كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Minggu, 30 September 2012

Demi dinar rela menjadi wahabi

 aneh bin ajaib....inilah  kisah ustadz salafy mengemis  dinar
“Jangan Dikritik Dulu Nanti Dananya Tidak Keluar”
…Ucap Firanda MA. Ditulis pada Juli 9, 2012 oleh kajiansalafycileungsi Pada suatu hari datang utusan Ihyaut Turats dari Kuwait ke Ma’had Jamilurrahman Jogja dalam rangka kunjungan dan mengisi muhadharah di Ma’had tersebut. Ketika itu para pengajar Jamilurahman, Firanda dan sebagian pengajar di Islamic Centre bin Baaz yang dipimpin oleh Abu Nida, datang pada acara muhadarah tersebut. Setelah selesai dari muhadharah, utusan Ihyaut Turats Kuwait tersebut pun berjalan keluar sampai pada pelataran masjid, bertemulah dengan sebagian santri dan pengajar Ma’had Jamilurrahman di sana dan tiba-tiba salah satu pengajar Jamilurrahman (Abu Saad MA) mengenalkan Firanda kepada utusan dari Ihyaut Turats tersebut bahwa Firanda adalah seorang penuntut ilmu di Jaamiah Islamiyah Madinah. Terjadilah pembicaraan antara Firanda dengan utusan Ihyaut Turats dari kuwait tersebut yang didalam pembicaraan tersebut Firanda mengkritik Abdurrahman Abdul Khaliq. Setelah beberapa menit terjadi dialog antara Firanda dan utusan Kuwait tersebut, utusan tersebut pergi bersama sebagian pengajar Islamic Center bin Baaz. Lalu kami (santri Jamilurrahman) beserta Firanda masih berada di halaman masjid, lalu Firanda berkata : “Jangan di kritik dulu, nanti dananya tidak keluar.” Lalu Firanda melanjutkan perkataannya lagi, “Ana pernah tanya kepada Syaikh Muhammad bin Hadi di sana dan ada beberapa teman yang bersama ana (Arifin Badri, Anas, Abdullah Taslim dll)… “Ya Syaikh, apa hukum mengambil dana Ihyaut Turats?” Syaikh menjawab : “Tidak boleh karena dikhawatirkan nanti ia akan menjadi sururi.” (kurang lebih seperti itu makna jawabannya –ed) lalu Firanda kembali bertanya (baca : ngga puas) : “Apakah seseorang itu dihukumi apa yang terjadi sekarang atau yang akan datang?” Lalu Syaikh Muhammad Hadi pun terlihat merah wajahnya dengan apa yang diucapkan oleh Firanda, sehingga kata Firanda teman-temannya menahan-nahannya untuk tidak melanjutkan apa yang ia tanyakan. Pada kesempatan yang lain Firanda pernah bilang kepada temannya bernama Amir Sorong Lc. (berasal dari sorong), dan temannya tersebut pernah bercerita kepada ana tentang perkataan Firanda. Dia berkata bahwa Firanda pernah bilang kepadanya : “Mudah baginya untuk membantah asatidzah (ustadz-ustadz kita, terkait permasalahan Ihyaut Turats-ed) semudah membalikkan telapak tangan.” Dan perkataan sesumbarnya ini direalisasikan oleh Firanda dengan mengeluarkan buku pembelaan terhadap Ihyaut Turats dan “menyikat” orang-orang yang menjelaskan penyimpangan mereka (1). Namun apakah realitanya sesuai dengan sesumbar yang ia katakan mudah membantah ustadz-ustadz kita semudah membalikan telapak tangan…? malah kenyataannya berbeda…! Alhamdulilllah ahlussunnah salafiyyin bangkit membantah Firanda, ada yang membantah secara khusus bukunya firanda (2), ada yang menjelaskan kepada ummat secara rinci tentang bahaya Ihyaut Turats, dan alhamdulillah sebagian orang yang awalnya tidak paham tentang permasalahan Ihyaut Turats menjadi paham, yang awalnya masih samar menjadi jelas. Itulah keadaan Firanda dan keadaan sebagian besar mereka (kalau tidak mau dikatakan semua) menutup mata atas peyimpangan dan kesesatan Ihyaut Turats dan Abdurrahman Abdul Khaliq. Ada yang karena ngga enak telah di beri bantuan dan ada yang karena fanatik dan menutup mata dari penyimpangan Ihyaut Turats. Bahkan sedikit banyak mereka menjadi tunggangan Ihyaut Turats dalam menyebarkan manhaj menyimpangnya, lihat saja da’i resmi Ihyaut Turats (Abu Qatadah) harus rela melangkahkan kakinya untuk mengantarkan uang bantuan ke ma’had yang bermanhaj khawarij, begitu juga sebagian ustadz-ustdaz mereka malah berlaku keras kepada asatidzah (ustadz-ustadz kita) dikarenakan ketegasan ustadz-ustadz kita melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar dengan menjelaskan penyimpangan Ihyaut Turast, Al-Sofwa dan lainnya. Wahai Firanda di mana dirimu terhadap perintah amar ma’ruf nahi mungkar…? Terhadap penjelasan tentang penyimpangan Ihyaut Turats…? Malah engkau menghadang, membantah orang yang menjelaskan penyimpangan mereka…? Padahal Allah Subhaanahu wata’aala berfirman: كُنْتُمْخَيْرَأُمَّةٍأُخْرِجَتْلِلنَّاسِتَأْمُرُونَبِالمَعْرُوفِوَتَنْهَوْنَعَنِالمُنكَرِوَتُؤْمِنُونَبِاللهِ “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Qs. Ali Imran : 110) وَلْتَكُنْمِنْكُمْأُمَّةٌيَدْعُونَإِلَىالْخَيْرِوَيَأْمُرُونَبِالمَعْرُوفِوَيَنْهَوْنَعَنِالمُنْكَرِوَأُوْلَئِكَهُمُالمُفْلِحُونَ “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali Imran : 104) وَالمُؤْمِنُونَوَالمُؤْمِنَاتُبَعْضُهُمْأَوْلِيَاءُبَعْضٍيَأْمُرُونَبِالمَعْرُوفِوَيَنْهَوْنَعَنِالمُنكَرِوَيُقِيمُونَالصَّلاةَوَيُؤْتُونَالزَّكَاةَوَيُطِيعُونَاللهَوَرَسُولَهُأُوْلَئِكَسَيَرْحَمُهُمُاللهُإِنَّاللهَعَزِيزٌحَكِيمٌ “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At-Taubah : 71) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : مَنْرَأَىمِنْكُمْمُنْكَرًافَلْيُغَيِّرْهُبِيَدِهِفَإِنْلَمْيَسْتَطِعْفَبِلِسَانِهِفَإِنْلَمْيَسْتَطِعْفَبِقَلْبِهِوَذَلِكَأَضْعَفُالإِيمَانِ “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak sanggup maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak sanggup maka ubahlah dengan hatinya dan ini adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim) Ditulis oleh Abu Ibrahim Abdullah Al-Jakarty ____________________________ (1) Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan Penulis Abu Abil Muhsin Firanda (2) Menjalin Ukhuwah di Atas minhaj Nubuwwah Bantahan Ilmiah Terhadap Buku Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan Karya Abu Abil Muhsin Firanda,
Penulis Al-Ustadz Askari Bin Jamal Al-Bugisi http://kajiancileungsi.wordpress.com/2012/07/09/jangan-dikritik-dulu-nanti-dananya-tidak-keluarucap-firanda-ma/

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)