كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ PECINTA RASULULLAH.COM menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Kamis, 26 Juni 2014

Catatan pribadi seorang Ibu Rumah Tangga, Tasniem Fauzia 25 Juni 2014 Nijmegen, Belanda


Kalau kita setelah baca beberapa fakta ini masih berpikir "halaaaah bocar bocor bocar bocor, kayak pompa bocor!!" I must say, sepertinya ada yang salah dengan pola pikir kita kalo begitu.Pola pikir yang sudah terbiasa terjajah, sehingga hal-hal seperti ini pun tidak memberikan sedikitpun efek untuk berpikir tentang kemerdekaan kita.

1. Dari 1 juta barel minyak yang diproduksi per hari di Indonesia, hanya 70ribu barel yang diproduksi Pertamina, 75 ribu produksi Medco dan KPS Lokal, sisanya 855ribu barel per hari DI TANGAN PRODUSEN ASING.

2. 90% dari kontrak kerjasama produksi dikuasai asing.

3. Sektor pertambangan emas dan tembaga, 99% dikuasai oleh asing.
Contoh yang fenomenal yang bikin hati ini merintih : FREEPORT.
Ini adalah tambang mineral terbesar di Indonesia, yang menggerus 300ribu ton bijih per hari, sekaligus sudah menghancurkan 3 sungai besar dan laut Arafora.

Royalti yang diterima bangsa Indonesia coba tebak berapa?
HANYA 1-3.5% untuk konsentrat tembaga dan 1% fixed untuk emas dan perak.

Yang lebih gila lagi adalah iuran tetap untuk wilayah pertambangan hanya berkisar 250ribu rupiah per hektar per tahunnya. Jauh LEBIH RENDAH dibandingkan dengan harga sewa lahan sawah oleh petani penggarap termurah sekalipun.

4. Kebodohan bangsa Indonesia tidak hanya berhenti di sini saja. Menangis hati ini semakin membacanya dan membahasnya.

5. Wilayah-wilayah

migas kita yang sangat potensial telah jatuh ke asing. Contoh: Blok Cepu. Dengan cadangan minyak minimal 600 juta barel dan 2 trilyun kaki kubik gas, maka pada harga minyak 60 dolar per barel, dan gas 3 dollar per MMBTU, nilainya sekitar 387 trilyun rupiah.

6. Bayangkan jika seandainya saja Blok cepu ini tidak dikuasai oleh asing, bayangkan saja jika ini dikelola oleh Pertamina, dengan asumsi harga minyak 90 dolar per barel dan harga gas 15 dolar per MMBTU, Maka nilai Blok Cepu ini mencapai 576 trilyun rupiah. Bayangkan padahal tahun 2013 saja harga minyak sudah mencapai 105 dollar per barel. Sudah berapa ratus trilyun yang bisa kita amankan?

7. Lihat pula kontrak penjualan LNG Tangguh ke Fujian China sebesar 2,6 juta ton per tahun dengan harga 3,35 dolar per MMBTU selama 25 tahun yang sesungguhnya merugikan bangsa ini sekitar 350 trilyun rupiah.

8. Yang lebih menyayat hati kami lagi bangsa Indonesia, adalah kontrak bagi hasil Natuna Blok D-Alpha dengan porsi bagi hasil sebelum pajak: 100 PERSEN UNTUK EXXON MOBIL dan 0% untuk pemerintah Indonesia.

Ini artinya pemerintah sama sekali tidak mempunyai hak atas hasil produksi gas secara fisik, karena pemerintah hanya akan mendapatkan penerimaan dari pajak saja. Ini sangat bahaya, karna jaminan pasokan gas dalam negri dari Natuna Blok D-Aplha tidak ada sama sekali.

9. Inilah mengapa saat ini Indonesia sedang menangis. Ibu pertiwi kita sedang menangis. Inilah arti kebocoran yang dimaksud oleh Prabowo selama ini. Beliau bertahun-tahun berjuang untuk masalah ini, karna ini adalah inti masalah bangsa kita saat ini. Sudah berapa ribu trilyun rupiah bisa masuk ke cash negara, jika semua tadi bisa kita amankan. Dan uang segitu banyak adalah modal untuk menambah APBN yang defisit sekarang ini, supaya Indonesia bisa sejahtera.

10. Kita memang boleh bersedih, boleh menangis, tapi kita harus bangkit. Harus bangun dan optimis bahwa bangsa kita bisa kembali berdiri di atas kaki sendiri. Renegosiasi harus dilakukan Jakarta dengan para penguasa asing di negeri ini. Ini semua butuh kepiawaian, butuh skills, butuh kecerdasan juga dalam berkomunikasi. Dan tentunya butuh keberanian dan ketegasan.

Mari Indonesia, KITA HARUS BANGKIT!

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

Anda sopan kamipun segan :)