كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Senin, 25 Juni 2012

Makna Hadits: لاَ شَخْصَ أغْيَرُ مِنَ اللهِ وَلذَلكَ حَرّمَ الفَوَاحِشَ، وَلاَ شَخْصَ أحَبّ إلَيه الْمَدْحَة مِنَ الله



By  AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT
Hadits Ke Enam:

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Sahih dari sahabat al-Mughirah bahwa Rasulullah bersabda:

لاَ شَخْصَ أغْيَرُ مِنَ اللهِ وَلذَلكَ حَرّمَ الفَوَاحِشَ، وَلاَ شَخْصَ أحَبّ إلَيه الْمَدْحَة مِنَ الله

[Makna literal riwayat ini tidak boleh kita ambil, mengatakan: ”Tidak ada satu sosok-pun yang lebih cemburu dari pada Allah, karena itulah Allah mengharamkan segala keburukan (kejahatan). Dan tidak ada seorang-pun yang lebih senang terhadap pujian dari pada Allah”. Makna literal ini seakan mengatakan bahwa Allah sebagai sosok, tubuh, atau benda].
Kata “لا شخص” adalah redaksi dari beberapa orang perawi. Sementara sebagian perawi lainnya dengan menggunakan redaksi “لا شىء أغير من الله”. Terkait dengan hadits ini kebanyakan para perawi meriwayatkannya dengan redaksi yang mereka anggap sebagai maknanya, termasuk penyebutan kata “شخص” adalah dari redaksi yang buat oleh para perawi sendiri.

            Adapun pengertian dari hadits tersebut ialah: “Tidak ada sesosok-pun dari kalian…”. [Artinya, yang dituju adalah sosok-sosok sahabat Rasulullah yang ada bersamanya saat itu]. Oleh karena para sahabat berada di hadapan Rasulullah maka Rasulullah menegaskan dengan penyebutan kata “sosok” (syakhsh); artinya Rasulullah menyebutkan nama-nama mereka. Kata “sosok” (syakhsh) itu sendiri hanya diperuntukan bagi benda yang memiliki susunan-susunan. [Artinya mustahil Allah disebut dengan “sosok”]. Perumpamaan penggunaan bahasa semacam ini seperti perkataan sahabat Abdullah bin Mas’ud:

وَمَا خلقَ منْ جَنّة وَلا نَار أعْظَم منْ ءايَة الكُرْسيّ

Makna literal teks ini mengatakan: “Tidak ada makhluk, baik surga maupun neraka, yang lebih agung dari ayat kursi” [Makna literal ini seakan menyebutkan bahwa ayat Kursi (atau al-Qur’an) adalah makhluk sebagaimana surga dan neraka, padahal yang dimaksud bukan demikian. Kata “makhluk” di sini kembali kepada kata surga dan neraka, bukan kembali kepada ayat Kursi. Demikian pula dengan maksud hadits di atas; bukan untuk menetapkan bahwa Allah sebagai “sosok” (syakhsh), tetapi kata “شخص” di situ kembali kepada para sahabat yang ada di hadapan Rasulullah].

Dalam menjelaskan perkataan sahabat Abdullah bin Mas’ud di atas Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Kata “خلق” kembali kepada kata “الجنة” (surga) dan “النار” (neraka) bukan yang dimaksud kembali kepada al-Qur’an (ayat kursi). Atau boleh pula dalam pemahaman “al-Mus-tastnâ Min Ghair al-Jins”; artinya bahwa sesuatu “yang dikeculikan” dalam sebuah redaksi bukan bagian [artinya tidak sejenis] dengan segala sesuatu yang tengah dibicarakan dalam redaksi tersebut, contoh semacam ini (al-Mus-tastnâ Min Ghair al-Jins) adalah firman Allah:

مَا لَهُمْ بهِ منْ عِلْمٍ إلاّ اتّبَاعَ الظّنّ

Makna literal ayat ini mengatakan: “Dan tidak ada pengetahuan (ilmu) bagi mereka tentangnya (Nabi Isa); kecuali mereka hanya mengikuti prasangka [bahwa mereka telah membunuhnya]”. [Dalam ayat ini; “sesuatu yang dikecualikan” (al-Mus-tastnâ) adalah kata “prasangka” (zhann), dan zhann ini bukan bagian dari jenis pengetahuan (ilmu)].

            Adapun kata “الغيرة” [dalam redaksi hadits di atas dengan kata “أغير”; yang secara literal bermakna “cemburu”] adalah untuk mengungkapkan kebencian (kemurkaan), [bukan untuk mengungkapkan bahwa Allah memiliki sifat cemburu]. Karena itu para ulama berkata: “كل من غار من شىء أسندت كراهيته له” [artinya; “Setiap yang cemburu dari sesuatu maka itu artinya orang tersebut benci terhadap sesuatu tersebut”. Contoh seorang suami cemburu bila istrinya berselingkuh; itu artinya suami tersebut membenci perselingkuhan]. Dengan demikian kata “الغيرة” dalam hadits di atas bukan untuk menetapkan bahwa Allah memiliki sifat cemburu, tetapi untuk mengungkapkan bahwa Allah sangat murka jika hamba-hamba-Nya melakukan keburukan dan kejahatan. Oleh karena itulah Allah mengharamkan segala bentuk kejahatan dan keburukan (al-fawahisy) [karena Allah sangat sayang terhadap hamba-hamba-Nya yang mukmin], dan Allah memberikan ancaman terhadap orang-orang yang melakukan kejahatan tersebut. Untuk pemahaman inilah kemudian Rasulullah dalam haditsnya mengungkapkan dengan redaksi “al-ghayrah”.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)