كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Rabu, 05 September 2012

Sekilas Tentang Klaim-Klaim Wahabiyah (Bag 3)

  • Imam Nawawi  -rahimahullah- dalam syarh Muslim mengutip adanya dua metode takwil: pertama; madzhab salaf yaitu takwil ijmali (menyerahkan maknanya pada Allah) dan kedua; madzhab khalaf yaitu takwil tafshili (dengan menjelaskan maknanya yang sesuai dengan keagungan Allah), sedangkan Ibn Baz dalam bantahannya terhadap sebagian orang yang menta’wil mengatakan: Pembagian ini menurut yang saya ketahui tidak pernah ada seorangpun yang mengatakan.[1] Perkataannya ini adalah bukti kebodohannya terhadap apa yang disebutkan oleh para ulama.
  • Wahabiyah mengakui keazaliahan jenis alam dan Ibn Taimiyah telah menyebutkan keyakinan tersebut dalam lima kitabnya.[2]
  • Wahabiyah meyakini neraka akan punah dan adzab orang kafir yang ada di dalamya akan habis.[3]
  • Wahabiyah mengatakan bahwa Abu jahal dan Abu Lahab lebih bertauhid dan lebih murni imannya dari pada umat Islam yang bertawassul kepada Allah dengan para nabi, para wali dan orang-orang shalih.[4] Sungguh mengherankan pernyataan ini, bagaimana bisa diterima oleh akal orang yang sudah nyata-nyata musyrik dikatakan lebih murni imannya dari pada orang mukmin yang bertawassul kepada Allah dengan para nabi dan orang shalih, Maha suci engkau ya Allah, sungguh ini adalah kesesatan yang nyata. Berarti, mereka telah menjadikan Abu Jahal lebih mulia dari para sahabat, tabi’in dan para pengikut tabi’in  dan seterusnya, karena terbukti bahwa para sahabat bertawassul dengan nabi r, demikian juga para tabi’in, dan umat Islam senantiasa bertawassul dengan Rasul sampai sekarang ini karena memang Rasulullah mengajarkannya. Sebagaimana beliau memerintahkan orang buta yang datang mengadu kepadanya akan penglihatannya yang hilang untuk berdo’a dengan tawassul:

اَلّلهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ

Dan hadits ini adalah shahih menurut ulama hadits. Pernyataan golongan Wahabiyah telah menyesatkan umat, seakan-akan mereka mengatakan: tidak ada Islam kecuali jama’ah mereka. Mereka mencabut status Islam dari umat.
Hal ini dikuatkan oleh cerita yang disebutkan oleh Haji Ahmad al Na’imi al Halabi beliau mengatakan: Aku pada tahun 1987 di Saudi Arabia di kota Abha di masjid Jami’ al Syurthah pada hari Jum’at, seorang khatib Wahabi bernama syekh Jasir berdiri dan berkata di atas mimbar kepada hadirin yang berada di dalam masjid: demi Allah hanya kalianlah umat Islam, dan tidak ada di timur dan di barat seorang muslim kecuali kalian dan sisanya selain kalian adalah orang-orang kafir dan musyrik. Semua timur dan barat telah menjadi musyrik.

  • Wahabiyah mencela empat madzhab yang telah disepaki oleh umat Islam mereka mengatakan bahwa para pengikut madzhab telah memecah belah umat dan bahwa taqlid pada salah satu madzhab adalah inti kesyirikan. Orang yang mengikuti satu madzhab saja dalam satu masalah, maka ia adalah seorang yang fanatik buta, dan orang yang taklid buta telah keluar dari agama karena ia mengikuti hawa nafsunya, dan menjadi bagian dari hizb al syaithan (golongan syaithan) dan budak hawa nafsu sehingga hilang cahaya keimanan dalam hatinya.[5]
  • Wahabiyah mengkafirkan Ahlussunnah Wal Jama’ah, mereka mengkafirkan Asya’irah dan Maturidiyah dan menganggapnya sebagai kelompok yang sesat dan bahwasanya Asy’ariyah Maturidiyah reinkarnasi muktazilah.[6] Cukup bagi kita untuk merenungkan perkataan imam al Hafidz Muhammad Murtadha al Zabidi:[7]
إِذَا أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فَالْمُرَادُ بِهِمْ الأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ

“Apabila dikatakan Ahlussunnah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah al Asya’irah dan al Maturidiyah”.[8]

  • Kelompok Wahabiyah menuduh tarekat sufi dengan kesyirikan. Mereka menganggap bahwa tarekat sufi sebagai biang keladi terpecahnya umat Islam. Bahkan lebih dari itu, karena sangat bencinya mereka terhadap kaum sufi sampai mereka mengatakan: “Wahai umat Islam, Islam kalian tidak akan bermanfaat kecuali jika kalian terang-terangan memerangi tarekat dan memberantasnya, -sampai perkataan mereka-: perangilah kaum sufi sebelum kalian memerangi Yahudi.”[9] Dengan tuduhan syirk dan nifak terhadap kaum sufi yang shadiqah, berarti  Wahabiyah telah mengkafirkan ratusan juta umat Islam dari  timur hingga barat dari masa Abu Bakar al Shiddiq  kemudian masa para imam madzhab empat dan ulama-ulama lainnya yang shalih seperti imam Junaid al Baghdadi[10], imam Ahmad al Rifa’i[11], Imam Abdul Qadir al Jilani[12], sultan ulama al ‘Iz Ibn Abd as Salam[13] dan ulama-ulama lainnya sampai masa kita sekarang ini. Sesungguhnya dasar-dasar tasawwuf adalah al Qur’an dan sunnah, tasawwuf mengajarkan zuhud, wara’, taqwa, dan ibadah. Jalan kebaikan dan juga cara untuk menyebarkan kebaikan kepada umat Islam. Imam Syafi’i[14] mengatakan:
كُنْ فَقِيْهًا صُوْفِيًّا لاَ وَاحِدًا        إِنِّي وَرَبِّ الْكَعْبَةِ لَكَ نَاصِحُ

-Jadilah kamu seorang ahli fikih yang sufi bukan pengikut wahdah al wujud[15]
-Sesungguhnya demi Tuhan ka’bah, aku memberi nasehat kepada mu.[16]

  • Termasuk celaan mereka kepada para wali adalah tuduhan mereka bahwa para wali tersebut telah mencoreng wajah Islam dengan pengakuan munculnya karamah.[17] Ini mereka lakukan karena mereka sendiri tidak mengakui adanya karamah.[18] (dan mereka tidak akan pernah mencapai derajat itu)
Mengapa mereka mengingkari apa yang telah Allah berikan kepada para wali yang shalih??? Bukankah Allah berfirman:
"Ala Inna Awliya' Allah La Khaufun Alayhim Wa La Hum Yahzanun",
Maknanya: “Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Jelas, karena di antara mereka tidak ada yang muncul darinya karamah. Bagaimana mungkin akan muncul karamah dari orang yang aqidahnya sesat!!!

  • Wahabiyah mengkafirkan para wali Allah seperti al Badawi, al Dasuqi. Mereka mengatakan bahwa mereka (para wali tersebut) hanya dikenal di antara orang-orang musyrik. Bahkan mereka dengan nada menghina mengatakan; ada segolongan kaum yang dimakamkan di Syam yang sandal mereka lebih mulia dan lebih terhormat dari al Badawi dan ad Dasuqi.[19]
  • Wahabiyah mengklaim bahwa Adam, Syits, dan Idris bukanlah nabi.

______ Catatan Kaki ______

[1] Al Tanbihat, hal. 17

[2] Lihat kitab Muwafaqah Sharih al Ma’qul, Juz. 1, hal. 245 dan juz.2, hal. 75, kitab Minhaj al Sunnah, (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah), Juz.1, hal. 109 dan 223, kitab Naqd Maratib al Ijma’, hal. 168, kitab Sayrh Hadits Imran ibn Husain, hal. 193, dan Majmu al Fatawa, Juz. 18 hal.239. semua kitab tersebut karya Ibn Taimiyah yang oleh golongan Wahhabi disebut sebagai Syekh Islam.

[3] Ibn al Qayyim, Hadi al Arwah ila Bilad al Afrah, (Ramadi li al Nasyr), hal. 582 dan 591

[4] Muhammad Basyamil, Kaifa Nafhamu al Tauhid, hal. 16

[5] Muhgammad Sulthan al Ma’shumi, Hal al Muslim Mulzamun bit tiba’i Madzhaibn Mu’ayyanin, hal. 38 dan 76.

[6] Abdur Rahman al Syekh, Fath al Majid, dicetak oleh asosiasi mereka yang bernama Jam’iyyah Ihya’ Turats al Islami, hal. 353

[7] Muhammad Murtadha Az Zabidi al Husaini,  berasal dari keluarga Zaid ibn Ali Zainal Abidin ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. Beliau adalah penutup para Huffadz di Mesir, bermadzhab Hanafi, bersuluk Naqsyabandiyah dan berakidah Asy’ariyah, dilahirkan pada tahun 1145 H. Wafat pada bulan Sya’ban 1205 H setelah shalat Jum’at di Masjid al Kurdi dekat rumahnya.

[8] Muhammad Murtadha az Zabidi, Ithaf al Sadah al Muttaqin bi Syarh Ihya’ Ulum al Din, (Beirut: Dar al Fikr), Juz. 2, hal. 6

[9] Ali ibn Muhammad ibn Sinan, al Majmu’ al Mufid, hal. 55

[10] Al Junaid, namanya adalah Abul Qasim al Junaid ibn Muhammad ibn al Junaid an Nahawandi al Baghdadi al Qawariri. Beliau adalah pemimpin para ulama sufi yang memiliki banyak karamah. Sanad semua tarekat kebanyakan lewat beliau. Beliau mengatakan: “Tarekat kita  diikat dengan al kitab dan sunnah”. Para penulis datang ke majlisnya karena lafadznya, para ahli filsafat datang karena ketelitian ucapannya, para ahli syair datang karena kefasihannya, ahli kalam datang karena makna ucapannya. Sejak kecil perkataan beliau penuh dengan hikmah.

[11] Ahmad ar Rifa’i, nama lengkapnya adalah Abu al Abbas Ahmad ar Rifa’i al Kabir ibn as Sulthan Ali Abil Hasan ibn Yahya al Maghribi ibn ats Tsabit ibn al Hazim ibn Ahmad ibn Ali ibn Abu al Makarim Rifa’ah al Hasan Ibn al Mahdi ibn Muhamamd Abul Qasim ibn al Hasan ibn al Husain Ahmad ibn Musa at Tsani ibn Ibrahim al Murtadha ibn Musa al Kadhim ibn Ja’far as Shadiq ibn Muhammad al Baqir, ibn Zainal Abidin Ali ibn al Husain Ibn Ali ibn Abi Thalib. Dilahirkan pada tahun 512 H di Irak. Beliau adalah perintis tarekat Rifa’iyah, bergelar Abu al ‘Alamain karena keluasan ilmunya dalam ilmu dhahir dan ilmu bathin. Aktifitasnya, setiap hari beliau selalu mengajar dan setiap hari Kamis memberi nasehat. Dalam majlisnya, ribuan orang kafir masuk Islam, dan ribuan orang bertaubat dari dosa-dosanya. Karamahnya yang sangat terkenal adalah mencium terhadap tangan Rasulullah yang mulia. Beliau terkenal sebagai seorang yang sangat tawadhu dan sangat mulia akhlaknya terhadap sesama manusia. Beliau adalah bapak bagi anak-anak yatim, penyejuk bagi orang-orang miskin, memberi makan para janda sebelum mereka minta, memperhatikan orang-orang yang membutuhkan dan tidak mengabaikannya, mengumpulkan kayu bakar dan membagikannya pada para janda, orang-orang miskin, orang-orang yang sedang sakit dan orang-orang tua. Seringkali beliau datang ke rumah orang-orang yang sakit menahun untuk mennyucikan bajunya dan membawakannya makanan  serta makan bersama mereka dan mendo’akan kesembuhan untuk mereka. Wafat pada umur 66 tahun pada hari kamis tanggal 12 jumadil Ula tahun 578 H.

[12] Abdul Qadir Al Jilani’, nama lengkapnya adalah Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Musa ibn Abi Abdillah ibn Yahya az Zahid ibn Muhammad ibn Dawud ibn Musa ibn Abdullah ibn  Musa al Jun ibn Abdullah al Mahdli ibn al Haasan al Mutsani ibn Ali Ibn Abi Thalib. Lahir pada tahun 471 H, masuk Baghdad pada tahun 488 ketika berumur 18 tahun. Ibnu Sam’ani mengatakan: “beliau adalah imam para ulama Hanbali pada masanya, ahli fikih, shalih, banyak berdzikr, senantiasa berfikir”. Sejak umur 25 tahun beliau sudah duduk sebagai pemberi nasehat dan diterima oleh semua orang. Wafat di Baghdad pada tanggal 10 Rabi’ul akhir tahun 561 H , makamnya senantiasa di ziarahi dan dibuat tabarruk sampai sekarang. Beliau adalah seorang ulama yang majlisnya di datangi pengunjung yang sangat banyak, dalam satu majlis mencapai sekitar 70 ribu pengunjung dan apabila beliau telah duduk di atas kursi, maka tidak ada seorang yang berani berbicara karena wibawa beliau yang sangat besar. Dan pelajaran beliau dapat didengar oleh orang yang jauh sebagaimana didengar oleh orang yang dekat jaraknya dengan beliau. Beliau adalah perintis tarekat Qadiriyah yang dianut oleh sebagian umat Islam di dunia.

[13] Al ‘Iz Ibn Abdissalam, nama lengkapnya adalah Abdul Aziz ibn Abdissalam ibn Abul Qasim ibn Hasan ibn Muhammad ibn Muhadzdzab as-Sulami. Dilahirkan tahun 577 H . Beliau adalah murid al Imam Fakhruddin Ibn Asakir, al Amidi dan lainnya. Beliau dikenal sebagai sultannya para ulama dan berakidah Asy’ariyah. Ibn Daqiq al ‘Iid mengtakan: Al ‘Iz ibn Abdissalam adalah salah satu tiangnya para ulama”. Ibn al Hajib mengatakan: Ibn Abdissalam lebih luas pemahamannya dari al Ghazali”. Wafat pada tahun 660 H.

[14] Imam Syafi’i, nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Idris ibn al Abbas ibn Utsman ibn Syaafi’ ibn as Saib ibn ‘Ubaid ibn Abdi Yazid ibn Hasyim ibn Abdul Muththalib ibn Abdi Manaf. Beliau adalah seorang dari suku Quraisy Hasyimi Muththalibi. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdu Manaf. Dilahirkan di Gaza tahun 150 H, tahun wafatnya imam Abu Hanifah. Imam Syafi’i tumbuh pada keluarga yang fakir dan ayahnya telah meninggal sejak beliau masih kecil, sehingga beliau dibawa ibunya ke Makkah untuk menjaga kemulyaan nasabnya. Telah hafal al Qur’an sejak kecil, selanjutnya beliau menghafal hadits nabi dan pergi ke kampung kabilah Hudzail selama 10 tahun untuk belajar kaidah-kaidah bahasa Arab. Di Makkah pada awalnya beliau belajar Syair, sastra kemudian berpaling pada fikih dan ilmu, selanjutnya beliau ke Madinah untuk belajar pada imam Dar al Hijrah imam Malik ibn Anas. Selanjutnya beliau ke Irak pada umur 34 tahun belajar pada Muhammad ibn al Hasan as Syaibani sahabat Abu Hanifah, sehingga tergabunglah pada diri beliau fikih hijaz yang kuat dengan naqlnya dan fikih Irak yang kuat akalnya. Ibnu Hajar mengatakan: telah berkumpul pada as Syafi’i ilmu ahli ra’yi dan ilmu ahli al hadits”. Wafat di Mesir pada malam Kamis akhir Rajab tahun 204 H pada umur 54 tahun.

[15] Aqidah wahdatul wujud adalah aqidah sesat yang meyakini bahwa Allah adalah keseluruhan alam ini dan makhluk yang ada di alam adalah bagian dari Allah.

[16] Al Syafi’i, al Diwan, hal. 34

[17] Al Albani, al Ghifari, hal. 18

[18] Ahmad ibn Hajar al Buthami, al Ajwibah al Jaliyyah, hal. 128

[19] Ahmad al Badawi adalah salah seorang sufi kenamaan di daerah Mesir, sedangkan al Dasuqi adalah pengarang kitab Aqidah Dasuqiyah, beliau berasal dari dataran maghrib.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)