpan banyak masalah dengan penduduk asli disini, bangsa Aborigin. Bandingkan, di Papua, kami menempatkan saudara-saudara

Papua kami sebagai gubernur, anggota parlemen, dan di jabatan-jabatan strategis negara lainnya. Setidaknya, saudara Papua kami selalu ada yang menjadi menteri dalam kabinet yang dibentuk Presiden kami. Apa kalian melakukan hal itu terhadap kaum Aborigin disini?”, agak naik nada bicara saya kali ini.

“Dan, kalian tahu tidak, anggaran daerah Papua sekarang ini sangat besar, bahkan dibandingkan provinsi lainnya. Itu terjadi sejak Papua mendapatkan status otonomi khusus. Kemiskinan adalah tanggung jawab bersama, rakyat dan pemerintah daerah Papua, yang kekuasaannya dipegang orang Papua asli. Dan, kesejahteraan rakyat secara keseluruhan semakin diperhatikan pemerintah RI saat ini. Jadi lebih baik kalian mengurus urusan domestik negeri kalian sendiri!”. tutup saya tegas.

Lalu saya meninggalkan mereka yang terdiam. Dalam hati saya berkata, “untung waktu mencoblos tadi, saya tidak mengikuti apa yang kalian mau. Karena saya ingin NKRI selamanya utuh!”.

Prayudhi Azwar
Perth, 6 Juli 2014
Baca Selanjutnya

Tim Prabowo Nilai Jokowi Bohong Soal Koperasi pada debat capres-cawapres 5


JAKARTA, KOMPAS.COM - Tim pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa tetap yakin Joko Widodo pada saat kampanye pernah bicara bahwa petani tidak memerlukan koperasi.

Dalam debat terakhir capres-cawapres, Sabtu (5/7/2014), Prabowo bertanya perihal itu. Namun Jokowi membantah pernah menyebut petani tidak memerlukan koperasi dan menilai Prabowo telah mendapatkan informasi yang salah.

"Kita ada datanya. Ada di pemberitaan dari berbagai media online. Ada 18 berita kita kumpulkan. Ada buktinya, nanti saya kirimkan," kata Juru Bicara Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Tantowi Yahya, saat dihubungi, Minggu (6/7/2014).

Menurut Tantowi, Jokowi telah berbohong dan tak mengakui pernyataan yang dilontarkannya sendiri. Dia menyayangkan sikap Jokowi itu. Tantowi menilai, sikap Jokowi berbanding terbalik dengan Prabowo yang secara tegas mengakui pertanyaan JK, bahwa dia pernah berbicara soal tuduhan kleptokrasi.

"Bukan mengelak, tapi memang ingkar, dia itu ingkar seperti itu bukan hal yang baru. Janji 5 tahun memimpin Jakarta, tapi nyatanya belum 5 tahun sudah meninggalkan," ujar Tantowi.

Tantowi lalu mengirimkan sebuah link berita dari vivanews.co.id. http://m.news.viva.co.id/news/read/513611-joko-widodo-anggap-koperasi-tak-tepat-untuk-petani-dan-nelayan  Pemberitaan itu berjudul, "Joko Widodo Anggap Koperasi Tak Tepat Untuk Petani dan Nelayan".

Pemberitaan yang senada jga bisa dilihat disini : https://id.berita.yahoo.com/jokowi-dinilai-ciderai-cita-cita-luhur-pendiri-bangsa-132103762.html

Dalam berita itu disebutkan, Jokowi berkampanye di Indramayu, Jawa Barat pada 17 Juni 2014). Menurut artikel itu, Jokowi mengatakan, koperasi tidak cukup membantu para nelayan dan petani dalam hal permodalan. Menurut dia, paling efektif adalah dengan memberikan bantuan langsung supaya subsidi pemerintah untuk petani dan nelayan itu langsung dirasakan.

Namun, saat debat Jokowi menampik informasi tersebut. Jokowi mengatakan Prabowo mungkin salah baca atau salah dengar karena menurut Jokowi semua orang tahu bahwa koperasi adalah soko guru perekonomian. Dalam video YouTube, saat ke Indramayu, Jokowi menandatangani piagam perjuangan Desa Karangsong yang salah satu butirnya justru memperkuat koperasi nelayan.

Baca Selanjutnya

Terungkap lagi kebohongan jokowi pada debat capres-cawapres 5


"Solo pernah mendapat penghargaan Green City dari Kementerian Lingkungan Hidup, bisa dicek," ujar Jokowi semalam.

Dalam acara debat tadi malam Jokowi mengaku pernah mendapatkan penghargaan green city dari Kementerian Lingkungan Hidup. Jokowi juga mengatakan bisa di cek.

Berikut hasil pengecekan ke TKP.

Penelusuran tim pada hari Minggu didapatkan keterangan bahwa Jokowi memang pernah raih penghargaan sebagai Green City pada tahun 2012 silam.

Pemberian itu dilakukan di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa 10 Juli 2012 dan dihadiri oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dan Menperin MS Hidayat.

Tapi PEMBERIAN ITU TIDAK DILAKUKAN OLEH KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP !

Ternyata yg memberi penghargaan adalah pihak swasta bernama The La Tofi School of CSR,

The La Tofi School of CSR adalah sebuah lembaga yang berkonsentrasi dalam hal pelestarian alam.

Lembaga ini kemudian membuat Indonesia Green Award yang kemudian menilai perorangan, perusahaan atau lembaga pemerintah yang berperan serta dalam pelestarian alam.

Tim penilai dalam penghargaan IGA 2014 antara lain

1. La Tofi (Chairman The La Tofi School of CSR),

2. Hadi Daryanto (Sekjen Kementerian Kehutanan),

3. Aryanto Sagala (Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kementerian Peridustrian),

4. Mohamad Hasan (Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PU),

5. Sudirman Saad (Dirjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan),

6. Rida Mulyana (Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM).

Tapi, The La Tofi School of CSR bukanlah lembaga resmi yang berafiliansi kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Bo'ong lagi boong lagi.. hehe

Baca Selanjutnya

Jumat, 04 Juli 2014

Karena 5 alasan ini,ulama & habaib se Jatim dukung Prabowo-Hatta


Merdeka.com - Ulama dan habaib di Jawa Timur sepakat mendukung pasangan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa di Pilpres 9 Juli mendatang. Ada lima poin yang menjadi alasan mendukung pasangan Prabowo - Hatta.

Melalui forum Silaturahmi Ulama dan Habaib Jawa Timur, yang digelar di kediaman tokoh Madura di Surabaya, Ali Badri Zaini di Jalan Gadung, pada hari ini, Rabu siang (4/6), para ulama dan habaib mendeklarasikan diri sebagai pendukung pasangan yang diusung Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), dan Golkar itu.

Dalam deklarasi itu, mereka juga menyatakan sikap bersama yang berisi lima alasan. Yang pertama, kata Ali Badri Zaini selaku Koordinator Relawan Prabowo - Hatta, Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu memimpin bukan dipimpin.

"Yang kedua kami membutuhkan pemimpin yang mampu membangun Indonesia yang bersatu, adil dan makmur serta bermartabat. Ketiga, kami membutuhkan pemimpin yang cerdas, jujur, tegas berintegrasi dan berwibawa," katanya.

Kemudian, Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu berkomunikasi dan bernegosiasi, dan lebih dekat membela kepentingan umat Islam serta kepentingan bangsa. "Dan yang terakhir kami membutuhkan pemimpin yang amanah," tegas Ali Badri.

Sementara itu, dalam deklarasinya, penggagas dukungan untuk Prabowo-Hatta sekaligus sebagai sang deklarator, Habib Zaid Alwi Alkaf mengatakan, dalam musyawarah dan menimbang secara syariat menggunakan kaedah akhfud dhararain (yang lebih minimal kekurangannya), disimpulkan bahwa Prabowo Subianto lebih maslahat dipilih sebagai presiden.

"Berdasarkan musyawarah dengan para ulama dan habaib se Jawa Timur itu, kami memutuskan mendukung Prabowo-Hatta, yang Insya Allah akan membawa kebaikan bagi umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia," tandas Habib Zaid Alwi.

Baca Selanjutnya

12 Ormas Islam Deklarasi Dukung Prabowo-Hatta


MENTENG (Pos Kota) – Simpatisan yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) memberikan dukungan kepada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa di Menteng Square, Jakarta, Jumat (4/7).



Sebanyak 12 ormas yang mendeklarasikan dukungannya itu di antaranya Nahdatul Ulama, Persatuan Islam, Al-Irsyad Al Islamiyah, Mathaul Anwar, Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, IKADI, Azikra, Syarikat Islam Indonesia, Al-Wasliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), dan Persatuan Umat Islam (PUI).(toga/d)

Baca Selanjutnya