كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Senin, 30 Juni 2014

Widji Thukul, Semoga Kau Membaca Tulisan Ini



Oleh: Andi Arief


MELIHAT MetroTV berulang memperdagangkan kehilangan Widji Thukul dalam acara untuk memenangkan Jokowi dan statement Jokowi yang seolah-olah menyukai sajak-sajak Thukul dan meminta Thukul harus ditemukan, inilah saatnya saya saya akan berterus terang.

Saya akan menepati janji bercerita tentang Widji Thukul.

Sejak peristiwa 27 Juli 1996 kami kesulitan mencari dimana keberadaan penyair rakyat yang populer puisinya sampai ke jalan-jalan menjadi teriakan aktifis kiri, tengah sampai kanan yaitu: “hanya satu Kata lawan!”

Suatu saat di milis Apa Kabar yang waktu itu merupakan media yang tak lagi bisa dikontrol oleh Orde Baru, ada puisi Thukul yang memberi signal dia masih hidup. Pertengahan 1997 akhirnya kami mampu bertemu Thukul.

Setiap orang tidak sama dalam mengatasi represi, banyak kawan kami yang mundur, menghilang, ada yang terkena gangguan jiwa tapi mayoritas yang terkonsolidasi makin teguh iman perjuangannya. Mereka yakin peristiwa 27 Juli 1976 itu pertanda senjakala usia diktator Soeharto.

Laporan majalah Tempo tentang 2013 tentang Widji Thukul ada kekeliruan besar. Disebutkan Widji Thukul menempati kontrakan di Tanah Tinggi. Itu Keliru.

Widji Thukul bersama saya dan beberapa kawan berpindah-pindah di dua tempat. Pertama, di rumah susun Cawang, dan kedua di rumah susun Apron Kemayoran.

Thukul adalah obor bagi kami. Dia penyair yang tidak hanya menjadikan puisi sebagai bentuk perlawanan. Baginya berorganisasi adalah perlawanan sesungguhnya.

Dia aktif dalam aksi-aksi buruh.

Seperti juga Thukul, ada rekan kami Lukman yang juga bukan berbasis student tapi hasil dari pengorganisiran buruh, seorang buruh bergabung dan memipin perjuangan.

Thukul yang kembali bersama kami pertengahan 1997 adalah Thukul yang baru. Saya melihat dia mengalami perubahan besar.

Kalau dasarnya represi 1996, rasanya sulit bisa menjelaskan Thukul 1997 yang kehilangan spirit dan progresif.

Karena aktifitas progresif Thukul bertahun-tahun di berbagai kota dan demonstrasi tak mungkin dengan gampang mengubah dirinya menjadi sosok yang kehilangan spirit.

Thukul dalam setiap rapat dan diskusi tidak lagi bersemangat, bahkan saat akan pengambilan gambar pembacan puisinya yang akan dikirim ke pembukaan Kongres DSP di Australia, harus melakukan pengulangan berkali-kali karena Thukul bukan hanya tidak menjiwai tapi juga tak lagi hapal salah satu puisinya.

Perubahan yang terjadi pada dirinya membuat saya dan kawan-kawan tidak memberikan tugas berat pada Thukul untuk melakukan pengorganisiran di hampir 50 titik lebih di Jakarta yang kami lakukan.

Saat 1 dolar AS tembus Rp 18 ribu, Thukul kami tempatkan sebagai divisi penggandaan selebaran, majalah dan lain-lain.

Belum 24 jam rapat selesai, Thukul izin pada saya yang waktu itu memimpin untuk izin bertemu keluarganya yang menurut dia belum pernah disambangi sejak 27 Juli 1996.

Sejak itulah Thukul tidak pernah berkomunikasi lagi dengan organisasi.

Kemana Thukul setelah 27 juli 1996 sampai bertemu kami pertengahan 1997?

Dia bercerita pada saya (mungkin juga yang lain) bahwa dirinay ditampung oleh jaringan yang posisinya juga kontra terhadap Orde Baru.

Berpindah-pindah rumah dan berpindah-pindah propinsi, kata Thukul.

Kepergian Thukul pada 1997 itu jauh dari masa-masa penangkapan-penangkapan tertutup yang dilakukan sekitar Februari sampai Maret 1998.

Kami tidak tahu kemana Thukul sebenarnya.

Namun saya menjadi saksi sekitar dua bulan sejak saya dikeluarkan dari tahanan Polda Metro Jaya tahun 1998. Bertempat di coffee shop sebuah hotel di bilangan Cikini, saya bertemu Thukul sekitar 1 jam lamanya.

Saya senang karena artinya Thukul masih ada. Perlu diketahui Kontras dan Ikohi di awal-awal tidak memasukkan Thukul sebagai daftar orang hilang.

Lalu dimana Thukul? Saya yakin dia masih ada dan masih hidup. Entah di mana. Namun, saya masih menyimpan jelas nama yang disebut Thukul adalah nama Stanley, nama yang tak asing bagi dunia pers dan Tempo. Sampai saat ini saya belum pernah bertemu Stanley untuk menanyakan kabar itu. [***]

Andi Arief adalah mantan Ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), sempat ditangkap dan diamankan oleh Tim Mawar Kopassus. Kini bertugas sebagai Staf Khusus Presiden.


Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)