كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Sabtu, 28 April 2012

BERIKUT TAFSIR KITAB-KITAB ULAMA



BERIKUT TAFSIR KITAB-KITAB ULAMA'

Mengenai ayat tentang

MANHAJ FIR'AUN, TUHAN BERTEMPAT DI LANGIT.

Saat Fir’aun mencoba meraba apa yang telah disampaikan oleh Nabi Musa alaihis salam saat musa di tanya siapa Tuhanmu, dan musa menjawab bahwa Tuhan Nabi Musa adalah “Tuhan yang memiliki langit dan bumi”.

Fir’aun mencoba dengan ber sangka-sangka di mana keberadaan Tuhan Musa itu.

Berangkat dari pikiran sempitnya yang menyangka “setiap yang ada pasti punya tempat”. dan pilihan yang ada cuma dua yakni di langit atau di bumi, dan bila di bumi tentu Nabi Musa as telah menunjukkan keberadaan Tuhannya.

Tapi nyata nya di bumi tidak ada.

Maka Fir’aun menyangka bahwa jika Tuhan Musa tidak di bumi, barangkali ada di langit.

Fir'aun yang telah termakan dengan asumsi nya sendiri yang salah kaprah, ia mencoba membuktikan keberadaan Tuhan Musa yang ia sangka bertempat di langit, sehingga ia perintahkan Haman untuk membangun bangunan yang tinggi, agar ia bisa melihat Tuhan Nabi Musa, sebagaimana di ceritakan dalam Al-Quran Surat Ghafir ayat 36-37 :


وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا وَكَذَلِكَزُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُعَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ (37)


“Dan berkatalah Fir`aun:“Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu [36] (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan nya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir`aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir`aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian [37]“.


Imam Ar-Razi [606 H] dalam mentafsirkan ayat ini menyatakan ada 4 masalah yang dipahami oleh golongan musyabbihah dari ayat ini :

وفي الآية مسائل
المسألة الأولى : احتج الجمع الكثير من المشبهة بهذه الآية في إثبات أن الله في السموات وقرروا ذلك من وجوه الأول : أن فرعون كان من المنكرين لوجود الله ، وكل ما يذكره في صفات الله تعالى فذلك إنما يذكره لأجل أنه سمع أن موسى يصف الله بذلك ، فهو أيضاً يذكرهكما سمعه ، فلولا أنه سمع موسى يصف الله بأنه موجود في السماء وإلا لما طلبه في السماء ، الوجه الثاني : أنه قال وإني لأظنه كاذباً ،ولم يبين أنه كاذب فيماذا ، والمذكور السابق متعين لصرف الكلام إليه فكأن التقدير فأطلع إلى الإله الذي يزعم موسى أنه موجود في السماء ،ثم قال : { وَإِنّى لأَظُنُّهُ كاذبا } أي وإني لأظن موسىكاذباً في إدعائه أن الإله موجود في السماء ، وذلك يدلعلى أن دين موسى هو أن الإله موجود في السماء الوجه الثالث : العلم بأنه لو وجد إله لكان موجوداً في السماء علم بديهي متقرر في كل العقول ولذلك فإن الصبيان إذا تضرعوا إلى الله رفعوا وجوههم وأيديهم إلى السماء، وإن فرعون مع نهاية كفره لما طلب الإله فقد طلبه في السماء ،وهذا يدل على أن العلم بأن الإله موجود في السماء علم متقرر في عقل الصديق والزنديق والملحد والموحد والعالم والجاهل .
فهذا جملة استدلالات المشبهة بهذه الآية


“Dan dalam ayat tersebut ada beberapa masalah.

Masalah pertama , kebanyakan golongan Musyabbihah (menyamakan Tuhan dengan makhluk) berhujjah dengan ayat ini dalam menyebutkan (Itsbat) bahwa Allah di langit, dan mereka menjelaskan nya dengan bermacam alasan :


Alasan pertama :

Sesungguhnya Fir’aun adalah dari pada pengingkar bagi ada (wujud) Allah, dan semua yang ia sebutkan tentang sifat Allah itu sungguh karena bahwa ia mendengar dari Nabi Musa as yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah ada di langit, seandainya bukan demikian, kenapa juga Fir’aun mencari Tuhan ke langit.


Alasan kedua :

Fir’aun berkata: “sungguh aku yakin Musa seorang pendusta” dan ia tidak menyatakan tentang apa Musa berdusta, alasan di atas (alasan pertama) memastikan maksud Fir’aun adalah Musa berdusta tentang keberadaan Tuhan di langit, seolah-olah Fir’aun berkata : “maka aku lihat Tuhan yang di anggap oleh Musa sesungguhnya Dia (Tuhan) ada di langit”, kemudian Fir’aun berkata :“sungguh saya yakin Musa seorang pendusta” yakni “sungguh aku yakin Musa berdusta tentang anggapan nya bahwa Tuhan ada di langit”, dan itu menunjukkan bahwa agama Musa adalah Allah ada di langit.


Alasan ketiga :

pengetahuan bahwa “kalau Tuhan ada, sungguh Dia ada di langit” adalah ilmu badihi (pengetahuan yang datang sendiri dan mustahil di tolak atau Fitrah) yang terdapat pada setiap akal, karena itu anak kecil saja apabila tunduk kepada Allah ia mengangkat wajah dan tangan nya ke langit, dan bahkan Fir’aun pun sedangkan ia sangat kufur, manakala ia mencari Tuhan, maka ia cari ke langit, dan ini menunjukkan sungguh mengetahui Tuhan ada dilangit adalah ilmu yang terdapat pada akal orang yang benar, dan Zindik, dan Mulhid, dan Muwahhid, dan Alim dan Jahil. Inilah kesimpulan cara berdalil kaum Musyabbihat dengan ayat ini” [Lihat Tafsir Al-Kabir Ar-Razi, surat Ghafir : ayat 36-37] .

Dan Imam Ar-Razi pun telah menjawab tiga alasan kaum Musyabbihah di atas, dalam Tafsir nya.

Imam Ar-Razi telah menjawab tiga alasan kaum Musyabbihah dalam berdalil dengan ayat tersebut, ini lanjutan dari tafsir Ar-Razi di atas :

والجواب :
أن هؤلاء الجهال يكفيهم في كمال الخزي والضلال أن جعلوا قول فرعون اللعين حجة لهم على صحة دينهم ، وأما موسى عليه السلام فإنه لم يزد في تعريف إله العالم على ذكر صفة الخلاقية فقال في سورة طه { رَبُّنَا الذى أعطى كُلَّ شَىء خَلْقَهُ ثُمَّ هدى} [ طه : 50 ] وقال في سورة الشعراء { رَبُّكُمْ وَرَبُّءابَائِكُمُ الأولين * رَبُّ المشرق والمغرب وَمَا بَيْنَهُمَا } [ الشعراء : 26 ، 28] فظهر أن تعريف ذات الله بكونه في السماء دين فرعون وتعريفه بالخلاقية والموجودية دين موسى ، فمن قال بالأول كان على دين فرعون ، ومن قال بالثاني كان على دين موسى ، ثم نقول لا نسلم أن كل ما يقوله فرعون في صفاتالله تعالى فذلك قد سمعه من موسى عليه السلام ، بل لعله كان على دين المشبهة فكان يعتقد أن الإله لو كان موجوداً لكان حاصلاً في السماء ، فهو إنما ذكر هذا الاعتقاد من قبل نفسه لا لأجل أنه قد سمعه من موسى عليه السلام .
وأما قوله { وَإِنّى لأَظُنُّهُ كاذبا } فنقول لعله لما سمع موسى عليه السلام قال : { رَبّالسموات والأرض } ظن أنه عنى به أنه رب السموات ، كما يقال للواحد منا إنهرب الدار بمعنى كونه ساكناً فيه ،فلما غلب على ظنه ذلك حكى عنه ، وهذاليس بمستبعد ،فإن فرعون كان بلغ في الجهل والحماقة إلى حيث لا يبعد نسبة هذا الخيال إليه ، فإن استبعد الخصم نسبة هذا الخيال إليه كان ذلك لائقاً بهم ، لأنهم لما كانوا على دين فرعون وجب عليهم تعظيمه . وأما قوله إن فطرة فرعون شهدت بأن الإله لوكان موجوداً لكان في السماء ، قلنا نحن لا ننكر أن فطرة أكثر الناس تخيل إليهم صحة ذلك لا سيما من بلغ في الحماقة إلى درجة فرعون فثبت أن هذا الكلام ساقط .
“Jawab :

Sesungguhnya mereka (Musyabbihah) adalah orang-orang yang jahil, yang membuat mereka semakin lengkap dalam kehinaan dan kesesatan, oleh karena mereka telah menjadikan perkataan Fir’aun yang terlaknat, sebagai dalil mereka atas kebenaran agama mereka, sementara Nabi Musa as dalam memperkenalkan Tuhan, tidak lebih dari sekedar menyebutkan sifat penciptaan, sebagaimana dalam surat Thoha :50 “Tuhan kita adalah yang memberikan tiap sesuatu bagi makhluk-Nya kemudian memberi petunjuk” dan sebagaimana dalam surat Asy-Syu’ara ayat 26, 28 “Tuhan kalian dan Tuhan bapak kalian yang terdahulu – Tuhan timur dan barat dan diantara kedua nya”

Maka nyatalah bahwa memperkenalkan Tuhan dengan keadaannya di langit adalah keyakinan i'tiqod Fir’aun, dan memperkenalkan Tuhan dengan penciptaan dan makhluk adalah agama Nabi Musa, siapa yang berpendapat dengan yang pertama, adalah ia di atas keyakinan Fir’aun, dan siapa yang berpendapat dengan yang kedua, adalah ia di atas agama Nabi Musa,

kemudian kita menjawab : kita tidak bisa menerima bahwa semua yang disebutkan Fir’aun tentang sifat Allah ta’ala karena ia pernah mendengar dari Nabi Musa as, tapi karena Fir’aun berada dalam persangkaan Musyabbihah, maka tentu ia berkeyakinan jika memang Tuhan ada, pasti Dia berada di langit, maka keyakinan Fir’aun ini sungguh datang dari diri nya, bukan karena mendengar dari Nabi Musa, adapun perkataan Fir’aun “sungguh aku yakin Musa adalah pendusta” maka kita jawab,

ketika Fir’aun mendengar Nabi Musa berkata “Tuhanku Tuhan Pencipta langit dan bumi” lalu Fir’aun menyangka maksud Nabi Musa as bahwa Tuhan nya menetap di langit, sama seperti ungkapan “dia yang punya rumah ini” maksud nya dia tinggal dirumah itu.

Ketika Fir’aun semakin yakin dengan sangkaan nya maka ia sebutkan asumsi nya, dan ini terjadi, karena Fir’aun adalah sangat jahil sehingga wajar berasumsi demikian kepada nya, bila ada yang bilang tidak mungkin Fir’aun berasumsi demikian, itu karena asumsi tersebut layak dengan mereka, ketika mereka berada di atas keyakinan Fir’aun, tentu mereka sangat menghargai apa yang jadi persangkaan Fir’aun itu, dan adapun alasan Musyabbihhah “sesungguhnya fitrah Fir’aun bersaksi bahwa Tuhan kalau Dia ada sungguh Dia berada di langit”

maka kita jawab: kita tidak mengingkari bahwa fitrah kebanyakan manusia menyangka benar demikian, apa lagi orang yang kejahilannya telah setingkat kejahilan Fir’aun, maka alasan fitrah tidak bisa menjadi alasan yang dapat di terima ” . [Lihat Tafsir Ar-Razi, surat Ghafir : ayat 36-37]

Imam Abu Mansur Al-Maturidi berkata :

للمشبهة تعلق بظاهر هذه الآية يقولون: لولا أن موسى – عليه السلام – كان ذكر وأخبر فرعون: أن الإله في السماء، وإلا لما أمر فرعون هامان أن يبني له مايصعد به إلى السماء ويطلع على إله موسى على ما قال تعالى خبراً عن اللعين.
لكنا نقول: لا حجة لهم؛ فإنه جائز أن يكون هذا من بعض التمويهات التي كانت منه على قومه في أمر موسى – عليه السلام

“Kaum Musyabbihah [menyerupakan Allah dengan makhluk] berpegang dengan dhohir ayat ini, mereka beralasan : Seandainya bukan karena Musa as telah menyebut dan memberitahu Fir’aun bahwa Tuhan di atas langit, sungguh Fir’aun tidak menyuruh Haman membangun bangunan agar ia dapat naik ke langit dan melihat Tuhan Nabi Musa, sebagaimana Firman Allah menceritakan pernyataan Fir’aun [Al-La'in].

Tetapi kita menjawab : Tidak ada dalil yang jelas bagi mereka, karena sebenarnya pernyataan Fir’aun tersebut sebagian dari kedustaan atau kepura-puraan Fir’aun kepada kaum nya tentang Musa as”.
[Lihat Tafsir Ta'wilat Ahlus Sunnah surat Ghafir ayat 37].


Imam Al-Qusyairi [465 H] berkata :

ولو لم يكن من المضاهاة بين مَنْ قال إن المعبودَ في السماء وبين الكافر إلا هذا لكفي به خِزْياً لمذهبم . وقد غَلِطَفرعونُ حين تَوَهَّمَ أنَّ المعبودَ في السماء ، ولو كان في السماء لكان فرعونُ مُصِيباً في طَلَبِه من السماء .
قوله جل ذكره : { وَكَذَالِكَ زُيِّنَلِفِرْعَوْنَ سُوءُعَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ فِى تَبَابٍ } .
أخبر أنَّ اعتقادَه بأنَّ المعبودَ فيالسماء خطأٌ ، وأنَّهبذلك مصدودٌ عن سبيل الله

“Tiada persamaan antara orang yang berkata bahwa Tuhan di langit dengan orang Kafir [yang menyembah berhala di bumi] kecuali mereka [sama-sama meyangka Tuhan bertempat], sungguh cukup dengan ini, kehinaan pendapat mereka (kaum musyabihah yang menganggap Tuhan Bertempat). Dan sungguh Fir’aun salah sangka ketika memahami bahwa Tuhan di langit, seandainya benar Tuhan di langit, sungguh Fir’aun benar pada mencari Tuhan ke langit, sementara pada Firman Allah selanjutnya, Allah Berfirman dengan pernyataan

وَكَذَالِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِوَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ فِى تَبَابٍ

Allah menyatakan bahwa i’tiqad Fir’aun (“Tuhan di langit”) itu adalah persangkaan yang salah, dan dengan demikian ia pun tertutup dari jalan Allah”.
[Lihat Tafsir Lathaif Al-Isyarat surat Ghafir ayat 37] .


TAFSIR At-Thabrani [360 H] berkata :

وَإِنِّي لأَظُنُّهُ كَاذِباً ، أي إني لأظن موسى كَاذِباً فيما يقولُ إنَّ له ربّاًفي السَّماء
“وَإِنِّي لأَظُنُّهُ كَاذِباً

Maksud nya, sungguh aku yakin Musa berdusta pada pernyataan nya bahwa bagi nya ada Tuhan di langit“.
[Lihat Tafsir At-Thabrani surat Ghafir ayat 37].


Di sini biasanya mereka yang berkeyakinan musyabihah mencoba mencari celah dengan menuliskan sebagian saja, atau memotong kutipan tafsir, untuk membenarkan pernyataan mereka pada artikel yang mereka tulis.

Padahal selanjutnya Imam At-Thabrani menjelaskan siapa yang meyakini Tuhan di langit.

ولما قالَ موسى: ربُّ السَّماواتِ، فظنَّ فرعون بجهلهِ واعتقاده الباطل أنه لَمَّا لَم يُرَ في الأرضأنه في السماء


“Dan mana kala Nabi Musa berkata : Robbu As-Samawat, Fir’aun menyangka dengan kejahilannya dan i’tiqad nya yang bathil, bahwa ketika Tuhan Nabi Musa tidak ada di bumi, pastilah Dia di langit“.
[Lihat Tafsir At-Thabrani surat Ghafir ayat 37].

KESIMPULAN

Manhaj Fir’aun adalah Manhaj nya orang-orang yang meyakini Allah bertempat di langit, karena Fir’aun orang yang menduga Allah bertempat di langit, hanya saja Fir’aun tidak percaya adanya Allah karena dirinya tidak bisa membuktikan sendiri dengan cara naik ke langit.

Ajaran Nabi Musa tidak mengajarkan keyakinan Tuhan berada di langit, tapi itu hanya salah kaprah Fir’aun dalam memahami apa yang disampaikan oleh Nabi Musa.

Subhanaka Robbi Izzati Amma Yashifun.

Wabillahi taufiq walhidayah wa ridho wal inayah

Wallahu'alam bis showab

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)