كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Rabu, 05 September 2012

Sekilas Tentang Klaim-Klaim Wahabiyah (Bag 2)

Sekilas Tentang Klaim-Klaim Wahabiyah (Bag 2)

  • Wahabiyah menetapkan shurah (bentuk) bagi Allah ta’ala.[1] Bantahan; Al Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibn Abbas, beliau mengatakan:
تَفَكَّرُوْا فِي كُلِّ شَيْءٍ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِي ذَاتِ اللهِ
Maknanya: “Berfikirlah kalian pada setiap sesuatu dan jangan kalian berfikir tentang dzat Allah”.[2]
Imam Ahmad dalam perkataan yang diriwayatkan oleh imam al Baihaqi dalam kitab I’tiqad al Imam al Mubajjal Ahmad ibn Hanbal mengatakan:

مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلاَفِ ذَلِكَ 
Maknanya: “Apapapun yang kamu gambarkan dalam hati kamu maka Allah tidak seperti  itu”. (Manuskrip)

  • Wahabiyah mengatakan bahwa sesungguhnya Allah di luar alam, dalam majalah al Haj Abdul Aziz ibn Baz mengatakan:
يَقُولُ ابْنُ بَاز: إِنَّ اللهَ تَعَالَى مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ بِذَاتِهِ وَهُوَ لَيْسَ دَاخِلُ العَالَمِ بَلْ مُنْفَصِلٌ وَبَائِنٌ عَنْهُ
“Sesungguhnya Allah ta’ala bersemayam di atas arsyNya dengan dzat-Nya dan dia tidak berada di dalam alam, tetapi Allah di luar Alam.”[3]

Cukup sebagai bantahan akan hal itu firman Allah ta’ala: (QS. asy Syura: 11) "Laysa Kamitslih Syai'"
Maknanya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”.
Dan telah maklum bahwa ittishal (menempel) atau infishal (berpisah) adalah sifat  jisim dan Allah maha suci dari semua itu.

  • Wahabiyah menyerupakan Allah dengan lingkaran yang meliputi alam dari semua arah.[4]
  • Wahabiyah menetapkan kalam dengan huruf dan suara pada Allah. Perkataan ini bertentangan dengan perkataan Abu Hanifah al Nu’man dalam kitab al Fiqh al Akbar:
وَيَتَـكَـلَّمُ لاَ كَكَلاَمِنَـا نَحْنُ نَتَكَـلَّمُ بِالْآلاَتِ وَالْحُـرُوْفِ وَاللهُ يَتَكَلَّمُ بِلاَ ءَالَةٍ وَلاَ حُرُوْفٍ
Maknanya: Dan Allah mempunyai sifat kalam  tidak seperti perkataan kita, kita berkata dengan alat dan huruf, dan kalam Allah tanpa alat dan huruf.”[5] 

  • Wahabiyah menisbatkan arah bagi Allah ta’ala. al Albani (pemuka Wahabi) mengatakan dengan berdalih perkataan sebagian orang mujassimah:  Seseorang yang mengatakan bahwa Allah dilihat tidak pada arah hendaklah ia memeriksakan akalnya.[6] Padahal imam Abu Hanifah al Nu’man mengatakan dalam kitab al Fiqhu al Akbar:
وَاللهُ تَعَالىَ يُرَى فِي الْآخِرَةِ وَيَرَاهُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَهُمْ فِي الْجَنَّةِ بِأَعْيُنِ رُءُوْسِـهِمْ بِلاَ تَشْبِـيْهٍ وَلاَ كَـمِّيَّةٍ وَلاَ يـَكُـوْنُ بـَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ مَسَافـَةٌ
Maknanya: “Dan Allah ta’ala dilihat di akhirat oleh orang-orang mukmin mereka melihatNya sedangkan mereka berada di dalam surga dengan mata kepala mereka tanpa tasybih (penyerupaan) dan tanpa ukuran dan tidak ada jarak antara Allah dan makhlukNya.[7]

Imam al Thahawi dalam kitab aqidahnya yang fenomenal al Aqidah al Thahawiyah mengatakan:

لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ
“Dan Allah tidak diliputi oleh arah yang enam seperti seluruh makhluk.”

Jadi siapa yang mesti memeriksa kesehatan akalnya wahai Wahabiyah, kalian atau para ulama salaf??!

  • Wahabiyah menolak pensucian Allah ta’ala dari kelopak mata, daun telinga, lisan dan tenggorokan. Wahabiyah mengatakan bahwa ini bukan ajaran Ahlussunnah tetapi termasuk pendapat para mutakallim yang tercela.[8]
  • Wahabiyah ketika tidak menemukan dalil dalam kitab Allah dan hadits Rasulullah juga pada perkataan seorang ulama yang mu’tabar dari kalangan ahlusunnah wal jama’ah dan tidak dalam akal yang sehat dalil yang  membuktikan perkataan mereka bahwa Allah bertempat, maka mereka mencari dalilnya dari prilaku anak kecil, Muhammad ibn Jamil mengatakan: “Anak-anak jika kamu bertanya kepadanya dimana Allah maka mereka akan menjawab dengan fitrah mereka yang sehat bahwa dia ada di langit.[9] Bantahan; Kita temukan di sini kelompok Wahabiyah membangun aqidahnya di atas apa yang mereka klaim sebagai fithrah yang sehat yang dimiliki anak-anak. Kebodohan macam apa ini??! Semoga kita mendapatkan pemahaman yang benar.
  • Wahabiyah mengingkari takwil secara mutlak meskipun baik tujuan orang yang mentakwil. Bahkan mereka menyebut orang yang mentakwil dengan penghancur.[10] Bantahan; Apa yang mereka katakan tentang hadits Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wasallam kepada sayyidina Ibn Abbas[11] juru bicara al Qur’an:
اللّهُمَّ عَلِّمْهُ الْحِكْمَةَ وَتَأْوِيْلَ الْكِتَابِ
Maknanya: “ya Allah ajarkanlah hikmah kepadanya dan takwil al Qur’an”. (HR. Ibn Majah).[12]

Seandainya orang-orang Wahabiyah mau berpegang pada firman Allah: QS. asy Syura: 11,
Atau jangan-jangan mereka menganggapnya ayat ini juga menjelaskan tentang tasybih?. Maha suci Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir. Apakah mereka yang mengaku berpegang pada aqidah salaf shalih lupa dengan perkataan imam Abu Ja’far al Thahawi yang dikutip dalam kitab aqidahnya yang terkenal dan menjadi referensi para ulama salaf, beliau mengatakan:

تَعَالَى  -يَعْنِي الله- عَنِ الْحُدُوْدِ وَالغَايَاتِ وَالأَرْكَانِ وَالأَعْضَاءِ وَالأَدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ المُبْتَدَعَاتِ
Maknanya: “Maha suci Allah dari batasan-batasn, ujung-ujung, sisi-sisi, anggota badan yang besar, anggota badan yang kecil dan tidak diliputi oleh arah yang enam seperti keseluruhan makhluk”.
  • Ibn Baz dalam fatwa nomor 19606 tanggal 24/4/1418 mengatakan: “Sesungguhnya mentakwil nash-nash yang ada dalam al Qur’an dan sunnah tentang sifat-sifat Allah azza wa jalla adalah bertentangan dengan pendapat yang disepakati (ijma’) oleh umat Islam dari masa sahabat, tabi’in dan orang–orang yang mengikuti ajaran mereka sampai  pada masa sekarang ini.” Bantahan; Ijma’ yang mana yang dikutip Ibn Baz? padahal al Nawawi dalam syarh Muslim mengutip perkatan al Qadhi ‘Iyadh: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara umat Islam seluruhnya yang ahli fikih, ahli hadits, ahli kalam dan orang-orang yang semisal dengan mereka serta orang-orang yang bertaklid pada mereka bahwa lafadz dhahir yang terdapat dalam al Qur’an dengan menyebut Allah ta’ala di langit seperti firman Allah ta’ala: "a-amintum man Fis sama'", dan semacamnya maknanya bukanlah seperti dhahirnya akan tetapi seluruhnya ditakwilkan.”[13]
Ini adalah ijma’ Ahlussunnah Wal Jama’ah dalam menetapkan bolehnya takwil. Sedangkan ijma yang diklaim oleh Ibn Baz dalam menafikan takwil adalah ijmanya ahli tasybih dan tajsim mulai dari munculnya  mereka sampai sekarang. Di antara kebodohan orang ini adalah bahwa setelah ia mengutip suatu ijma’ kemudian dia menentang ijma’ itu sendiri dengan ijma’ bohongan yang dia klaim. Hal ini disebutkan dalam majalah al Haj.[14] Dia mentakwil firman Allah ta’ala: "Wa Huwa Ma'akum Aynama Kuntum"; dengan ilmu. Dan betapa celakanya orang yang buta menurutmu wahai Ibn Baz. Ketika kamu mengklaim ijma’ yang melarang takwil, terlewatkan olehmu firman Allah ta’ala yang mengatakan: "Wan Kana Fi Hadzihi A'ma Fa Huwa Fil Akhirati A'ma Wa Azhallu Sabila"; Maknanya jika tidak dita’wil akan seperti ini:  “Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”. Jadi menurutnya orang yang buta di dunia akan lebih celaka di akhirat.
  • Wahabiyah mengatakan tentang firman Allah ta’ala: "Kullu Syai' Halikun Illa Wajhahu"; bahwa takwil dalam ayat ini tidak diucapkan seorang muslimpun.[15] Padahal imam al Bukhari mentakwil ayat ini, beliau artikan kecuali kekuasaannya.[16] Sebagaimana juga imam Sufyan al Tsauri[17] juga mengatakan:
إِلاَّ مَا ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُ اللهِ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ
“Kecuali sesuatu yang dilakukan dengan mencari ridha Allah berupa amal perbuatan yang baik”.


_____ Catatan Kaki _____

[1] Lihat al Tanbihat, hal. 69

[2] Al Baihaqi, al Asma’ wa al Shifat, (Beirut: Dar Ihya’ Turats al ‘Arabi), hal. 420

[3] Majalah al Haj edisi Jumadil Ula 1415 H, hal. 73-74

[4] Lihat perkataan al Albani, Shahih al Targhib wa al Tarhib, (Beirut: Zuhair al Syawisy), juz. 1, hal, 116

[5] Mulla Ali al Qari, Al Fiqh al Akbar (dicetak sekalian syarahnya), (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah),  hal. 58

[6] Syarh al Aqidah al Tahawiyah, syarh wa ta’liq al Albani, (Beirut: Zuhair al Syawisy), hal. 27

[7] Al Fiqh al Akbar, hal. 136-137

[8] Tanbihat, hal. 19

[9] Muhammad ibn Jamil Zainu, Taujihat Islamiyah, (Kementerian Wakaf Saudi Arabia), hal. 22

[10] Al Albani, Syarh al Thahawiyah, hal. 18 dan Ibn Baz, al Tanbihat, hal. 34-71

[11] Ibnu  Abbas beliau adalah seorang sahabat yang mulia, seorang ulama yang luas ilmunya, tarjamanu al Qur’an (juru bicara al Qur’an), pemimpin para ahli tafsir,  anak paman Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-. Nama lengkapnya Abu al Abbas Abdullah Ibn Abbas ibn Abdul Muththalib Syaibah ibn Hasyim ibn Abdi Manaf al Qurasyi al Hasyimi. Lahir 3 tahun sebelum Hijrah dan ketika Rasulullah wafat beliau masih berumur 13 tahun, meskipun demikian beliau telah mendapatkan ilmu dan kebaikan sangat banyak. Sayyidina Umar ibn Khaththab mengatakan pada beliau: “Kamu telah menjadi pemuda kami, yang paling baik akalnya dan yang paling memahami terhadap kitab Allah”. Rasulullah pernah berdo’a untuknya: “Ya Allah fahamkanlah dia agama dan ajarkanlah kepadanya takwil al Qur’an”. Wafat tahun 68 H dalam umur 71 tahun di Thaif.

[12] Sunan Ibn Majah: al Muqaddimah: bab fi Fadhail Ashhab Rasulillah: Fadhl Ibn Abbas, (al Maktabah al Ilmiyah), hal. 166

[13] Al Nawawi, Syarh Shahih Muslim, (Beirut: Dar Fikr), Juz.5 hal.24

[14] Majalah al Haj, edisi Jumadil Ula 1415H, hal. 74

[15] Al Albani, al Fatawa, hal. 523

[16] Shahih al Bukhari, Kitab al Tafsir: Bab Surat al Qashash

[17] Sufyan At Tsauri, nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Sufyan ibn Sa’id ibn Masrur ibn Hubaib at Tsauri. Dilahirkan di Kufah tahun 97 H, guru beliau mencapai 600 orang diantaranya adalah Abu Hurairah, Jarir ibn Abdullah, Ibnu Abbas dan lainnya. Diantara karyanya adalah Kitab al Jaami’. Syu’bah mengatakan: “ Sufyan at Tsauri adalah amirul Mu’minin dalam bidang hadits”. Wafat pada tahun 161 H pada usia 64 tahun.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)