كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Senin, 30 Juni 2014

Allan Nairn Fitnah Prabowo: Keanehan2 Fitnah

Allan Nairn

Saya lihat ada beberapa kejanggalan dalam fitnah Allan Nairn terhadap Prabowo. Pertama, Jika Prabowo tidak merasa menghina Gus Dur, dan Gus Dur tidak merasa dihina Prabowo, itulah kenyataannya. Aneh jika kita percaya pada wartawan AS Allan Nairn yang jauh di sana. Jika Prabowo menghina Gus Dur, tentu Gus Dur dan orang2 dekatnya akan segera tahu. Tak mungkin Gus Dur mengatakan Prabowo sebagai orang yang paling ikhlas dan minta rakyat Indonesia untuk mendukung dan memilih Prabowo dan Gerindra pada tahun 2009. Jika benar Prabowo menghina Gus Dur, tentu militer seperti Wiranto dan Hendropriyono yang merupakan pakar intelijen Indonesia segera memanfaatkan penghinaan ini untuk menghantam Prabowo. Inilah yang namanya fitnah.

AS sudah kehabisan akal sehingga memakai segala agen dan alatnya dari Dubes AS, majalah AS seperti Time dan juga wartawan AS Allan Nairn, dan juga jurnalis pro AS seperti Gunawan Mohamad di Indonesia.
Banyak orang berkata Allan Nairn ini menghantam TNI Indonesia. Sebetulnya kurang tepat. Yang dihantam Allan Nairn itu adalah Indonesia. Bukan sekedar TNI Indonesia saja. Allan Nairn itu adalah satu agen AS untuk melemahkan Indonesia. Jika Indonesia lemah, tentu perusahaan2 MNC AS seperti Freeport, Chevron, Exxon, dsb leluasa menguras kekayaan alam Indonesia.

Prabowo Aqil

Dengan diterjemahkannya tulisan Allan Nairn tentang Prabowo ke dalam bahasa Indonesia, kita tahu Allan ini bertujuan mempengaruhi rakyat Indonesia agar rakyat Indonesia mengalihkan dukungannya ke Capres Boneka.

Allan Nairn ini katanya jurnalis AS yang anti TNI. Sehingga dikabarkan dia pernah dipukuli TNI secara parah dan tentunya sulit masuk ke Indonesia. Aneh tidak dengan sulitnya masuk ke Indonesia, Allan Nairn yang cuma 2 kali bertemu Prabowo (katanya) di bulan Juni dan Juli 2001 mewawancarai Prabowo cuma untuk wawancara Anonimus dan Off The Record? Anonim dan TIDAK UNTUK DISIARKAN?
Tidak mungkin seorang Jurnalis AS yang dimusuhi TNI membahayakan jiwanya masuk ke Indonesia cuma untuk wawancara ANONIM dan TIDAK UNTUK DISIARKAN. Lihat:
Allan Nairn: In June and July, 2001 I had two long meetings with Prabowo.
We met at his corporate office in Mega Kuningan, Jakarta.
I offered Prabowo anonymity.
I was looking into recent murders apparently involving the Indonesian army, and was hoping that if he could speak off-the-record General Prabowo might divulge details.
Kemudian kita lihat ucapannya:
Kini Gus Dur seringkali dikenang dengan sukacita. Bahkan kampanye Prabowo pun memanfaatkan rekaman video pembicaraan Gus Dur.
Tulisan Allan Nairn di atas menunjukkan Allan Nairn punya hubungan dengan para pendukung Jokowi di Indonesia. Soal video pembicaraan Gus Dur dukung Prabowo, rakyat Indonesia saja tidak tahu banyak. Tentu agen2 AS di sini menginformasikannya kepada Allan Nairn.
Allan Nairn: Namun dalam perbincangan tersebut, di hadapan saya Prabowo tak henti-hentinya mengecam Gus Dur dan demokrasi.
Aneh tidak jika seorang jenderal yang ingin jadi Presiden, di depan jurnalis AS TIDAK HENTI2NYA MENGECAM GUS DUR DAN DEMOKRASI? Apa iya di depan AS Prabowo dengan bangga menyebut dirinya: “DIKTATOR FASIS”? Bukankah itu bodoh sekali? Tidak menggambarkan Prabowo seorang yang kecerdasannya diakui oleh gurunya dan merupakan putra dari Begawan Ekonomi Indonesia: Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo. Bagi saya itu tidak masuk di akal. Apalagi menurut KH Said Aqil Siradj, Prabowo itu dekat Gus Dur sejak kerusuhan tahun 1998. Dan amat menghormati Gus Dur. Aqil berkali2 menemani Prabowo menemui Gus Dur dan ngobrol dengan Gus Dur hingga larut malam.
Jika saat tahun 1998 ketika Gus Dur belum jadi presiden saja Prabowo begitu menghormati Gus Dur, sehingga usai pertemuan Makostrad Mei 1998 langsung menemui Gus Dur dan bertanya ke Gus Dur: “Apa yang harus saya lakukan?”, apalagi saat Gus Dur jadi presiden. Dengan menggunakan fikiran saja, saya tahu tulisan Allan Nairn bahwa Prabowo menghina Gus Dur itu cuma fitnah belaka. Jika benar, harusnya di tahun 2001 Allan langsung menulis hinaan Prabowo tsb. Minimal tahun 2009 saat Prabowo jadi Cawapres Mega. Jadi jika tahun 2014 baru Allan “bersuara”, kok “politis” sekali? Tak bedanya dgn Jasmev biasa:
Allan Nairn:
Mengenai Gus Dur, Prabowo mengatakan:
“Militer pun bahkan tunduk pada presiden buta! Bayangkan! Coba lihat dia, bikin malu saja!” [“The military even obeys a blind president! Imagine! Look at him, he’s embarrasing!”].
“Lihat Tony Blair, Bush, Putin. Mereka muda, ganteng—dan sekarang presiden kita buta!” [“Look at Tony Blair, Bush, Putin. Young, ganteng (handsome) -- and we have a blind man!”].
Prabowo menginginkan sosok yang berbeda.
Dia menyebut Jenderal Pervez Musharraf dari Pakistan.
Musharraf telah menangkap perdana menterinya yang sipil dan mendirikan kediktatoran. Prabowo menyatakan kekagumannya pada Musharraf.
Di tulisan di atas Prabowo kata Allan Nairn membandingkan Gus Dur dengan Tony Blair, Bush, Putin, dan Pervez Musharraf. Padahal mereka itu saat wawancara baru berkuasa. Artinya belum banyak dikenal, dan popularitasnya pun belum diketahui dunia seperti sekarang. Putin terpilih jadi presiden pada Agustus 2000, Bush Januari 2001, dan Pervez Musharraf jadi presiden Juni 2001. Artinya popularitas dan kehebatannya belum banyak dikenal.
Lihat bagaimana Allan Nairn “MENGANCAM” akan membongkar peranan Prabowo dalam pembunuhan Massal di Timor Timur tahun 1998:
Journalist Allan Nairn Threatened for Exposing Indonesian Pres. Candidate’s Role in Mass Killings
http://www.democracynow.org/2014/6/27/journalist_allan_nairn_threatened_for_exposing
Ini wartawan apa pemeras? Jurnalis yang baik saat tahu kejadian di tahun 2001, tentu akan langsung menulis apa yang dia ketahui untuk publik saat itu juga. Bukan menyembunyikannya selama 13 tahun kemudian mengancam akan membongkarnya sekarang. Aneh bukan?
Kita lihat lagi tulisan Allan Nairn yang lain:
Allan Nairn: Saat itu saya dan Prabowo berdiskusi panjang tentang pembantaian Santa Cruz.
Dalam pembantaian tersebut, militer Indonesia membunuh setidaknya 271 penduduk sipil.
Kejadiannya berlangsung pada 12 November 1991 di Dili, di sebelah luar area pemakaman yang dipadati laki-laki, perempuan dan anak-anak. Di tahun itu, Timor-Timur masih merupakan wilayah yang diduduki oleh militer Indonesia.
Kebetulan saya ada di sana ketika pembantaian itu terjadi. Saya selamat.
Prabowo mengatakan kepada saya bahwa perintah membunuh itu “goblok” [“imbecilic”]. (Dia katakan bahwa ia sempat mengira perintah tersebut datang dari Jenderal Benny Murdani, tapi ia sendiri tidak yakin.)
Allan menulis Prabowo mengira perintah pembunuhan datang dari Jenderal Benny Murdani. Tapi ia sendiri tidak yakin. Aneh tidak? Sebagai wartawan perang tentu Allan Nairn tahu pepatah “Tidak ada prajurit yang salah. Yang ada adalah Komandan yang salah”. Prajurit sekedar melaksanakan perintah komandannya. Tidak mungkin Prabowo tidak tahu siapa yang menyuruh. Tentu tahu yaitu Jenderal Benny Murdani yang merupakan Panglima ABRI yang merangkap sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan dan juga Pangkopkamtib. LB Moerdani adalah satu2nya Jenderal yang memegang 3 posisi tertinggi keamanan di Indonesia di bawah Presiden Soeharto. Jadi darimana lagi perintah tsb datang jika bukan dari Moerdani?
Namun karena LB Moerdani ini adalah jenderal AS, maka Moerdani aman dari gangguan “Jurnalis” macam Allan Nairn ini. Harusnya Allan menginvestigasi sepak terjang LB Moerdani dalam pembantaian di Timtim. Allan Nairn pun harusnya membongkar sepak terjang Wiranto dalam kerusuhan di Timtim di mana PBB sempat menyebut Wiranto sebagai pelanggar HAM di Timtim. Tapi kenapa Allan tidak menyerang Wiranto? Jelas kelakuan Allan Nairn ini tidak jauh beda dengan Jasmev di Indonesia.
Keberatan Prabowo bukan pada kenyataan bahwa militer Indonesia telah membunuh warga sipil, tapi pada fakta bahwa pembunuhan tersebut dilakukan di hadapan saya dan saksi-saksi lainnya yang bisa melaporkan kasus tersebut dan menggerakan suara dunia internasional.
Apa ia Prabowo ngomong sebodoh ini di depan wartawan AS: Allan Nairn?
Allan Nairn: “Santa Cruz mematikan kami secara politis!” suara Prabowo meninggi. “Di situlah kekalahan kami” [“Santa Cruz killed us politically!,” Prabowo exclained. “It was the defeat!”].
“Anda tidak semestinya membunuh warga sipil di depan pers internasional,” ujar Jenderal Prabowo. “Komandan-komandan itu bisa saja membantai di desa-desa terpencil sehingga tak diketahui siapapun, tapi bukan di ibukota provinsi!” [“You don’t massacre civilians in front of the world press,” General Prabowo said. “Maybe commanders do it in villages where no one will ever know, but not in the provincial capital!”].
Pernyataan tersebut jadi semacam pengakuan bahwa militer terbiasa melakukan pembantaian. Pernyataan itu juga membuktikan bahwa Prabowo tidak berkeberatan jika pembantaian dilakukan di tempat-tempat yang “tak diketahui siapapun” [“where no one will ever know”].
http://www.allannairn.org/2014/06/apa-saya-cukup-punya-nyali-tanya.html
Rasanya Allan Nairn menggunakan imajinasinya untuk menulis hal tsb… :)
Lihat bagaimana Allan Nairn menuduh Kopassus yang membebaskan 10 warga sipil dari penculikan pemberontak bersenjata OPM sebagai pelaku kejahatan. Padahal sebelumnya OPM sudah membunuh 2 orang warga sipil. Di mata Allan Nairn ini, Prabowo / TNI dianggap selalu salah. Penjahat. Meski mereka membebaskan 10 warga sipil dari penculikan OPM:
Allan Nairn: Seiring Suharto terus menaikkan pangkat Prabowo, komando-komando sang jenderal kian nyata jejaknya dalam sejumlah pembantaian massal lainnya. Salah satunya adalah pembantaian massal di Papua Barat. Dalam kasus tersebut, para anak buah Prabowo menyamar sebagai anggota Palang Merah Internasional (ICRC). Operasi rahasia ini juga terdengar sampai Jakarta, kota dimana mereka menghilangkan aktivis-aktivis pro-demokrasi.
http://www.allannairn.org/2014/06/apa-saya-cukup-punya-nyali-tanya.html
Lihat sumber lain di CNN yang menyatakan Prabowo tidak bersalah pada pembunuhan di Santa Cruz, Craras, dsb. Bahkan ada 1 kejadian di mana saat pembunuhan terjadi, Prabowo sedang diwawancarai Asia Week di Malaysia:

Image Of Evil

Prabowo’s refracted reputation for ruthlessness in East Timor

By JOSE MANUEL TESORO
What is the reality? I looked into one incident in which Prabowo was reportedly involved: a massacre of villagers in Craras, in Viqueque regency, southeast of Dili. According to a special forces officer, who asked not to be named, Craras was razed on Aug. 3, 1983, in retaliation for the murders of Indonesian engineers by Fretilin in the village. Prabowo’s unit, to which this officer belonged, did not arrive in East Timor until three days after the incident. Sent to Craras, they came across more than 30 survivors, mostly women and children. He says Prabowo gave them red-and-white banners – the Indonesian colors – and a letter to present to the area’s commander. His unit then escorted the group as far as a river crossing. The officer says he does not know what happened to them afterwards, but information obtained elsewhere suggests they were killed by another Indonesian unit.
Many of the beliefs about Prabowo do not quite fit with the facts. He has been linked with the 1991 Santa Cruz cemetery massacre, but he was not even in East Timor at the time; what’s more, he was serving in Kostrad, rather than Kopassus (the special forces group that deals with intelligence and counterinsurgency). Last September, rumors were rife that Prabowo was in West Timor advising pro-Indonesia militias, but he was in fact in Malaysia being interviewed by Asiaweek.
http://www-cgi.cnn.com/ASIANOW/asiaweek/magazine/2000/0303/cs.etimor.html
Saksi hidup Kerusuhan Mei 1998. KH Said Aqil Siradj selaku Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta di mana Ketuanya adalah Marzuki Darusman, dan anggotanya Bambang Widjojanto (KPK) menyimpulkan Prabowo tidak bersalah dan bukan Dalang Kerusuhan. Dan Prabowo bersedia dikorbankan karena itu. Itulah sebabnya Gus Dur bilang Prabowo itu paling ikhlas.
Dalang sebenarnya justru tidak mau mengaku. Hebat sekali jika ada orang yang tidak masuk Tim TGPF tapi dengan yakin mengatakan Prabowo bersalah melanggar HAM dsb.
Said mengatakan Prabowo terbebas dari berbagai tuduhan pelanggaran HAM. Ini mengacu pada hasil kesimpulan Tim Pencari Fakta (TPGF) yang pernah dibentuk.
“Saya waktu itu Wakil Ketua TPGF. Ketuanya Pak Marzuki Darusman. Wakilnya saya. Anggotanya Bambang Widjojanto, Ketua LBH waktu itu. Hakim Garuda Nusantara, ibu Nursyahbani. Kesimpulannya, Pak Prabowo bukan dalang kerusuhan,” jelasnya.
Ketua PBNU: Prabowo Tak Terlibat Kerusuhan Mei 1998
VIVAnews – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengungkapkan calon presiden Prabowo Subianto adalah orang yang paling dekat dengan NU. Kedekatan Prabowo semakin erat pada masa awal reformasi.
“Kedekatan Prabowo dengan Gus Dur ketika masa-masa ribut reformasi itu. Prabowo sering berkunjung ke Gus Dur,” ujar Said di lapangan Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama Khas Kempek, Paliaman, Cirebon, Jawa Barat, Jumat 27 Juni 2014. Gus Dur atau Abdurrahman Wahid merupakan mantan Presiden RI dan juga tokoh NU.
Said mengatakan, pertemuan Prabowo dengan Gus Dur sering dilakukan pada malam hari di kediaman Gus Dur. Pertemuan yang sifatnya informal sering dihadiri dengan beberapa tokoh NU lain, seperti Muhaimin Iskandar dan Syaifullah Yusuf.
“Sampai Gus Dur mengatakan orang paling ikhlas untuk bangsa ini adalah Prabowo. Artinya apa, dia siap berkorban. Siap dilengserkan dari pangkostrad, siap dicabut dari kedudukannya. Sebab kalau bukan dia siapa lagi tumbalnya,” kata Said.
Selain itu, Said meyakinkan bahwa Prabowo sadar dengan apa yang dia pilih. Prabowo, kata Said, rela menjadi “tumbal” jenderal-jenderal lainnya pada peristiwa 1998. “Maka beliau siap menerima itu,” katanya.
Bahkan, Said mengatakan Prabowo terbebas dari berbagai tuduhan pelanggaran HAM. Ini mengacu pada hasil kesimpulan Tim Pencari Fakta (TPGF) yang pernah dibentuk.
“Saya waktu itu Wakil Ketua TPGF. Ketuanya Pak Marzuki Darusman. Wakilnya saya. Anggotanya Bambang Widjojanto, Ketua LBH waktu itu. Hakim Garuda Nusantara, ibu Nursyahbani. Kesimpulannya, Pak Prabowo bukan dalang kerusuhan,” jelasnya.
Mengenai pernyataan Wiranto yang membeberkan dokumen Dewan Kehormatan Militer (DKP), Said hanya menjawab singkat. “Beda dengan kesimpulan tim pencari fakta lah. Saya sebagai Wakil Ketua TPGF kerusuhan Mei 1998. Kesimpulannya Pak Prabowo tidak ikut campur sama sekali,” tegasnya.
http://politik.news.viva.co.id/news/read/516566-ketua-pbnu–prabowo-tak-terlibat-kerusuhan-mei-1998
Apakah kita percaya pada Allan Nairn si tukang fitnah atau Gus Dur? Lihat video Gus Dur mendukung Prabowo dan memuji Prabowo sebagai orang yang paling ikhlas:

http://www.youtube.com/watch?v=myiYm28-Gt4
Bukan cuma Gus Dur yang membela Prabowo. Tapi juga banyak tokoh lainnya seperti KH Said Aqil Siradj, Emha Ainun Najib, Aa Gm, Ratna Sarumpaet, tsb. Mereka lebih layak dipercaya daripada Allan Nairn. Silahkan lihat:
http://infoindonesiakita.com/2014/06/14/video-gus-dur-ratna-sarumpaet-dan-moenir-tentang-prabowo/
Gus Dur, Emha dan Korban 1998 Dukung Prabowo
http://infoindonesiakita.com/2014/05/15/gus-dur-emha-dan-korban-1998-dukung-prabowo/
Prestasi Prabowo Subianto
http://infoindonesiakita.com/2014/06/05/prestasi-prabowo-subianto/
Agus Nizami
Blogger Indonesia
“Apa saya cukup punya nyali,” tanya Prabowo, “apa saya siap jika disebut ‘diktator fasis’?”
News: “Do I have the guts,” Prabowo asked, “am I ready to be called a fascist dictator?”
http://www.allannairn.org/2014/06/news-do-i-have-guts-prabowo-asked-am-i.html

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)