كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Senin, 25 Juni 2012

Pembahasan Hadits Yg Menyebutkan كَفّ, كَتِفِ, dan بَرْدَ pada hak Allah



By  AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT
Hadits Ke Dua:

Dari Abdurrahman bin Ayyash dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

(قيل) رَأيْتُ رَبِّي فِي أحْسَن صُوْرَة، فقَالَ لِي: فِيْمَ يَخْتَصِمُ الْمَلأ الأعْلَى يَا مُحَمّد؟ قُلتُ: أنْتَ أعْلَم يَا رَبّ، فَوضَع كَفّهُ بَيْنَ كَتِفِيْ، فَوَجَدْتُ بَرْدَهَا بَيْنَ ثَدْيِي، فَعَلِمْتُ مَا فِي السّمَوات وَالأرْض

[Hadits ini tidak boleh dijadikan dalil, makna literalnya tidak boleh kita ambil, mengatakan: ”Aku melihat Tuhanku dalam bentuk yang sangat indah. Dia berkata: dalam masalah apakah al-Mala’ al-A’la (para malaikat) berselisih wahai Muhammad? Aku berkata: Engkau lebih mengetahui wahai Tuhanku. Maka kemudia Dia meletakan telapak tangan-Nya pada pundaku hingga aku merasakan sejuknya di antara dadaku, maka aku mengetahui segala apa yang ada di seluruh langit dan bumi”].

Imam Ahmad bin Hanbal: “Asal hadits ini dan seluruh jalan periwayatannya mudltharib [artinya redaksi dan jalur sanadnya sangat banyak yang satu sama lainnya saling berbeda; menyebabkan hadits ini tidak bisa dibenarkan; termasuk kategori hadits dla’if]. Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

(قيل) أتَانِي آتٍ فِي أحْسَن صُوْرَة، فقَال: فِيْمَ يَخْتَصِم الْمَلأ الأعْلَى؟ فقُلتُ: لا أدْرِيْ، فوَضَع كَفّهُ بَيْنَ كَتِفي، فوَجَدْتُ بَرْدَهَا بَيْنَ ثَدْيي، فَعَرَفْتُ كُلّ شَىءٍ يَسْألُنِيْ عَنْهُ

[Makna literal riwayat ini tidak boleh kita ambil, mengatakan seperti pemahaman yang senada dengan riwayat sebelumnya di atas; seakan Allah sebagai bentuk, memiliki telapak tangan yang sejuk, dan bahwa Allah bersentuhan]
Sementara dalam hadits riwayat Tsauban berkata: Suatu ketika Rasulullah keluar setelah shalat subuh, beliau bersabda:

(قيل) إنّ رَبّي أتَانِي اللّيلَة فِي أحْسَن صُوْرَة، فقَالَ لِي: يَا مُحَمّد فيْمَ يَخْتَصِمُ الْمَلأ الأعْلَى؟ قلتُ: لا أعْلَمُ يَا رَبّ، فوَضَع كَفّهُ بَيْنَ كَتِفِي حَتّى وَجَدْتُ بَرْدَ أنَامِلِهِ فِي صَدْرِي، فَتَجَلّى لِي مَا بَيْنَ السّمَاءِ وَالأرْض

[Makna literal riwayat ini tidak boleh kita ambil, mengatakan seperti pemahaman yang senada dengan riwayat sebelumnya di atas; seakan Allah sebagai bentuk, memiliki telapak tangan yang sejuk, jari-jemari, dan bersentuhan]
Semua hadits ini berbeda satu dengan lainnya (Mukhtalifah) [dengan demikian hadits dengan kualitas semacam ini tidak dapat dijadikan dalil, terlebih dalam masalah akidah; karena masuk kategori Dla’îf]. Pemahaman redaksinya menunjukan bahwa peristiwa tersebut terjadi dalam mimpi, dan mimpi itu adalah prasangka (al-Wahm), dan prasangka itu bukan hakekat. Dalam mimpi seseorang dapat melihat dirinya terbang, dapat melihat dirinya menjadi seekor binatang. Benar, dimungkinkan bagi sebagian orang dapat melihat Allah dalam tidur mereka, namun tidak dibenarkan jika kemudian apa yang ia lihatnya dari benda, bentuk, sinar, tubuh dan lainnya sebagai Allah.

Dan seandainya jika kita mengatakan bahwa hadits tersebut terjadi dalam keadaan terjaga; bukan dalam mimpi; maka makna “shûrah” jika yang dimaksud adalah Allah tentu dalam makna “shifat”; artinya bahwa Allah yang maha sempurna dan maha luas rahmat-Nya. Dan jika yang dimaksud dari “shûrah” adalah Rasulullah maka artinya bahwa beliau; Nabi Muhammad dalam keadaan yang keadaan yang sangat sempurna.

Sementara itu Ibnu Hamid al-Mujassim meriwayatkan hadits palsu, mengatakan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda: “Ketika di-isra’-kan aku melihat Allah dalam bentuk seorang anak muda yang tidak berjanggut, bersinar yang gemerlap. Aku meminta kepada-Nya agar Dia memuliakanku dengan dapar melihat kepada-Nya; maka nampaklah bagiku seakan Dia seorang pengantin yang dibuka dari penutupnya, tengah duduk manis di atas singgasananya”.

Apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hamid ini adalah dusta besar yang sangat buruk. Hadits seperti itu tidak pernah ada; baik di antara hadits-hadits sahih, bahkan di antara hadits-hadits palsu yang pernah ada sekalipun. Kita telah jelaskan bahwa redaksi hadits di atas memberikan pemahaman dalam mimpi, sementara Ibnu Hamid al-Mujassim ini mengatakan itu terjadi pada saat Isra’?? [Na’udzu Billah]. Allah maha suci dari segala apa yang telah diperbuat oleh Ibnu Hamid dan orang-orang semacamnya, dan Allah pasti membalas mereka dengan naraka. Mereka adalah orang-orang buruk yang telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya; mengatakan bahwa Allah laksana pengantim. Jelas, yang menuliskan keyakinan semacam ini bukan seorang muslim.

Adapun riwayat hadits di atas yang menyebutkan redaksi “البرد” [yang secara literal berarti dingin]; sesungguhnya makna al-bard ini adalah sifat benda, jelas tidak layak dan tidak boleh Allah disifati dengannya. Padahal al-Qâdlî Abu Ya’la al-Mujassim dalam kitabnya; al-Kinayah, memberlakukan takwil terhadap hadits: “رأيت ربي في أحسن صورة”; ia memaknainya: “في أحسن موضع”, [ia mentakwil kata “صورة” dengan “موضع”; lalu mengapa mereka memahami hadits-hadits semacam ini dalam pemahaman literalnya; tidak memakai takwil?].

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)