كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Jumat, 12 April 2013

Menyikapi peristiwa karbala dari sudut pandang ASWAJA



By Sayyid Ibra Assegaf
Assalamu'alaikum warahmatullahi ta'ala wabarakatuh
Ya Muhibbin, Kita tau bahwa kisah pembunuhan yang terjadi terhadap Sayyidina Hussein begitu memilukan bagi kita, namun kita harus bijak dalam hal ini, kita harus melihat peristiwa tersebut dengan bijak dan hati yang luas, kita tidak di benarkan untuk membenci siapapun dalam hal ini, sebab didalam ajaran islam tidak ada ajaran untuk dendam kepada orang yang telah wafat.

Jika kita baca atau dengar tentang riwayat ucapan-ucapan para datuknya alawiyyin seperti Imam Ahmad bin Isa Al Muhajjir, Imam Isa Ar-Rumi Imam Muhammad An-Naqib, Imam ‘Ali Uraidhi, Imam Ja’far As-Shadiq, Imam Muhammad Al-Baqir tidak kita temukan tulisan atau ucapan mereka yg berisi nada 'dendam' kepada Yazid dan keturunannya,

Allah swt yg berhak menghukumi dan mengadili para pendosa, kita berpegang pada Thariqah alawiyyin sebagai Thariqah ahlulbait yg bersifat pemaaf, dan mereka yg bersifat pendendam maka mereka telah bertentangan dg ajaran ahlulbait itu sendiri, seluruh Ulama Ahlul Bait telah memaafkan Yazid, karena mewarisi sifat pemaaf dari Datuknya, sayyidina Muhammad saw.

Sayyidina Hasan ra sendiri yg berkata : "aku tahu siapa yang meracuniku namun aku telah memaafkannya, dan Sayyidina Husein ra pun tentunya demikian, inilah sifat sifat Nabawi yg mesti kita warisi, dan kita bukan pewaris sifat pendendam, karena pendendam adalah sifat Iblis yg semestinya tak ada pada jiwa setiap mukmin,

Sayyidina Hasan ra dan Husein ra telah termuliakan dg kejadian itu, mereka telah mendapat balasan atas perjuangan mereka, demikian pula Muawiyah dan Yazid, mereka sudah mendapat ganjaran atas perbuatan mereka, jika Allah mau maka mereka diampuni, jika tidak maka akan disiksa, lalu apa urusan kita mencampuri urusan Allah swt untuk turut mengadili?

Terkecuali bila kejadian itu baru terjadi, maka kita akan menimbang masalah ini, siapa saksinya, bagaimana kejadiannya, namun jika itu telah terjadi 14 abad yg silam lalu kita masih mendendamnya?,

Seakan kita merasa Allah swt tidak cukup adil hingga kita harus ikut mengadili mereka,

Riwayatnya memang sangat menyedihkan, namun banyak yg dilebih lebihkan dan ditambahi-tambahi bahkan diselewengkan, mereka berusaha untuk merusak kemuliaan sahabat Rasul saw yang itu merupakan penghinaan pula pd Rasul saw.

Namun tidak semua buku lho, ada juga buku buku yg memang benar dan tak menyimpang dalam meriwayatkannya,

Imam Husein ringkasnya memang berperang melawan pasukan Yazid bin Mu'awiyah, dan terbunuh dalam peperangan itu, dan kepala cucu Rasul saw ini dibawa dan diacung2kan diujung tombak,

masih banyak para sahabat yg juga dibantai lebih dari pembantaian Imam Husein, namun kita harus berpikiran jernih melihat perkara ini, kesimpulan dari kejadian ini adalah :

1. Imam Husein termuliakan dg kejadian itu sebagai Imam Pemuda Ahli Surga.

2. Kejadian itu menjadikan kebanggaan bagi Rasul saw, bahwa cucunya harus melewati ujian seperti itu dan tabah, bahkan lulus sebagai Syuhada yg Luhur.

3. Kejadian ini seyogyanya bukan dijadikan kebencian atau diratapi hingga memukuli tubuh dlsb sebagaimana dilakukan kaum syiah, justru kejadian ini merupakan kebanggan ummat, terutama keturunan Rasul saw. siapa pula yg tak membanggakan seorang Imam Pemuda Ahli surga?, lalu apanya yg harus diratapi?,

4. Bila ditawarkan pada Imam Husein untuk wafat diatas singgasana Kerajaan dalam istana kemewahan yg akan membawa hisab dan perhitungan dihari kiamat, atau wafat ditebas pedang sebagai Imam Pemuda Ahli sorga, niscaya beliau akan memilih wafat sebagai syuhada.

Karena itu merupakan kebanggan atas beliau di akhirat kelak.

maka apapula yg harus diratapi?, bukankah Sayidina Hamzah bin Abdulmuttalib ra pun dibantai bahkan telah diracun pula Sayyidina Abubakar Asshiddiq ra, lalu Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman ditikam dengan belasan pedang.., lalu Sayyidina Ali kw dihantam pedang dikepalanya.., dan menyusul pula ribuan para sahabat lainnya..

Mereka semua berbangga diri dengan apa yg mereka dapatkan kelak dihari kiamat..

Ah.. kita tak mampu seperti mereka.. namun kita mencintai mereka semua, dan semoga kita dikumpulkan bersama mereka kelak, karena setiap orang akan bersama idolanya kelak dihari kiamat..

Wahai Allah kumpulkan kami kelak di hari kiamat dengan Idola kami, Sayyidina Muhammad saw..

Ahlussunnah waljamaah telah sepakat bahwa Mu'awiyyah dan Amr bin Ash adalah termasuk kalangan sahabat Radhiyallahu'anhum, wafat dalam cahaya tobat dan kebenaran,

Penghinaan thd mereka adalah penghinaan thd Rasul saw, sebagaimana sabda beliau saw : "Jangan kalian mencaci sahabatku, jika kalian berinfak Emas sebesar Gunung Uhud, belum menyamai satu genggaman mereka atau setengahnya" (Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan banyak lagi).

Maka telah sepakat para Ulama dan Imam Ahlulbait dan Imam lainnya untuk beradab kepada Nabi saw dengan memuliakan seluruh sahabat beliau saw, wallahu a'lam.

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)