كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Sabtu, 31 Agustus 2013

KRISIS KEMANUSIAAN, PINTU MASUK AS DAN NATO KE SURIAH


Oleh : dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT.*

Perang Sipil di Suriah tampaknya akan melibatkan AS dan NATO, seperti di Libya saat menjatuhkan Qaddafi. Pintu masuk yang paling memungkinkan bagi AS dan NATO untuk masuk adalah atas nama dan alasan krisis kemanusiaan.

Krisis kemanusiaan yang menjadi pintu masuk tersebut adalah pembantaian massa (massacre) dan senjata pemusnah massal (weapon mass destruction/WMD). Seperti saat intervensi militer ke Libya, AS, dan NATO menggunakan alasan pembantaian penduduk sipil oleh Qaddafi.

PBB hanya memberikan wewenang untuk zona larangan terbang (no fly zone) kepada AS dan NATO. Akan tetapi, wewenang tersebut diperluas oleh mereka untuk ikut bertempur di darat.

PBB tidak pernah menyalahkan mereka. Contohnya, Iraq ketika diserang dengan alasan Saddam Husein memiliki nuklir dan senjata kimia. Walaupun akhirnya, AS tidak menemukan nuklir dan senjata kimia tersebut.

PBB juga tidak pernah menyalahkan mereka karena rekayasa gagal itu. Akibatnya, rakyat Iraq-lah yang kemudian meregang nyawa karena aksi AS dan NATO tersebut.

Alasan Krisis Kemanusiaan

Demikian pula yang terjadi di Suriah. Alasan krisis kemanusiaan ini sudah beberapa kali diciptakan supaya ada pintu masuk bagi AS dan NATO untuk intervensi militer dengan "legitimasi" PBB.

Pertama, pembantaian massal di Houla (Houla Massacre) pada 25 Mei 2012. Awalnya pembantaian Houla dituduhkan kepada rezim pemerintah. Namun, dalam perjalanan waktu, PBB sendiri ternyata tidak bisa mengambil kesepakatan untuk menyalahkan rezim, karena korban yang terbunuh adalah pendukung Bashar AlAssad, dengan beberapa korban disembelih.

Sebenarnya pembantaian massal lain masih ada, tapi peristiwa Houla ini menjadi penting karena membuat beberapa Duta Besar Suriah diusir dari negara-negara Barat.

Sebenarnya, peristiwa Houla ini sudah hampir berhasil dijadikan sebagai alasan untuk intervensi militer (legitimated millitary intervension). Kecurigaan hal ini rekayasa muncul karena ada foto yang disiarkan oleh BBC sebagai peristiwa pembantaian Houla, ternyata adalah foto di Iraq. Media Barat BBC menyatakan bahwa foto tersebut dikirim oleh "aktivis". Fotografernya, Michael de Lauro melakukan protes, sehingga publik mulai mengendus adanya rekayasa.

Kedua, peristiwa pembantaian di Khan Al-Assal. Korban yang berjatuhan sepertinya disebabkan oleh senjata kimia. Telunjuk pun ditujukan kepada rezim pemerintah. PBB mengirim tim investigasi di bawah pimpinan Carla de Ponte.

Carla de Ponte menyatakan bahwa pelaku serangan senjata kimia adalah dari pihak oposisi, tidak dilakukan oleh rezim. Tetapi, PBB tidak menindaklanjuti temuan Carla de Ponte ini menjadi sebuah keputusan.

Ketiga, pembantaian massal di Ghouta yang disebabkan oleh senjata kimia. Hal ini juga langsung dituduhkan kepada rezim pemerintah.

Sekali lagi dengan perjalanan waktu mulai timbul hal-hal yang tidak bersesuaian (unacceptable data) dengan tuduhan pihak oposisi terhadap rezim.

Pembantaian massal Gouta akibat senjata kimia sangat tidak menguntungkan posisi rezim karena dapat mengundang intervensi militer terhadap Suriah oleh AS dan NATO. Tentu agak kurang masuk akal kalau rezim melakukan serangan senjata kimia pada 21 Agustus 2013, sementara tim investigasi PBB yang diundang oleh rezim sudah ada beberapa hari sebelumnya di Damaskus.

Sungguh, ada pihak tertentu yg ingin ada korban massal senjata kimia sehingga PBB dapat memberikan legitimasi kepada AS dan NATO untuk intervensi militer ke Suriah. Wallahu a’lam. (L/R1/P02).


*Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)


Mi’raj News Agency (MINA)

http://www.mirajnews.com/artikel/opini/8658-krisis-kemanusiaan-pintu-masuk-as-dan-nato-ke-suriah.html

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)