كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Kamis, 26 Juni 2014

BUNG KARNO : JANGAN DENGARKAN ASING !!


BUNG KARNO : JANGAN DENGARKAN ASING !!

Saya tertegun ketika membaca catatan sejarah tentang Bung Karno yang dalam Pidatonya pada tahun 1957 saat ia melakukan aksi atas politik kedaulatan modal.

Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi,

"Elu ada, gue ada" kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat.

Dalam Pidatonya lagi Bung Karno berkata : "Jangan Dengarkan Asing !!", Kalimat inilah yang membuat saya menjadi tertarik membahasnya. Ini adalah sebuah kalimat yang cukup menarik dan sangat berbobot dari seorang Proklamator. Kalimat ini cukup berharga bagi generasi-genera

si penerus bangsa ini sebagai modal untuk menguatkan NKRI.

Pada tahun 1960, Sukarno membuat kebijakan yang menggemparkan perusahaan minyak asing, terutama kaum kapitalis yang didalangi Amerika dan sekutunya.

Saat itu Bung Karno memanggil Ir Djoeanda. Ir. Juanda diperintahkan untuk menyusun soal konsesi minyak. Soekarno berkata kepada Ir Juanda. "Kamu tau?, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini? soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak" jelas Sukarno di depan Ir. Djuanda.

Tak lama kemudian Ir.Djuanda menyusun surat yang kemudian ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960. isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National Corporation). "Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau perusahaan negara". Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno pun menjadi sasaran pembunuhan karakter dari kelompok mafia dan cukung-cukong yang paling diincar nomor satu di Asia. Tapi Sukarno tak takut, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya Sukarno berkata :

"Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya tetap jadi budak bagi asing, JANGAN DENGARKEN ASING, JANGAN MAU DICEKOKI KEYNES, INDONESIA UNTUK BANGSA INDONESIA..!!". Ketika laporan intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU No. 44 tahun 1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman Sukarno. Dan diam ketakutan.

Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell. Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama sebelum tahun 1960 disebut sebagai "Let Alone Agreement" yang memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan.

Para boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno "Undang-Undang itu aku buat untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa Indonesia" mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno namanya ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk kepada bule-bule itu Sukarno berkata dengan suara keras :"Aku kasih waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!" waktu itu ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina) menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex disuruh menyerahkan 53% hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan investasi jangka panjang pada Permina.

Bung Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang baru tumbuh. Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat di Asia.

Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional.

Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur modal itu diberi kode namanya sebagai 'Dana Revolusi Sukarno". Kelak empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai, Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek dengan menguasai saham Indosat.

Berangkat dari fakta sejarah ini ada beberapa poin yang bisa kita petik menjelang Pilpres mendatang. Apa kaitannya?.

Seandainya Bu Mega meresapi pesan Bung Karno ini, dan pesan "Jangan Dengarkan Asing" tadi mungkin Bu Mega akan berfikir seribu kali untuk mencalonkan Jokowi sebagai presiden Indonesia periode 2014-2019.

Kok gitu?? Karena saat Jokowi jadi walikota Solo, dia dipuji setinggi langit oleh sebuah lembaga di London sebagai walikota terbaik diseluruh dunia. Pujian yang sangat luar biasa tingginya. Disaat angka kemiskinan di Solo yang terus meningkat selama dipimpin Jokowi. Justru sang walikota dinobatkan sebagai walikota terbaik di dunia.

Tak hanya lembaga di London yang memuji-muji Jokowi, tetapi banyak lagi pihak asing lainnya yang turut memuji Jokowi. Diantaranya bebeapa duta besar dari Benua Amerika yang juga memuji sosok Jokowi dalam acara diplomatic corps gathering.

"Sangat populer, sangat berkarisma," ujar Duta Besar Cile untuk Indonesia Eduardo Ruiz Amusen di sela sesi foto pada akhir acara tersebut di Oasis Restaurant, Jakarta Pusat.

Sejumlah dubes lain tertawa mendengar ucapan Amusen soal Jokowi itu. Ada dubes yang bertepuk tangan. Jokowi hanya senyum-senyum mendapat komentar tersebut, dengan sesekali menggeleng-gelengkan kepala.

Lalu, ketika Jokowi serta sejumlah duta besar berjalan keluar restoran, Duta Besar Paraguay untuk Indonesia Cesar Esteban Grillon tiba-tiba berbalik badan menghadap para wartawan. Dia mengangkat kedua jempol tangan ke arah Jokowi yang berdiri di depannya.

"Dia baik, sangat baik. Pasti menang dia," ujar Grillon merujuk pada pengusungan Jokowi sebagai bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Inilah salah satu faktor mengapa Megawati memajukan Jokowi sebagai capres dari PDIP, bukan dirinya sendiri, atau anaknya atau yang lainnya. Inilah strategi politik yang di mainkan Megawati yang lebih 'menjual' figur Jokowi ketimbang program dan visi-misi. Dimana-mana PDIP hanya menjual slogan 'Jokowi merakyat', Jokowi blusukan, Jokowi pakaiannya murah, Jokowi ini, Jokowi itu, dst, dst..... bukan menawarkan Program. Itu sebabnya saat baru diusung, Jokowi belum punya program dan visi-misi apapun dan baru disusun kemudian.

Namun ada yang aneh dari perkataan megawati saat menyampaikan kepada Jokowi saat memutuskannya untuk maju sebagai capres dari PDIP.

Megawati berkata kepada Jokowi "Saya pesan ke Pak Jokowi, sampeyan tak jadikan capres. Tapi jangan lupa ingat capresnya saja, Anda adalah petugas partai yang harus melaksanakan apa yang ditugaskan partai," ucap Mega dalam pidatonya saat deklarasi koalisi PDIP, Partai Nasdem, dan PKB di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta.

Ini adalah pernyataan aneh. Silakan garis bawahi kalimat "Tapi jangan lupa ingat capresnya saja, Anda adalah petugas partai yang harus melaksanakan apa yang ditugaskan partai"

Mengamati pidato Mega ini Taslim Chaniago politisi PAN menilai, justru pernyataan tersebut menunjukkan kalau Jokowi merupakan presiden boneka Megawati.

"Kalau terpilih sebagai presiden Jokowi hanya jadi boneka Megawati dan PDIP saja. Itu artinya apa pun kebijakan Jokowi harus sesuai perintah Megawati. Jokowi tidak punya kewenangan saat memimpin negeri," kata Taslim.

Taslim juga menilai pernyataan Megawati tersebut menunjukkannya belum legowo menunjuk Jokowi sebagai capres PDIP. "Sepertinya Megawati tidak pede elektabilitasnya lebih rendah dibandingkan Jokowi. Megawati masih menganggap dirinya jadi presiden. Cuma badan saja yang tidak jadi presiden.

Saya menangkap, apa yang disampaikan Megawati itu membuktikan bahwa Megawati ingin menjadi presiden," ujarnya.

Padahal, lanjut Taslim, siapa pun presiden terpilih tidak boleh disetir. Kalau terpilih jadi presiden, Jokowi tidak boleh disetir oleh siapa pun. Temasuk partai yang mengusungnya.

Demi ambisinya Bu Mega tak peduli lagi dengan apa yang disampaikan Bung Karno sang Proklamator yang tak lain adalah Bapaknya sendiri. ia bersikap masa bodoh demi ambisi pribadinya. Dan akhirnya ia mencapreskan Jokowi demi kemenangan semu.

Dan anehnya para Relawan Jokowi-JK pun ikut menjadikan pujian-pujian Asing tadi sebagai bahan 'jualnya' dalam berkampanye.

Benar-benar bertolak belakang dari apa yang mereka lakukan dengan apa yang soekarno katakan. Jika Bung Karno mengatakan : "Jangan Dengarkan Asing !!", Kubu PDIP, Mega dan Jokowi justru berbangga-bangga dengan ucapan Asing.

Disisi lainnya untuk menyudutkan Prabowo lagi-lagi kubu Jokowi dan PDIP tak segan-segan mengambil rujukan dari asing, misalnya tentang isu pelanggaran HAM Prabowo, Prabowo yang di pandang miring oleh Amerika, salah satunya adalah berita bahwa Prabowo Subianto sebagai capres tak mendapat restu dari pihak Amerika Serikat sebagaimana yang diberitakan New York Times pada 26 Maret 2014.

Direktur Eksekutif Political Communication Institute (Polcomm), Heri Budianto menilai sikap AS yang tidak merestui Prabowo sebagai capres membuktikan campur tangan pihak asing khususnya AS, sangat kuat terhadap hasil Pilpres 2014.

Dengan adanya penolakan pihak AS tersebut, Heri yakin memberi berpengaruh terhadap langkah Prabowo di Pilpres 2014 ini.

"Tak direstui Prabowo jadi capres buktikan pengaruh AS di Indonesia kuat. Saya melihat apa yang diberitakan New York Times tersebut sebagai bentuk pengaruh yang kuat dari AS," jelas pengajar di Fisip Universias Mercu Buana ini.

Heri mengatakan, alasan AS tidak merestui Prabowo sebagai capres dikarenakan sikap dan karakteristiknya yang keras, tanpa kompromi. Ini jelas bertentangan dengan kepentingan AS di Indonesia.
"Itu bisa jadi sebagai alasan asing untuk menghambat, sebab Prabowo memiliki sikap tegas soal asing," katanya.

Mengikat ini semua, ada pesan lainnya dari Bung Karno yang patut untuk kita renungkan. Dalam suatu kesempatan Bung Karno berpesan sbb:

"Ingatlah... ingatlah... ingat pesanku lagi: Jika engkau mencari pemimpin, carilah yang dibenci, ditakuti atau dicacimaki asing, karena itu yang benar. Pemimpin tersebut akan membelamu di atas kepentingan asing itu.
Dan janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuji-puji asing, karena ia akan memperdayaimu."

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)