كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Selasa, 11 Juni 2013

DEKLARASI KHARTOUM Yang Terlupakan

 

21688_408246219248442_69349953_n

PENDAHULUAN

Takala Perang Enam Hari berakhir pada 10 Juni 1967, yang merupakan perang Arab-Israel yang ketiga, maka Israel sebagai pemenang mengusai wilayah yang luasnya empat kali dari luas wilahnya. Pamor dan posisinya melonjak, sementara Negara-negara Arab harus menanggung akibat sebagi pihak yang kalah, di mana Israel saat itu telah mengalahkan Mesir, Yordania dan Suriah. Sudah kehilangan wilayah, mereka pun harus menanggung malu serta terkuras kekuatan militer maupun ekonominya. 

Dari posisi tawarnya yang kini jauh lebih kuat, Israel beranggapan dan bahkan yakin, bahwa akhirnya dia akan memperoleh kedamaian. Karena berangkat dari kekuatannya itu, Tel Aviv percaya akan mampu menekan Negara-negara Arab dalam perundingan perdamian. Israel pun sudah bermimpi bahwa kekerasan dan perang-perang yang selalu mewarnai sejarahnya, segera akan berakhir.

DEKLARASI KHARTOUM

Berlawanan dengan harapan Israel, meskipun mereka kalah dalam Perang Enam Hari, negara-negara Arab ternyata tetap keras dan teguh sikapnya dalam menolak serta memusuhi negara Yahudi tersebut.  Kurang dari dua bulan setelah  Perang Enam Hari pada tahun 1967 tersebut, negara-negara Arab dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) berkumpul di Khartoum, Sudan, untuk mendiskusikan konsekuensi dari perang dan menyusun strategi selanjutnya. 

Delapan Kepala Negara Arab yang menghadiri Konferensi Khartoum pada 29 Agustus - 1 September, 1967, berasal dari Mesir, Arab Saudi, Sudan, Yordania, Lebanon, Kuwait, Irak dan Yaman. Maroko, Libya, Tunisia dan Aljazair yang diwakili oleh para Perdana Menteri mereka. Perdana Menteri Suriah tidak hadir, tetapi diwakili oleh Menteri Luar Negeri, Dr. Ibrahim Makhous, pada Konferensi Tingkat Menlu yang mendahului KTT dan menyusun agendanya. Organisasi Pembebasan Palestina diwakili oleh Ahmed Shukairy, tapi PLO tidak menandatangani Deklarasi ini, karena tidak setuju dengan itu.[1]

KTT ini  menghasilkan resolusi “Tiga Tidak”, yang meliputi :

1.  tidak akan ada pengakuan terhadap Israel, 

2.  tidak akan ada perundingan dengan Israel, dan 

3.  tidak akan ada perdamaian dengan Israel.

Dengan Resolusi Khartoum tersebut, baik Israel maupun negara-negara Arab tidak berharap untuk tercapainya kesepakatan damai. Masing-masing lalu menyiapkan diri untuk konfrontasi besar selanjutnya. Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser kemudian di Kairo menambahkan “satu tidak” lagi, yaitu dalam memperjuangkan hak-hak yang sah dari rakyat Palestina, tidak akan ada konsesi apa pun bagi Israel. la menegaskan, semua hak rakyat Palestine maupun milik Arab lainnya yang telah diambil paksa oleh Israel dengan kekuatan, hanya akan dapat dipulihkan melalui kekuatan pula. Tidak lebih dan tidak kurang. 


Nasser tidak berhenti pada pidato atau sekadar main retorika saja, namun berpikir dan bertindak dengan nyata. Sebagai pemimpin yang barn kalah perang, ia tentu berusaha mengembalikan kepercayaan rakyat Mesir dan dunia Arab selekasnya. Karena itu ia pun merumuskan kebijaksanaan kemiliteran Mesir, yang dibaginya menjadi tiga tahap untuk menekuk Israel.

Tahap pertama ia sebut sebagai “Rehabilitasi Pertahanan”, yang selanjutnya setelah tahap ini berhasil dicapai, maka menyusul tahapan “Pertahanan Ofensif”, dan terakhir adalah tahap “Pembebasan”.[2]

PERANG YOM KIPPUR [1973]

Menurut versi "resmi" Perang Yom Kippur yang dimulai tgl 6 Oktober 1973 dimulai dengan aksi serangan dadakan Mesir dan Syria secara serempak terhadap Israel. Pasukan Mesir berhasil menerobos Sinai (wilayah Mesir yang diduduki Israel sejak Perang 6 Hari tahun 1967) sejauh beberapa mil dan pasukan Syria menerobos Dataran Golan (wilayah Syria yang direbut Israel tahun 1967). Kedua serangan terpisah namun terkoordinasi rapi itu menimbulkan kerugian besar bagi Israel sekaligus menjadi momen pertama kalinya dimana Arab berhasil mengalahkan Israel.


Namun kemudian Israel melakukan serangan balik dan berhasil memukul mundur Syria dari Golan dan mengancam balik ibukota Damaskus. Disusul kemudian serangan balik Israel atas Mesir yang berhasil menerobos Mesir dan mengepung Tentara Ketiga Mesir. Perang akhirnya berakhir melalui gencatan senjata yang disponsori Amerika dengan posisi tidak ada pihak yang menang maupun kalah.

Gencatan senjata pun ditetapkan melalui Konperensi Genewa yang diboikot Syria. Dan sejak saat itu terjadi perubahan orientasi politik luar negeri Mesir yang sangat tajam. Anwar Sadat menjauhi Uni Sovyet dan mendekati Amerika, sikap politik yang selanjutnya ditiru oleh pemimpin-pemimpin Arab lainnya. Ia bahkan berkoar-koar bahwa Sovyet tidak serius membantunya dalam perang.[3]


PENGKHIANATAN TERHADAP DEKLARASI KHARTOUM


Meskipun Deklarasi Khartoum menghasilkan resolusi "3 Tidak", yaitu tidak akan ada pengakuan terhadap Israel, tidak akan ada perundingan dengan Israel, dan tidak akan ada perdamaian dengan Israel, namun di tengah perjalanannya, satu per satu negara-negara Arab mulai melupakan Deklarasi tersebut dan melakukan negosiasi dan perdamaian dengan Israel, sebagaimana di bawah ini:

1. Perjanjian Camp David

Perjanjian Perdamaian ini ditandatangani pada tanggal 17 September 1978 di Gedung Putih yang diselenggarakan untuk 'perdamaian' di  Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter memimpin perundingan rahasia yang berlangsung selama 12 hari antara Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin. Perjanjian ini mendapatkan namanya dari tempat peristirahatan milik para presiden AS, Camp David, di Frederick County, Maryland.[4]

Perjanjian ini juga melahirkan Perjanjian Damai Israel-Mesir  pada tahun 1979.

2. Perjanjian Damai Yordania-Israel


Pada Tanggal 26 Oktober 1994 Yordania dan Israel menandatangani perjanjian perdamaian dalam sebuah upacara yang diadakan di lembah Arava Israel, utara Eilat dan dekat perbatasan Yordania. Perdana Menteri Yitzhak Rabin dan Perdana Menteri Abdelsalam al-Majali menandatangani perjanjian dan Presiden Israel Ezer Weizman berjabat tangan dengan Raja Hussein. Presiden AS saat itu, Bill Clinton menjadi pengawas, yang didampingi Menteri Luar Negeri AS Warren Christopher.

3. Perjanjian Oslo


Pada awal 1990-an, PLO mengubah taktik perjuangannya. PLO mulai meninggalkan cara-cara keras menggunakan senjata dan mulai mencoba cara-cara diplomasi. Pada awal 1993, para perunding Israel dan PLO melakukan serangkaian pembicaraan rahasia di Oslo, Norwegia.


Selama proses perdamaian Oslo, kedua pihak diwajibkan merundingkan solusi dua negara. Namun, pembicaraan menuju solusi dua negara gagal dan PLO-Israel mencoba mencari kesepakatan yang saling menguntungkan. Proses pembicaraan ini akhirnya selesai pada 20 Agustus 1993.

Salah satu bagian penting Perjanjian Oslo ini adalah terbentuknya pemerintahan Otorita Palestina yang membawahi Jalur Gaza dan Tepi Barat. Di bawah perjanjian ini Palestina mulai mendapat wewenang memerintah di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Palestina bahkan sudah bisa membentuk perangkat pemerintahan, kepolisian, parlemen, dan institusi pemerintahan lain. Balasannya, Otorita Palestina harus mempromosikan toleransi terhadap Israel dan mengakui hak Israel untuk tetap eksis.

Namun, kesepakatan ini ditentang Hamas dan sejumlah faksi radikal Palestina yang siap melakukan perjuangan bersenjata, termasuk aksi bom bunuh diri di Israel demi membebaskan Palestina.[5] 

PENUTUP

Meskipun Suriah telah dikhianati oleh Mesir melalui Anwar Saddat, dan satu per satu para pemimpin negara-negara Teluk telah berdamai dan melunak dengan Israel, Maka otomatis yang masih tetap setia dengan Deklarasi Khartoum satu-satunya adalah Suriah.

Hal ini dibuktikan dengan keberpihakan Suriah kepada Lebanon, ketika Israel menginvasinya pada tahun 1982, yang akhirnya dikenal dengan Perang Lebanon I, yang berlangsung selama 18 tahun, cukup lama untuk disebut sebagai "sandiwara".
Di samping hanya Damaskus yang berani menanggung resiko dimusuhi AS-Israel dan sekutu-sekutunya dengan menaungi beberapa faksi Perjuangan Palestina, seperti Hamas, Hizbullah, Jihad Islam Palestina, dan PFLP.[6] 

Kesimpulannya sekarang, ada di pihak mana para "mujahidin" yang katanya memusuhi Israel, tapi sekalipun tidak pernah ada operasi militer terhadap Israel, dan malah menggoyang Suriah? Mengapa mereka tidak memerangi negara-negara atau pihak-pihak yang telah menggadaikan tanah Palestina?

--------------------------------------

Footnote:

[1] http://middleeast.about.com/od/documents/qt/khartoum-declaration-1967.htm

[2] http://sejarahperang.com/2008/07/11/buyarnya-impian-kedamaian-di-timur-tengah/#more-68

[3] http://cahyono-adi.blogspot.com/2012/09/sadat-khianati-syria-dalam-perang-yom.html#.UYk6baLQn-Y

[4] http://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Perdamaian_Camp_David

[5] http://internasional.kompas.com/read/2012/11/30/0645155/Dari.Camp.David.hingga.Perjanjian.Oslo

[6] https://www.facebook.com/notes/fuad-thahir/sekilas-faksi-faksi-perjuangan-palestina/537421366284688

Sumber

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)